14 Juni 2021

Alam Yang Terkembang

Ilustrasi (foto compasnia.com)

Oleh : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)

Terkulum senyum samudera memecah benua
Tergambar jelas gradasi di ujung senja
Tampak awan tumpah dari sela-sela langit yang membahana
Pesona yang dihidangkan oleh semesta cukup bertahta
Menaburkan aksara menyesakkan angkasa
Ingin tetap mendekap semesta agar keindahannya tidak berkelana
Tapi guratan takdir melukis agar ia terus mengembara
Hingga setiap hari silih berganti menyuguhkan cerita penuh warna

Surya membenamkan diri kedasar laut yang tidak pernah surut
Merebahkan dan menghilang diantara menjulangnya bukit-bukit yang berurut
Lalu bulan tampak mengintip dengan malu dari sebalik ranting-ranting yang selalu kusut
Suara binatang malam terus bernyanyi saling bersaut-saut
Angin menyentuh penduduk bumi dengan kasih yang dirajut

Bintang gemintang bergemerlapan bertabur di sediap sudut langit
Awan segera menepi untuk tidak bergelantungan dibawah kolong-kolong langit
itu hanyalah persembahan cinta agar purnama tidak terlihat sedang sakit
Dan tidak ingin dicap oleh penikmat kesunyian sebagai parasit
Dengan panorama yang dikembangkan hati dan mata semakin terakit

Itulah keindahan alam yang terbentang
Menghidangkan renungan untuk manusia akan kekuasaan Tuhan yang terkembang
Itulah nikmat alam yang tawadhu tidak menantang
Selalu tenunlah damai antara manusia dan alam agar tidak pecah perang

Dariku titipan surat untuk nurani penikmat alam.

Pekanbaru, 27 April 2020