YAKUSA.ID — Setelah melalui perjalanan panjang selama empat tahun di bangku perkuliahan, Misbakhul Munir resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.) dengan menorehkan prestasi membanggakan sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Universitas Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura.
Predikat tersebut diraih dalam pergelaran Wisuda ke-XXVIII Universitas Annuqayah yang berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026, bertempat di Aula As-Syarqawi, Guluk-Guluk, Sumenep. Misbakhul berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK 3,92 sekaligus menjadi lulusan terbaik di tingkat program studi.
Perjalanan akademik Misbakhul terbilang menarik. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya tanpa melalui jalur skripsi, melainkan melalui jalur penulisan artikel ilmiah sesuai ketentuan akademik yang berlaku di Universitas Annuqayah.
Artikel ilmiahnya berjudul “Praktik Mark Up Harga oleh Kurir J&T Express Drop Point Batu’an pada Sistem Pembayaran Cash on Delivery dalam Jual Beli Online Perspektif Hukum Ekonomi Syari’ah” telah diterima untuk dipublikasikan dalam Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, Volume 13 Nomor 2 Tahun 2026.
Di tengah kesibukan akademik, Misbakhul juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengaderan. Ia merupakan mantan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Kecamatan Ganding dan saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua II PC IPNU Kabupaten Sumenep. Selain itu, ia juga aktif sebagai Sekretaris PIK-R Kecamatan Ganding.
Baginya, empat tahun masa perkuliahan bukan hanya perjalanan untuk memperoleh gelar akademik, melainkan ruang pembelajaran untuk membangun karakter, memperluas jaringan, mengembangkan kapasitas kepemimpinan, dan memperkuat kepekaan sosial.
“Bagi saya, organisasi dan akademik bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi. Organisasi mengajarkan saya tentang kepemimpinan, tanggung jawab, dan pengabdian, sementara dunia akademik membentuk cara berpikir, memperluas pengetahuan, serta melatih kedisiplinan. Keduanya memberikan pelajaran yang sangat berarti dalam perjalanan saya,” ungkap Misbakhul.
Ia juga mengungkapkan bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari doa dan dukungan berbagai pihak, terutama kedua orang tua, para guru, kiai, serta masyarakat di lingkungan sekitarnya.
“Nama saya memang yang dipanggil dalam prosesi wisuda, tetapi keberhasilan ini bukan hanya milik saya. Ada doa kedua orang tua, perjuangan keluarga, jasa para guru dan kiai, serta dukungan orang-orang baik di sekitar saya. Kebanggaan terbesar saya adalah akhirnya bisa mendengar nama kedua orang tua bergema di hari wisuda,” tuturnya.
Sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian tersebut, Misbakhul juga menggelar tasyakuran kelulusan bersama keluarga, kedua orang tua, para guru, kiai, dan masyarakat sekitar.
Ke depan, ia berharap gelar Sarjana Hukum yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk mengembangkan karier di bidang hukum sekaligus memperluas kontribusi dalam organisasi dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Justru, gelar sarjana menjadi awal dari tanggung jawab baru untuk mengamalkan ilmu dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Empat tahun berproses telah mengantarkannya pada sebuah pencapaian. Namun, bagi Misbakhul Munir, gelar sarjana bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal perjalanan untuk terus belajar, berjuang, dan mengabdi kepada masyarakat.






