Perempuan pun bisa menjadi patriarki bagi perempuan lainnya

banner 468x60

Oleh: Ghita Ramadhayanti*

Perempuan hari ini bukan hanya melawan budaya patriarki yang timbul dari kesenjangan sosial, tapi juga berupaya melawan kaumnya yang artinya ia perempuan juga melawan dirinya sendiri. Tulisan ini bukan tulisan sentimentil semata. Tapi mencoba menelisik hal yang tidak terlihat dari gejala sosial yang ada.

Kalau penindasan terhadap perempuan karena budaya patriarki yang masih melekat, yang disorot hanyalah tindakan laki-laki yang diskriminatif terhadap perempuan, seperti, kekerasan seksual, pembagian upah yang tidak merata, faktor produksi yang mensubordinasi reproduksi sehingga para tokoh feminism masih mempunyai perbedaan pendapat.

Feminism radikal mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab dari penindasan perempuan. Feminism marxisme mengatakan bahwa selama masih ada kapitalisme, penindasan terhadap perempuan akan tetap selalu ada. Sedangkan feminisme sosialis berada diantara dua kutub ini, bahwa patriarki dan kapitalisme adalah penyebab dari penindasan perempuan. Dan masih banyak sekali paham-paham feminisme yang mencoba mencari kenapa perempuan selalu tertindas.

Yang perlu kita pahami bahwa ketertindasan perempuan tidak lahir secara alamiah atau karena kodrati, tapi dikarenakan pengaruh sosial atau pola pikir yang akhirnya menjadi budaya dan berujung pada tindakan yang visible atau terlihat. Itu selintas segenap keterwakilan masalah yang dirasakan oleh kaum perempuan.

Dalam hal ini, penulis ingin melihat perilaku yang telihat di sosial masyarakat yang sudah terjadi dan lama-kelamaan menjadi gerakan kolektif yang menjadi penyakit di dalam masyarakat. Sungguh malang nasib perempuan, belum usai dirinya melawan ketidakadilan yang ketika dia lahir ke kunia ini sudah mendapat perlakuan yang tidak setara terhadapnya.

Dikatakan bahwa laki-laki adalah penyebab utamanya, tapi hari ini perempuan harus melawan perempuan lain. Ada apa dengan pendapat bahwa perempuan dikerangkeng oleh kaumnya sendiri. Ini menjadi keresahan yang penulis amati ditengah sosial budaya hari ini.

Berangkat dari fakta bahwa tidak sedikit tindakan ini dipupuk dari usia dini atapun anak-anak, budaya bullying yang sering dialami oleh anak-anak baik dari tingkat SD, SMP, SMA dan dibangku perkuliahan. Perempuan juga didapati mengalami kekerasan yang dilakukan oleh perempuan lainnya, penyebabnya bisa dari segala faktor, mulai dari fisik, finansial, strata sosial, lawan jenis, dan juga banyak lainnya yang bisa diambil dan ditarik sebagai penyebab dari perilaku ini.

Hadirnya trend ibu-ibu sosialita, kaum-kaum fashionable, saya pikir menjadi bentuk dari apresiasi dan juga bentuk dari mengekspresikan diri dalam berbagai hal yang perempuan sukai. Tapi ujungnya ini menjadi perilaku yang saling menjenuhkan dan toxic seperti, saling menjatuhkan, seling menyudutkan, saling membicarakan satu sama lain, saling berkompetitif tapi akhirnya berujung kepada prilaku yang tidak produktif.

Sering sekali kita lihat fenomena yang umum seperti ibu-ibu yang berkumpul tidak lain membicarakan perempuan lain yang mereka rasa berbeda dari mereka, dimana harusnya sikap perempuan harus saling mendukung bukan?
Perilaku ini bahkan menjadi gerakan kolektif, atau berjamaah, tidak sering beberapa korban mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan bukan lagi dari laki-laki yang sering kita salahkan, tapi hari ini perempuan lain mendorong sesamanya untuk saling membenci, menabur asumsi-asumsi terhadap persoalan atau konflik yang mereka alami.

Bukan saling bertafahum satu sama lain, malah sebaliknya. Tidak kita pungkiri juga hadirnya paradigma bahwa perempuan sulit dimengerti, perempuan selalu benar muncul dari kaum laki-laki. Ini bisa kita nilai bahwa kita (perempuan) masih lemah dalam faktor emosional.

Tidak sedikit juga perempuan mendapatkan trauma dikarenakan perilaku yang hari ini terjadi, seperti mental health perempuan terganggu yang berdampak kepada psikologis mereka. Dan akhirnya menutup diri serta menghambat ruang gerak perempuan untuk berkembang.

