10 April 2021

Ambivalensi Kader HMI

Penulis : Junaidi SH MH (Dosen Hukum Pidana Universitas Djuanda, Bogor, Sekretaris Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumatera Utara Priode 1992-1994.)

Belum lama ini, baru kemarin, kader-kader HMI se-Indonesia, termasuk para kader HMI di hampir semua WA Grup dan Medsos serta media lainnya, menyanjung dan memuji setinggi langit Artidjo Alkostar. Almarhum adalah pejuang hukum mantan Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI, yang sangat ditakuti oleh para koruptor. Artidjo dikenal keras dan tidak kenal kompromi menghukum para koruptor yang menggangsir uang negara.

Artidjo dipuji setinggi langit, seolah malaikat pencabut nyawa yang berkebalikan dengan para koruptor yang dihukumnya, hingga seolah-olah koruptor tersebut adalah penjahat keji yang semena-mena merampok uang negara.

Artidjo Alkostar adalah karakter pahlawan, idola dan panutan tanpa dosa sedangkan para koruptor adalah bajingan yang harus sepatutnya dihabisi. Demikian publik terutama alumni HMI riuh gemuruh melontarkan puja puji bagi Artidjo yang kebetulan juga pernah tercatat sebagai kader HMI Cabang Jogjakarta pada masanya itu.

Namun hari-hari ini, berkebalikan dengan itu bahkan terasa ambivalen. Kader-kader HMI dimanapun mereka berada, melontarkan puja puji dan kata sanjungan yang tidak kalah pula dari sebelumnya terhadap seseorang yang berlawanan sikap dan posisinya dengan Artidjo itu.

Objek puja puji dan sanjungan itu bernama Anas Urbaningrum (AU). AU kini yang dipuja puji dan disanjung seolah bayi yang tidak berdosa. Yang masuk penjara karena korban rekayasa politik tingkat tinggi. AU sebagai victim player dominan jadi puja puji disini.

Semua orang dengan tanpa sadar telah menggunakan teori konspirasi, yang menggambarkan seolah-olah AU adalah politisi bersih yang dijebloskan ke penjara, karena tidak melakukan apa-apa, selain karena dia membangkang pada SBY presiden RI saat itu. Sehingga karenanya AU kemudian dizhalimi SBY, dengan cara dicopot dari kursi ketum Partai Demokrat (PD) kemudian di-Sukamiskinkan.

Para penyanjung AU ini lupa, bahwa posisi AU saat itu adalah seorang Ketua Umum PD yang terpilih karena menggunakan politik uang, yang celakanya uang tersebut diperoleh dari korupsi proyek proyek negara di Kementerian Olahraga, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama dan lain-lain bersama dengan gurita mega korupsi Nazaruddin, Bendahara Umumnya di PD, yang mengharubiru perpolitikan negara saat itu. Fakta ini secara gamblang terungkap dalam persidangan-persidangan AU, Nazarudin dan konco-konconya.

Kader-kader HMI kita mungkin banyak yang tiba-tiba seolah amnesia soal ini, mengira bahwa AU masihlah Ketua Umum PB HMI, yang humanis, bertutur ramah dan santun, smart dan orator yang mumpuni. Mereka menutup mata, bahwa karakter AU yang biasa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.

Sejak dini hal itu malah telah dipertontonkan AU dalam keterpilihannya saat Kongres HMI dulu. Pelaku kongres HMI saat itu, kalau mau jujur pastilah tidak membantah informasi yang terakhir ini.

Karena itu, jika AU adalah tumbal politik Cikeas seperti yang didengungkan, berarti kita setuju pula untuk mengatakan bahwa orang yang telah menjebloskan AU adalah bagian atau antek-antek dari Cikeas. Dan antek-antek Cikeas itu antara lain, walau bukan satu-satunya adalah Artidjo Alkostar. Jangan lupa, beliau ini dalam teori konspirasi yang didengungkan tersebut, bukan hanya antek. Tapi bisa dikatakan adalah monster bagi AU.

Artidjo adalah antek Cikeas yang membuat AU hampir terbenam lebih dalam, karena menghadiahi AU hukuman penjara 14 tahun. Padahal antek-antek Cikeas lain, yakni hakim pengadilan Tipikor hanya menghukum AU 8 tahun. Syukurlah, pada saat AU mengajukan PK, Artidjo sudah pensiun. Kalau tidak, AU mungkin masih akan mendekam sampai 2025. Tidak seperti sekarang AU konon akan bebas tahun depan.

Setelah mencerna tulisan di atas, timbul pertanyaan :

Masihkah Anda menganggap Artidjo malaikat dan AU koruptor yang menyengsarakan rakyat? Sebab kemarin Anda telah memuja muji Artidjo terlampau tinggi. Atau Artidjo malahan adalah monster antek Cikeas yang telah menzhalimi AU pahlawan Anda, sebab kini Anda memuja muji dia dan menurut Anda, dia tumbal politik Cikeas saja?

Semua pilihan terpulang pada Anda, bagaimanapun keadaan Anda. Perlu saya kasih ingat, bersikap adillah.

Anda harus percaya bahwa sikap rakus dan tamak, tidak malu dan kurang bersyukur adalah ciri orang yang melakukan korupsi. Korupsi terbukti dapat membawa kemelaratan buat masa depan anak-anak kita. Karena itu jangan bersikap permisif terhadap tindakan korupsi: tiba di badan dilapangkan, tiba di perut dikencangkan.

Hemat saya, sikap yang Anda ambil seharusnya independent. Dalam salah satu tafsir HMI, independen itu berarti tidak berpihak. Jikapun harus berpihak, maka kader HMI mestilah berpihak pada KEBENARAN.

*Artikel ini sebelumnya sudah tayang di Mudanews.com