Opini  

Tenggelamnya Idealisme Pemuda

banner 468x60

Oleh: Hasyim Kh *

Barangkali Eskalasi politik tahun 2024 mempengaruhi paradigma pemuda. Saya mendapatkan mimpi ada presiden mahasiswa memuji ide/gagasan dari bupati Sumenep tentang reaktivasi kereta. Menurut hemat Saya sudah tugas pemerintah untuk membuat terobosan baru dari gagasannya dan itu tidak perlu dipuji.

Lagi pula tugas dari pemuda bukan untuk memberikan pujian pada pemerintah. Tugas pemuda menjaga idealisme nya dan jangan masuk pada ruang kekuasaan/pemerintah. Mengingat perkataan Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”.

Apalagi dalam mimpi itu presma yang memuji, ini sangat memprihatinkan. Jika ingat pada Tri Dharma Perguruan tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Selama jadi mahasiswa lebih baik fokus pada akademik dan penelitiannya, kalau diperlukan turun langsung lakukan advokasi pada masyarakat sehingga bisa bermanfaat pada masyarakat, membuat masyarakat tercerahkan, mendengarkan keluhan dari masyarakat, bukan malah sebaliknya memuji pemerintah. Tapi No problem itu hanya sekedar mimpi bahwa ada pemuda yang memuji pemerintah, semoga tidak ditemukan dalam kehidupan nyata.

Upaya membedah politik new era perlu dilihat dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, apakah itu berpihak pada masyarakat luas (kepentingan umum), atau hanya sekedar menaikan image saja. Kebijakan nya perlu juga di uji oleh basis akademis, tinjau dari sisi ekonomi, diperlukan atau tidak oleh masyarakat, pembangunan, dan terpenting dari environmental ethics. Tentu level kebijakan ada skala prioritas didahulukan, tidak hanya soal digunakan untuk mendapatkan kepentingan belaka.

Soal upaya membedah tersebut bisa dilakukan oleh pemuda yang berkesempatan menjadi mahasiswa, mereguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan, memiliki ke runutan berfikir, ketajaman analisa, dan keberpihakan pada masyarakat yang termarjinalkan.

Lagu Darah Juang menggugah itu semua
“Di Negeri Permai ini berjuta rakyat bersimbah ruah, anak buruh tak sekolah,
Pemuda desa tak kerja”.

Konteks politik bagi pemuda perlu dimaknai sebagai pendidikan Demokrasi, jangan ikut ambil bagian kampanye hitam. Apalagi ujuk-ujuk mendukung bupati Sumenep ke arah lebih tinggi provinsi Jawa Timur, masih banyak segudang problem di Sumenep perlu diatasi dan dibenahi. Pendidikan, kesehatan, pertanian, yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan ketahanan hidup masyarakat Sumenep.

Apakah betul idealisme pemuda sudah tenggelam?. Saya Kira tidak, ada harapan yang hanya bisa diwujudkan oleh pemuda, responsibility pemuda mengkritisi kebijakan pemerintah, kecerdasan intelektual untuk membuat terobosan baru dari segala lini yang berangkat dari pemahaman jurusannya masing-masing selama menempuh di perguruan tinggi menjadi mahasiswa.

Optimis gerakan menuju kemakmuran, Konsep-konsep yang ditawarkan akan membuat masyarakat dimasa depan sejahtera, itu merupakan harapan besar yang harus diwujudkan oleh pemuda. Pemuda merupakan penggerak perubahan menuju masyarakat adil makmur.

* Penulis adalah Direktur Lembaga Hukum Gagas Nusantara & Pimpinan SKM Cabang Sumenep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *