16 Oktober 2021

BEM UI, Idealisme dan Kebebasan Berekspresi

Oleh: Abdul Hamid Al-mansury (Pengurus BPL PB HMI)

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda” – Tan Malaka

Mungkin kata-kata bijak dari Tan Malaka itulah yang bisa mewakili semangat pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI). Dimana mereka merindukan keadilan, kemerdekaan, kebebasan, hilangnya korupsi, musnahnya penindasan dan sebagainya. Itulah idealisme mereka. Hadirnya teknologi informasi yang semakin canggih, idealisme itu mereka ekspresikan melalui media sosial bukan dengan aksi demonstrasi dan tentu tanpa perlakuan represi oleh pihak polisi. Meskipun, sungguh disayangkan media sosial milik beberapa pengurus BEM UI diretas oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Ekspresi mereka di media sosial, terutama di twitter, menjadi viral karena cuitan “Jokowi: The King of Lip Service” yang diunggah oleh akun twitter @BEMUI_Official milik BEM UI. Per hari Selasa (29/6) jam 23.23 WIB cuitan tersebut ditanggapi warganet dengan retweet sebanyak 26 ribu, 2.928 komentar dan mendapatkan 54 ribu like (suka).

Menurut penjelasan ketua BEM UI, Leon Alvinda Putra, julukan tersebut yang dialamatkan kepada orang nomor satu di republik ini bahwa presiden Jokowi seringkali memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak sesuai dengan realita di lapangan. Dia mencontohkan pernyataan Jokowi yang mengatakan rindu di demo, namun kenyataan ketika aksi 1 Mei (hari buruh) di depan Istana banyak mahasiswa yang direpresi oleh pihak kepolisian dan bahkan ada yang dijadikan sebagai tersangka.

Api idealisme tersebut terus berkobar. Meskipun mereka telah dipanggil oleh pihak rektorat UI, mereka berjanji tidak akan menghapus unggahannya. Bahkan akun twitter tersebut masih melanjutkan cuitannya dengan mengkritik UU ITE, UU KPK, Omnibus Law UU Cipta Kerja hingga Pimpinan KPK Firli Bahuri yang semuanya lengkap dengan daftar pustaka atau referensinya.

Tidak hanya warganet, banyak tokoh-tokoh di republik ini menanggapi cuitan BEM UI baik melaui media sosial maupun media massa. Seperti ekonom Faisal Basri yang sangat mendukung penuh Leon dkk, sedangkan seorang dosen UI Ade Armando hanya sebatas menghormati kebebasan berekspresi tapi dengan pandangan sinis bahwa kritik yang dilontarkan oleh BEM UI tidak substansial, ia pun tidak menjelaskan dimana yang tidak substansial dan harus seperti apa yang substansial. Kritikan BEM UI kepada pemerintah itu lengkap dengan referensinya. Artinya, pengurus BEM UI melakukan kajian dan riset secara mendalam sebelum dilemparkan ke media sosial dan bisa dipastikan kritikan itu memiliki substansi yang jelas.

Disisi lain, dalam wawancara di televisi swasta nasional tenaga ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin menanggapi kritikan tersebut tidak ada manfaatnya. Ia beralasan bahwa Pak Jokowi berkonsentrasi mengatasi situasi nasional yang saat ini Indonesia mengalami pandemi covid-19 dengan varian barunya. Tetapi, bukankah kasus korupsi, pelemahan KPK, PHK buruh dan lain sebagainya malah marak terjadi disaat pandemi covid-19?.

Yang ingin saya katakan disini bahwa peretasan akun media sosial milik pengurus BEM UI serta menganggap kritikan tersebut tidak substansial dan tidak ada manfaatnya, itu sama halnya dengan memasung kebebasan berekspresi di alam demokrasi dan kebebasan akademik di kampus serta memadamkan api idealisme mahasiswa. Terakhir, saya berharap akan muncul BEM UI – BEM UI yang lain di negara yang kita cintai ini.

 

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.