Ikhlas Beramal, Celaan Terhadap Perbuatan Riya Dan Tidak Mencegah Kemungkaran

banner 468x60

Oleh: Hasanuddin

Imam Muslim Radhiallahu Anhu dalam Sahih-nya Tahrimi Ar-Riya’, Juz X, hlm. 443 mengeluarkan hadits yang terjemahannya sebagai berikut:

“Diceritakan oleh Zuhair bin Harb, diceritakan oleh Ismail bin Ibrahim, dikabarkan oleh Ruh bin Al-Qasim dari Al-‘Ala’ bin Abdurrahman bin Ya’qub, dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata: “Rasulullah Muhammad SAW bersabda: Allah berfirman: “Aku tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan amal perbuatan yang ia menyekutukan Aku di dalamnya dengan selain Aku, maka Aku akan tinggalkan ia beserta sekutunya itu”. (Hadits Qudsi)

Hadits ini juga di riwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya pada Bab: Ar-Riya’ Wa As-Sum’ah, juz II hlm. 285.

Imam Nawawi Rahimahullah, menjelaskan perihal hadits ini mengatakan bahwa amal orang yang berbuat ‘Riya’ tidak diterima dan tidak mendapatkan pahala, bahkan ia mendapatkan dosa karena ia tidak ikhlas. Ikhlas dalam beribadah adalah perintah Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

wa mā umirū illā liya‘budullāha mukhliṣīna lahud-dīna ḥunafā’a wa yuqīmuṣ-ṣalāta wa yu’tuz-zakāta wa żālika dīnul-qayyimah.

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” Q.S Al-Bayyinah [98] : 5

Sebagaimana yang disampaikan dari hadits di atas, bahwa “Aku (Allah) tidak membutuhkan sekutu”, maka menjadi jelaslah bahwa perihal ‘riya’, ini adalah perbuatan menyekutukan Allah. Atau syirik. Namun dikategorikan sebagai “syirik” yang tersembunyi, karena ia “dikemas” dalam suatu amal perbuatan yang secara lahiriah nampak seperti kebaikan. Misalnya sedekah atau pemberian yang dilakukan bukan untuk mengharapkan Ridha Allah, tapi misalnya agar ia yang memberi itu dipilih jadi Presiden, atau jadi Bupati, atau jadi Gubernur, dan seterusnya.

Hari-hari ini, kita banyak membaca ada yang bagi-bagi uang, bagi-bagi susu, bagi-bagi BLT, bagi-bagi pupuk, bagi-bagi makan siang gratis, bisa jadi karena sudah dekat masa pemilihan Presiden. Hal seperti itu tidak kita saksikan jika Pemilu telah usai. Bahkan secara terang-terangan yang membagikan menitipkan pesan kepada yang diberi bingkisan atau uang itu, agar memilih calon Presiden yang mereka dukung. Ada yang “berkedok Kiyai” membagi uang, ada para aparat desa membagi sembako, BLT dan seterusnya.

Maka mari kita waspada, karena semua itu adalah bentuk-bentuk perilaku kemusyrikan atau riya’.

Semoga Bangsa dan Negara kita tidak semakin terpuruk keadaannya karena tiadanya berkah yang Allah berikan atas massif nya perilaku kemusyrikan di tengah-tengah masyarakat kita.

Mari kita berdoa dan berikhtiar semoga Allah SWT menyelamatkan kita, senantiasa membimbing segenap aktifitas yang kita lakukan dengan menanamkan keikhlasan dalam diri kita setiap kali kita melakukan suatu amal perbuatan.

Kita jauhi calon-calon pemimpin yang mengajak kita kepada kemusyrikan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, dari Abu Hurairah Ra., ia berkata: “Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Pada akhir zaman akan muncul beberapa penguasa, mereka memperdayakan dunia dengan agama, mereka berpakaian kulit domba yang halus diperlihatkan pada umat manusia, mulut mereka lebih manis daripada gula, sedang hati mereka adalah hati serigala. Allah berfirman: “Karena Aku-kah mereka tertipu atau mereka terlalu berani kepada-KU? Aku bersumpah demi Dzat-KU, sungguh Aku akan mengirim kepada mereka sebuah fitnah yang membuat orang yang sabar/pandai diantara mereka menjadi bingung”. (Hadits Qudsi)

Mari kita mewaspadai orang-orang yang berbaju agama tapi terlibat melakukan money politik. Kami kira itulah contoh yang paling nyata yang dapat kita saksikan hari ini atas firman Allah SWT diatas.

Allahumma Shalli wasallim wabarik ala Sayyidina, wabibina, wa Maulana Muhammadin, wa ala Alihi wa ashabihi ajmaiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *