YAKUSA.ID — Diskusi sejarah bertajuk “Sumenep Ibu Nusantara” yang digelar di Tongkrongan KDS, Minggu malam (25/10/2026), mengangkat kembali peran historis Sumenep dalam perjalanan peradaban Nusantara.

Forum tersebut membahas keterkaitan sejarah Arya Wiraraja, lahirnya Kerajaan Majapahit, serta pertemuan nilai kebangsaan dan religiusitas dalam tradisi lokal.

Dalam diskusi itu, Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum., atau yang akrab disapa Ra Mamak, mengemukakan gagasan tentang Sumenep sebagai “Ibu Nusantara”.

Konsep tersebut tidak hanya memandang Sumenep sebagai wilayah geografis di ujung timur Pulau Madura, tetapi juga sebagai ruang historis dan filosofis yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan peradaban Nusantara.

Salah satu pendekatan yang dibahas ialah pemaknaan Sumenep sebagai cekungan atau lembah yang dianalogikan dengan rahim perempuan. Secara simbolis, rahim dipandang sebagai tempat kehidupan bermula, tumbuh, dan berkembang sebelum melahirkan kehidupan baru.

Melalui pendekatan tersebut, istilah “Ibu Nusantara” dimaknai sebagai metafora kebudayaan yang menggambarkan ruang persemaian gagasan dan kekuatan peradaban. Namun, pemaknaan etimologis dan geografis itu masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut melalui penelitian bahasa, sejarah, dan kebudayaan.

Jejak Arya Wiraraja dan Berdirinya Majapahit

Pembahasan berikutnya menyoroti peran Arya Wiraraja dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama keterkaitannya dengan berdirinya Majapahit.

Arya Wiraraja dikenal sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Singasari dan kemudian berperan di wilayah Madura. Dalam perkembangan sejarah berikutnya, ia turut membantu Raden Wijaya membangun kekuatan politik yang menjadi salah satu jalan menuju berdirinya Kerajaan Majapahit.

Peran tersebut menjadi salah satu pijakan untuk melihat keterkaitan Madura, termasuk Sumenep dalam narasi sejarah yang lebih luas. Kontribusi Arya Wiraraja dalam strategi politik dan dukungan terhadap Raden Wijaya dinilai penting untuk ditelusuri dalam memahami proses lahirnya kerajaan yang kemudian menjadi salah satu kekuatan besar di Nusantara.

Dalam kerangka gagasan “Sumenep Ibu Nusantara”, jejak Arya Wiraraja menjadi landasan historis untuk mendiskusikan posisi Sumenep yang tidak semata-mata dipandang sebagai wilayah pinggiran, tetapi juga memiliki hubungan dengan dinamika pembentukan kekuatan politik pada masa lampau.

Nasionalisme dan Religiusitas dalam Sejarah Lokal

Diskusi tersebut juga mengangkat narasi tentang Raden Ayu Rasmana Tirtanegara dan Bindara Saod sebagai bagian dari pembahasan mengenai pertemuan nilai kebangsaan dan religiusitas.

Dalam perspektif yang disampaikan, Raden Ayu Rasmana Tirtanegara digambarkan merepresentasikan idealisme kebangsaan, sedangkan Bindara Saod dikaitkan dengan nilai-nilai religius. Pertemuan keduanya dimaknai secara filosofis sebagai simbol perpaduan nasionalisme dan spiritualitas dalam membangun kehidupan masyarakat.

Perspektif tersebut menekankan bahwa peradaban tidak hanya dibentuk oleh kekuatan politik dan material, tetapi juga membutuhkan landasan moral, spiritual, serta kesadaran kebangsaan.

Meski demikian, penelusuran terhadap identitas tokoh, hubungan antartokoh, dan kronologi peristiwa tetap memerlukan penguatan melalui sumber sejarah, silsilah, dan tradisi lokal yang dapat diverifikasi secara akademis.

Dorong Kesadaran Sejarah dan Kebudayaan

Dari pembahasan tersebut, gagasan “Sumenep Ibu Nusantara” bertumpu pada tiga dimensi, yakni pemaknaan filosofis dan geografis, keterkaitan historis dengan peran Arya Wiraraja, serta perpaduan nilai sosial dan spiritual dalam tradisi masyarakat.

Ketiga dimensi itu menjadi pintu masuk untuk mengembangkan diskusi sejarah sebagai bagian dari gerakan kebudayaan. Gagasan tersebut sekaligus mendorong masyarakat untuk melihat kembali warisan keraton, tradisi, dan peninggalan sejarah Sumenep dalam konteks perjalanan peradaban Nusantara.

Forum diskusi itu diharapkan membuka ruang dialog berkelanjutan yang melibatkan ulama, budayawan, akademisi, generasi muda, dan masyarakat. Pengkajian lintas perspektif diperlukan agar narasi sejarah lokal dapat terus dikembangkan dengan tetap berpijak pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui upaya tersebut, sejarah tidak hanya menjadi sarana mengenang masa lalu, tetapi juga fondasi untuk memahami identitas budaya dan merumuskan arah masa depan Sumenep.