28 Juli 2021

Bakornas LAPMI PB HMI Sukses Gelar Diskusi Penangkalan Radikalisme

YAKUSA.ID – Pengurus Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Bakornas LAPMI) PB HMI semarakkan hari kebebasan pers dengan menggelar diskusi secara online. Diskusi yang mengangkat tema ‘Peran Pemerintah Dalam Upaya Penangkalan Radikalisme Generasi Milenial Melalui Media Sosial’ Pada Selasa (04/05/2021) kemarin.

Kegiatan yang dipandu Siti, Dirut LAPMI Cabang Tangerang menghadirkan Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid, Akademisi & Pengurus FKDM Provinsi Jawa Barat, Teddy Khumaedi, S.Sos. I M.Ag, Serta Perwakilan Bakornas LAPMI PB HMI, Aru Prayogi. Diskusi menarik ini berjalan selama 120 menit dengan puluhan peserta dari sejumlah Perguruan Tinggi dan Kader HMI Se-Indonesia antusias mengikuti rangkaian kegiatan diskusi hingga usai.

Dalam pemaparannya, Teddy Khumaedi, S.Sos.I M.Ag menilai, paham radikalisme sering terjadi di era milenial, radikal dalam konteks keagamaan yang benar sebenarnya dibolehkan, tetapi ketika konteks radikalisme itu sudah menyimpang dapat merugikan orang banyak.

“Sebelumnya beberapa tahun kebelakang radikalisme banyak menghiasi layar-layar kaca di Indonesia. Adapun dampak negatifnya terhadap suatu golongan agama tertentu yang jelas-jelas merusak citra nya, dimana yang notabene pada hakekatnya kenyataan penganut agama tersebut tidak melakukan tindakan-tindakan radikalisme yang itu dilakukan oleh oknum-oknum tertentu,” sampainya.

Hal senada dijelaskan Brigjen Pol. Ahmad Nurwakhid selaku pembicara kedua. Menurutnya, Konsistensi penerapan sistem ekonomi dan demokrasi pancasila yang haqiqi, merupakan prasyarat stabilitas dan terwujudnya cita-cita maupun tujuan rasional bangsa Indonesia.

“Pancasila ini merupakan karya jenius anak bangsa, oleh para founding father kita, tokoh bangsa, tokoh ulama kita, tokoh nasional yang merumuskan memformulasikan tidak hanya mendasari kepada substansi budaya maupun kearifan luhur indonesia, tetapi juga substansi agama dan lebih dari pada itu, terutama para ulama dalam memformulasikan pancasila tidak mendasari saja dengan kemampuan kognisi, tapi kemampuan itu dari spiritualitas para ulama,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, anak milenial umur 20-39 menjadi sasaran utama kaum radikal untuk menjadi bagian dari paham radikalisme.

“Jelas ini ada beberapa alasan karena anak muda masih mempunyai militansi nya yang tinggi, girohnya tinggi, senang mencari tantangan, sehingga masih labil emosionalnya. Sehingga inilah yang bahaya sekali untuk kaum milenial dapat terpapar paham radikalisme,” tambahnya.

Disisi lain, Aru Prayogi selaku Direktur Bakornas LAPMI PB HMI, berpandangan dalam perspektif media pada hari ini terdapat kesulitan mengakses untuk narasumber pihak aparat penegak hukum serta pelaku terorisme itu sendiri, mengakibatkan frame pemberitaan memiliki potensi bias.

“Kesulitan dari media hari ini dalam menyampaikan informasi terkait radikalisme ataupun terorisme itu terbatas. mungkin terbatas, karena ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi nya, baik dari instansi pemerintahannya dalam hal ini Aparat TNI & POLRI,” Terang Aru.

Aru pun berharap hasil diskusi ini dapat di ditularkan dilingkungan agar paham radikaslisme dapat di cegah dari banyak hal.

“Semoga dengan diadakannya diskusi ini dapat memberikan rekomendasi dan gagasan baru dilingkungan tentang bagaimana peran milenial dalam menangkal radikalisme zalah satunya melalui media sosial,” pungkasnya.

Kontributor : Rizky Maulana

Editor : Taufik