Lafran Pane; “Saya Lillahi Ta’ala untuk Indonesia”

banner 468x60

Oleh: Dr Maimun*)

Hari senin tanggal 05 Februari 2024 kemarin Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) merayakan Milad HMI yang ke-77 dengan melangsungkan pertunjukan khusus film LAFRAN di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan (Republika.co.id). Film LAFRAN merupakan kado terindah bagi HMI yang rencananya akan tayang di bioskop pada bulan Mei 2024 nanti. Film ini mengisahkan seorang tokoh, pahlawan nasional yang memiliki komitmen kuat hampir melebihi kemampuannya dalam memperjuangkan bangsa ini, Lafran Pane. Ia memprakarsai berdirinya HMI pada tahun 1947, organisasi mahasiswa yang saat ini dikenal sebagai salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Singkat cerita, tokoh yang dilahirkan di daerah Padang Sidempuan Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera ini Wafat di Yogyakarta pada tanggal 25 Januari 1991.

Usia meninggalnya yang sudah mencapai 34 tahun tidak lantas menjadikan amal baktinya untuk bangsa ini ikut terkubur bersama jasadnya. Selain kiprah HMI sebagai organisasi yang masih eksis dan melahirkan tokoh-tokoh besar di Indonesia bahkan dunia, bakti Lafran Pane masih terasa hidup melalui semangat juang para kadernya yang memiliki semangat juang yang sama, murni untuk bangsa dan Negara. Lebih dari itu, Film LAFRAN juga menjadikan hidupnya lebih hidup. Film ini memperlihatkan bahwa Lafran Pane seperti lagi merayakan isra’ mi’raj dalam kampanye pilpres 2024. Ia seolah tidak terima melihat Indonesia, Negara yang dari dulu ia perjuangkan, dalam keadaan yang tidak baik-baik saja (untuk tidak mengatakan buruk). Potongan perkataannya, “Saya Lillahi Ta’ala untuk Indonesia” menunjukkan ungkapan tulus seorang pejuang sejati. Nampak bahwa ia ikhlas tanpa berharap pamrih apapun apalagi keuntungan materi.

Ungkapan ini sesungguhnya mirip artinya dengan “saya jiwa dan raga bahkan nyawa untuk rakyat”, tapi bukan sebagai jualan yang ketulusannya hanya di bibir. Ungkapan ini bersumber dari hati dan terbawa dalam perilaku untuk sosial masyarakat, semangat yang menurut Kuntowijoyo merupakan paradigma sosial profetik. Pemimpin ideal, idealnya berdiri di atas semangat ini. Nilai yang diikhtiarkannya selaras dengan nilai-nilai profetik, semangat para nabi yang menunjukkan representasi nilai-nilai ketuhanan. Bisa dipastikan bahwa orang yang berangkat dari pemikiran waras dan mengedepankan akal sehat akan setuju dengan semangat ni, karena kata hati dan akal murni sesungguhnya berasal dari sumber yang sama.

Dalam konteks mimbar isra’ mi’raj kampanye pilpres tadi, ada beberapa pesan yang bisa ditafsir dari ungkapan Lafran Pane ini; pertama, seruan tulus ikhlas betul-betul karena pengabdian pada bangsa dan agama, dalam istilah islamnya Lillahi Ta’ala. Pengabdian pada bangsa memastikan perilaku pemimpin lebih mengedepankan kepentingan rakyat daripada golongan, keluarga dan diri sendiri. rakyat adalah segalanya dan rakyat adalah tujuannya. Adapun pengabdian pada agama memutlakkan moral sebagai dasar pijakan utama. Selalu ada Tuhan yang disadari menjadi pengawasnya. Mohammad Hatta mengembalikan keduanya pada dasar pancasila yang disebutnya tersusun dari dua fundamen; pertama yang berkaitan dengan moral, yaitu ketuhanan yang Maha Esa. Kedua, fundamen yang berkaitan dengan aspek kemanusiaan, persatuan Indonesia, demokrasi kerakyatan dan keadilan sosial.

Di dalam doa iftitah semangat lillahi ta’ala bahkan selalu kita baca berulang-ulang dalam tiap harinya bahwa “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim”. Doa ini bahkan memberi penegasan bahwa diakhir segala pengabdian ada sesuatu yang tida bisa terhindarkan, yaitu kematian yang sama-sama berada dalam ketentuanNya. Hal ini penting diingat bahwa sehebat apapun kita di dunia, pada akhirnya akan mati juga, dan pertangungjawaban akhirat jauh lebih berat dari penjara di dunia.

Kedua, seruan amar ma’ruf nahi mungkar dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini terlihat dari perjuangannya yang tidak kenal menyerah senantiasa menyerukan kebaikan dan persatuan umat dan bangsa, Islam dan Indonesia. Para kader biasanya menyebut semangat keislaman dan keindonesiaan. Keduanya selalu dijadikan semangat yang beriringan bersamaan sebagaimana saat ini masih bisa dibaca dalam materi perkaderan dan nilai-nilai dasar HMI.

Secara substantif, Amar ma’ruf nahi mungkar menjadi implikasi dari kemurnian salat yg menjadi kado istimewa perintah langsung dari Allah (saat isra’ mi’raj) untuk umat manusia. Salat perlu dijadikan tolak ukur. Pemimpin yangg baik adalah pemimpin yang salatnya baik, sebagaimana telah dicontohkan dalam pemilihan khalifah pasca wafatnya Rasulullah. Jatuhnya pilihan para sahabat pada Sayyidina Abu Bakar untuk menjadi khalifah berdasar pada pilihan aklamasi karena Sayyidina Abu Bakar merupakan satu-satunya sahabat yang pernah diijinkan menggantikan posisi Rasulullah sebagai imam salat.

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” dalam surah Al Ankabut Ayat 45 tegas menyatakannya bahwa salat itu membawa kebaikan bagi sosial masyarakat karena mampu menjauhkan mereka dari perbuatan keji dan mungkar. Negara manapun kalau sudah tidak ada kekejian dan kemungkaran pasti aman sejahtera.

Oleh karena itu, Ungkapan, “Saya Lillahi Ta’ala untuk Indonesia” bisa dikhidmati bersama, utamanya oleh para kontestan politik 2024, juga bagi para pendukungnya, lebih-lebih bagi alumni HMI sendiri. Semoga Indonesia Jaya dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala!

*Penulis merupakan Koordinator MR KAHMI IAIN Madura yang juga Kaprodi PAI Pascasarjana IAIN Madura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *