3 Agustus 2021

Bapak Pulang

Oleh: Mafidha Laila Hanum (HMI Cabang Surabaya Komisariat Tarbiyah Sunan Ampel)

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara laki-laki dari bilik pintu.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Irma dari dalam rumah. Piring berisi nasi berlauk garam segera diletakkannya di bibir kursi yang sudah reot, ia pun beranjak membukakan pintu.

Ketika pintu terkuak, betapa kagetnya Irma, bahagia bukan kepalang, karena seseorang yang selama ini dirindukannya, yang beberapa tahun dinantikan kedatangannya, kini ia berada di hadapannya. Ya, ia adalah Sang Bapak. Bapak yang kurang lebih tiga tahun tak pernah pulang, menghabiskan hari-harinya di pelabuhan. Bukan karena tak sayang, memang ada tanggungjawab yang harus diemban.

Tanpa bisa berkata apa-apa, Irma langsung mencium punggung tangan bapaknya. Punggung tangan yang hitam karena sengatan matahari setiap hari, punggung tangan yang keras karena berbenturan dengan barang-barang berat. Begitulah rutinitas Sang Bapak, seorang kuli panggul yang bermodalkan tenaga mengangkat barang keluar masuk kapal. Keduanya pun segera masuk ke dalam rumah.

“Ibuk kemana Ir?” tanya bapak sembari meletakkan tas usang berisi beberapa pakaian.
“Masih keliling, Pak, mungkin nanti menjelang maghrib baru pulang,” jawab Irma sambil mengais kembali piring yang tadi diletakkannya.
“Oh ya sudah, Bapak mandi dulu ya,” bapak pun berpamitan.

Irma yang masih mengunyah makanan hanya menganggukkan kepala, tanda mengiyakan.

Saat itu, Irma sendirian di rumah. Ibuk dan adiknya yang masih berusia tiga tahun sedang berkeliling dari desa satu ke desa yang lain, berjalan dari kecamatan satu ke kecamatan yang lain untuk menjajakan beberapa perabotan seperti panci, dandang, timba, dan lain-lain. Ketiga kakaknya, Mas Juki, Mas Pri dan Mbak Yati belum pulang dari rumah Abah Sumarno, tempat mereka bekerja. Sementara Mbak Ifa dan Mbak Ratih masih di sawah mencari sisa-sisa jagung yang selesai dipanen.

Seperti itulah aktivitas sehari-hari keluarga Irma. Bekerja seadanya demi mendapatkan sesuatu yang bisa mengisi perutnya. Maklum lah, saat itu, tahun 60-an, kondisi perekonomian sedang limbung, laju inflasi tak bisa dibendung, harga-harga barang pun semakin melambung. Bisa menikmati nasi dengan lauk garam saja sudah sangat beruntung.

Hari semakin gelap. Sang surya mulai menenggelamkan badannya, kembali ke peraduan.

“Lho, Bapak mau kemana?” tanya Irma ketika melihat bapaknya yang hendak keluar rumah membawa kantong kresek.
“Mau ke kebun Nduk, cari singkong untuk makan nanti malam,” jawab bapak.

Meskipun pulang, bapak tidak membawa uang begitu banyak, karena memang upah yang didapatnya hanya sedikit dan hanya cukup digunakan untuk membayar hutang selama tiga tahun, ketika bapak tidak pulang. Wajar saja, dulu belum ada ATM untuk mentransfer.

“Ndak usah Pak, biar Irma saja. Bapak kan baru saja sampai, pasti lelah. Lagi pula langit terlihat gelap, mungkin akan hujan, Pak,” Irma mencoba mengurungkan niat bapaknya.
“Ndak papa, biar bapak saja. Badan bapak malah sakit semua kalau hanya diam, duduk, apalagi tiduran,” jawab bapak mempertahankan keinginannya.
“Baiklah kalau begitu, hati-hati ya, Pak,” Irma pun tak bisa membantah keinginan bapaknya. Pasrah. Walau rasa kasihan, takut, cemas, khawatir, semuanya bercampur menjadi satu, memenuhi rongga dadanya.

Adzan Isya’ berkumandang. Bapak belum juga kembali dari kebun.

Ibuk yang belum sempat bertemu bapak karena beliau baru pulang ketika bapak sudah berangkat ke kebun, menyuruh Irma menjemputnya. Dan ia pun segera ke kebun dengan membawa lampu semprong kecil sebagai penerangan.

Jarak rumah dengan kebun memang tak terlalu jauh, sehingga kurang lebih sepuluh menit Irma sudah sampai di sana.

Sesampainya di sana, Irma bingung, ia tak mendengar suara apapun, hening. Gerak-gerik orang pun tak terlihat olehnya. Ia cemas, takut. “Ya Allah, bapak kok tidak ada? Ia kemana?” pekiknya dalam hati.

Beberapa jenak kemudian. “Irma, Nduk!”

Irma terperanjat ketika mendengar suara parau memanggil namanya. Pelan. “Bapak!” teriaknya sambil berlari menuju pohon mangga besar, tempat suara itu berasal.

Betapa terkejutnya Irma ketika melihat bapaknya tersandar lemah di pohon mangga besar, dengan luka-luka di bagian pelipis, kaki dan tangannya.

“Ya Allah, bapak kenapa? Kok bisa seperti ini?” tanya Irma dengan nada tersendat-sendat, menahan tangis.
“Bapak habis terpeleset Nduk,” jawabnya singkat sambil memejamkan mata, pertanda rasa sakit.

Tanpa berpikir panjang, langsung saja tangan bapak diletakkan di bahunya. Dibopohnya sang bapak yang sudah lemas sampai di rumah.

Sesampainya di rumah, ibuk pun tak kalah terkejutnya. Bagaimana tidak, beberapa tahun tidak bertemu, lalu dipertemukan dalam moment yang tidak menyenangkan. Menyakitkan bukan?

“Ir, buatkan teh panas untuk bapakmu ya, biar Ibuk yang membersihkan luka-lukanya,” pinta ibuk kepada Irma.
“Iya Buk,” jawab Irma sembari melangkahkan kakinya yang gemetaran.

Dalam hitungan menit, teh pun sudah jadi dan segera diminum oleh bapak. Hanya itu yang bisa dilakukan. Maklum saja, di zaman itu masih belum ada obat semacam betadine untuk menyembuhkan luka, atau asam mefenamat sebagai pereda sakit.

Keesokan harinya, keadaan bapak belum juga membaik. Malah badannya semakin panas dan menggigil luar biasa, ditambah rasa ingin muntah.

Melihat kondisi bapak seperti itu, ibuk memutuskan untuk tidak berjualan hari ini. Ia lebih memilih menunggu suaminya yang seumur hidup hanya bisa bersama beberapa kali saja. Pekerjaan sang bapak memaksa mereka hidup di lembah perpisahan.

“Ir, pergilah ke rumah Mak Ijah, pinjamlah surbulus untuk mengobati bapakmu,” perintah Ibuk pada Irma.
“Baik Buk,” jawab Irma sambil bergegas melangkahkan kakinya.

Surbulus merupakan obat tradisional di daerah tempat tinggal Irma. Surbulus adalah kulit bulus, hewan sejenis kura-kura. Hanya mereka yang tergolong kaya yang bisa memilikinya. Dan apabila ada seseorang yang membutuhkan, maka surbulus itu bisa dipinjam karena ia tak habis sekali pakai. Cara pemakaiannya cukup direbus dengan air, lalu air itu diminumkan ke orang yang sakit.

Kurang lebih satu jam, akhirnya Irma pulang dengan membawa surbulus. Rumah Mak Ijah memang lumayan jauh, harus melewati persawahan yang cukup panjang dan jalan yang bergelombang. Tentu memakan waktu cukup lama, apalagi perjalanan itu ditempuhnya dengan berjalan kaki. Mungkin rasanya sangat lelah, tapi karena mengingat sang bapak yang tergeletak tak berdaya, tubuhnya seperti mati rasa. Hanya kekhawatiran yang menggelayuti jiwanya.

“Assalamu’alaikum. Ini Buk surbulusnya,” Irma memberikan kresek berisi obat itu kepada ibuknya yang sedari tadi menunggu di teras rumah.

Tanpa berkata apa-apa, ibuk segera masuk ke dalam rumah untuk merebusnya.

Setelah hampir setengah jam, air rebusan surbulus sudah siap diseduh. Ibuk pun membawakannya ke bapak disertai serangkaian do’a berisi kesembuhan.

“Pak, bangun, Pak. Ini diminum obatnya,” pinta ibuk kepada bapak yang memejamkan mata. Mungkin bapak ketiduran.
“Pak, bangun dulu Pak, ini mumpung masih hangat. Ndak enak nanti kalau sudah dingin,” pinta ibuk yang kedua kalinya. Kali ini disertai sedikit kekhawatiran.
“Pak, Bapak, ayo bangun dulu, Pak,” Ibuk mengeraskan suaranya. Namun bapak tetap diam dengan mata terpejam.

Tangan ibuk gemetaran. Kecemasan menyelimuti perasaannya. Ia pun memanggil Irma yang sedang mencuci baju di sumur belakang rumah.

“Irma, kesini Nduk,” teriak ibuk dari dalam kamar.

Irma segera membersihkan tangannya, meninggalkan cuciannya dan masuk ke dalam rumah.

“Nduk, bapakmu sudah ndak bisa bangun,” suara ibuk tersendat-sendat.
“Ibuk jangan becanda ya, mungkin Bapak keenakan tidur,” Irma mencoba menghibur ibuknya.
“Ndak Ir, bapak sudah pergi, pergi meninggalkan kita semua,” jawab Ibuk disertai air mata yang mulai menetes di pipi keriputnya.

Ya, sang bapak meninggal dunia. Di zaman ini, mungkin penyakit bapak disebut sebagai sleep apnea, atau mungkin serangan jantung, dua jenis penyakit yang merenggut nyawa seketika. Namun, saat itu dunia medis masih sangat sederhana, sehingga tak diketahui apa jenis penyakitnya. Dikira hanya masuk angin biasa.

Irma hanya terdiam, membisu menatap sang bapak yang kini terbujur kaku di hadapannya. Air matanya pun tak bisa terbendung. Mengalir deras membanjiri wajah lusuhnya. Kemarin, kepulangan bapak membawa kebahagiaan. Dan hari ini, bapak pulang lagi, dengan meninggalkan sejuta penyesalan menyakitkan, lantaran segala perjuangan yang belum terbalaskan. Terimakasih Bapak.

(Untuk kakekku tercinta, Alm. Juma Jaya, seorang perjaka asal Bone yang merantau ke tanah Jawa)