Bagaimana perempuan bisa membuktikan baik itu dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan politik bahwa mereka juga bisa berpartisipasi aktif dalam hal itu, sedangkan persoalan internal sesama kaum perempuan saja kita masih saling menjatuhkan. Jadi, jangan salahkan kaum laki-laki yang mencoba melakukan diskriminasi kepada perempuan sedangkan kita perempuan juga melakukan hal yang sama kepada perempuan lain.

Bisa dilihat bahwa perilaku yang hadir hari ini karena kurangnya literasi perempuan dalam mengupgrade kapasitas diri dan kurang memahami kondisi dan hakikat dirinya sendiri. Terjadinya penindasan terhadap perempuan yang hari ini menjadi sorotan seperti kekerasan seksual, disebabkan karena perempuan hari ini kurang pengetahuan dan tidak memberikan asupan yang cukup untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya. Bukan berarti mengartikan bahwa yang salah adalah perempuan.

Artinya, perlu adanya kesepahaman antara perempuan dan laki-laki sehingga saling menghargai dan dan saling memahami, sebagai solusi dari masalah ini.

Kembali kepada keresahan, ada yang pernah menjadi korban atau pelaku dari yang mungkin membaca tulisan ini. Perempuan bisa menjadi patriarki bagi perempuan lainnya, bukan hanya perempuan dalam kerangkeng sosial yang sudah mengalami pasang surut, kini hadir perempuan dalam kerangkeng kaumnya sendiri dengan gejala sosial lainnya. Ini tentunya harus menjadi perhatian bersama bahwa tidak ada lagi yang namanya perempuan saling menjatuhkan satu sama lain, saling merendahkan satu sama lain.

Alangkah indah perempuan hadir dengan saling merangkul dan mengasihi. Ketika terjadi masalah pada seseorang perempuan, tidak mutlak anda bisa mendiskriminasi perempuan lainnya. Ketidakarifan sikap ini, bisa memicu masalah baru dan menjadi penyakit bila tidak dilawan.

Narasi ini hadir untuk mengembalikan kembali semangat saling mengasihi satu sama lain antar sesama perempuan, saling mendukung satu sama lain. Perempuan yang dominan dengan sisi feminimnya ini ketika terjadi masalah, bahu tempat pertama ia bercerita dan berkeluh kesah adalah bahu perempuan lainnya bukan lawan jenis.

Ini tentu menjadi perhatian sehingga kejadian-kejadian dari sisi sentimentil perempuan ini tidak disalahgunakan dan dianggap sebagai kelemahan oleh laki-laki atau menjadi penyebab terjadinya tindakan penindasan terhadap perempuan dari segi apapun.

Harapan yang paling besar bahwa perempuan bisa menjadi penerang dikala gelap, bisa menjadi payung dikala hujan. Bisa menjadi pohon besar tempat bersandar. Bisa menjadi penyejuk dikala terik. Bisa menjadi apapun bagi siapapun yang datang dengan hati terbuka dan tulus.

Konsep saling mengasihi ini sesungguhnya mesti dipupuk dan harus diinternalisasikan sejak dini, bagi yang akan menjadi ibu dikemudian hari, yang akan menjadi istri kelak nanti, ketika ia menjadi seorang anak dan juga dia hadir ditengah-tengah masyarakat. Sikap kompetitif dan ingin maju tentu harus dipupuk untuk menumbuhkan daya saing untuk diri pribadi, tapi terlalu dominan dan keluar dari control menjadi masalah baru bagi sesama perempuan.

Kemampuan dari segi EQ, IQ, dan SQ harus saling stabil, perempuan yang bijak adalah bisa dilihat dari sikapnya yang mampu mengkontrol dan stabil dari sisi intelektualitas, emosional, dan spritualitasnya, ini bisa menjadi filter terhadap hal-hal negatif yang ada, perempuan bisa menjadi stabilizer bagi dirinya sendiri. Gerekan perempuan dukung perempuan menjadi solusi dari keresahan yang terjadi, bukan lagi dilemahkan karena sisi sentimentilnya perempuan juga mampu hadir dengan segala potensi yang dimilikinya.

Perempuan jangan menjadi patriarki bagi perempuan lain, mungkin disatu sisi kontradiktif, bahwa budaya patriarki lekat dengan sifat kebapakannya atau keakuan laki-laki yang kian dominan yang artinya perempuan bisa melakukan kekerasan fisik kepada perempuan lain, lelaki juga bisa melakukan kekerasan seksual kepada perempuan.

Artinya siapapun menjadi patriarki, padahal dari sudut pandang lain laki-laki juga tidak bisa disalahkan dan juga tidak memiliki power atas realitas yang sudah terjadi bahkan dari dia lahir. Perempuan tidak menjadi zholim bagi perempuan lainnya, perempuan harus kokoh tidak hanya diluar tapi didalam harus tetap teguh dan saling menginspirasi satu sama lain.

*Penulis merupakan Ketua Umum KOHATI Badko Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *