11 April 2021

Bom Waktu Sampah Plastik

Oleh: A.  Ansori (Eks Ketua Bidang KPP HMI STAIN Pamekasan / IAIN Madura) 
Perjalanan dari rumah lewat Jalan Trunojoyo menuju IAIN madura membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Sebabnya,  Puntung rokok di buang sembarangan oleh pengendara mobil. Itu masih puntung rokok. Bebapa waktu lalu di jalan yang beda,  saya melihat pengendara membuang sampah plastik hasil ngemil  sembarangan. Cukup mengganggu keindahan jalan. Setelah dipikir-pikir.  ternyata,  minimnya kesadaran biasanya selalu berbanding lurus dengan tingginya kemalasan. 
Sampah hasil makanan dan minuman bukan tidak berdampak pada lingkungan.  Banjir, lingkungan yang buruk, dan  kesehatan masyarakat. Sederet permasalahan tersebut yang diakibatkan sampah,  terutama sampah plastik. Paling tidak menumbuhkan kesadaran pada kita.

Regulasi yang tidak ditegakkan.  Penindakan yang sulit dikerjakan,  baik karena ukuran perasaan berupa kasian atau karena ukuran : ” biarin ” adalah satu penyebab sampah tak terkendali. Biarpun banyak imbauan lucu, sarkastis,  dan satire di dekat tempat sampah.  Seolah tak begitu efektif. 
Karena Sampah adalah barang yang berupa sisa aktivitas dan konsumsi manusia seperti hasil minuman dan makanan atau lainnya, yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi.  Maka,  tak heran jika barang yang tak terpakai itu dibuang.
Barang yang tak terpakai itu akan menjadi sampah.  Bisa dibayangkan, selama sehari 5 sampai 10 rumah dalam satu kampung yang membuang sampah. Bagaimana jika melebihi etimasi ini?  Sampah bisa menggunung. 
Dilansir dari  Brainly.co.id. beberapa faktor terjadinya timbunan sampah, antara lain.  Pertama,  Semakin banyak konsumsi yang dilakukan masyarakat  maka semakin banyak sampah yang dihasilkan. Kedua,  rendahnya kesadaran dan pendidikan masyarakat. Ketiga,  Lemahnya peraturan juga menjadi penyebab banyaknya sampah, karena pembuang sampah tidak dihukum dengan tegas. Keempat,  Jumlah penduduk yang meningkat juga menyebabkan peningkatan jumlah sampah, seiring dengan semakin banyaknya kebutuhan konsumsi dari penduduk di suatu wilayah. Kelima,  Sampah di sekitar kita banyak yang tidak dibuang di tempatnya, dan tidak diolah dengan tepat.
Faktor di atas seperti banyaknya komsumsi yang dilakukan masyarakat berbanding lurus dengan bertambahnya penduduk. Akibatnya,  sampah juga semakin banyak.

Tahun 2025 perkiraan jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 284.829.000 orang atau bertambah 23.713.544 dari tahun 2016. Hal ini dengan asumsi volume sampah sebesar 5.928.386 ton. tahun 2016 jumlah timbulan sampah di Indonesia mencapai 65.200.000 ton per tahun dengan penduduk sebanyak 261.115.456 orang. Tentu asumsi volume sampah sebesar 5.928.386 ton tersebut dengan perkiraan sama setiap tahunnya.  Bagaimana jika tidak dengan asumsi volume sampah yang sama? . Tentu dengan estimasi lebih besar.  Berdasarkan data yang dikemukakan Our world in data,  pada tahun 1950 hanya memproduksi dua juta ton per tahunnya. Namun, sejak saat itu, produksi tahunan plastik meningkat hampir 200 kali lipat–menjadi 7,8 miliar ton di 2015.
Keberadaan sampah dengan volume yang cukup besar ini adalah bom waktu yang bisa jadi kapan-kapan akan meledak.  Sampah rumah tangga yang tak terkendali akibat konsumsi masyarakat yang semakin banyak, serta kurangnya kesadaran meskipun berpendidikan tinggi tentu permasalahan tersendiri. Posisinya sebagai variabel bukan saja tidak terjadi permasalahan.  Akibat dari hal ini,  beberapa berita merilis tentang impor sampah yang di dalamnya membahayakan, tidak saja bagi lingkungan yang mengakibatkan banjir.  Tetapi,  juga bagi masyarakat sendiri berupa buruknya kesehatan. 
Sampah plastik tentu lebih berbahaya. Dibandingkan sampah yang lain,  sampah ini bisa dikatakan paling banyak.  Sebab,  konsumsi masyarakat yang serba instan,  gaya hidup yang banyak menggunakan plastik adalah penyumbang terhadap volume sampah yang berbahaya ini. 
Menurut Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), konsumsi plastik nasional masih didominasi oleh plastik kemasan sebesar 65%. Dari total permintaan plastik kemasan, sekitar 60% diserap oleh industri makanan dan minuman.
Sederhananya,  jika 50 rumah dalam satu dusun memakai 2 plastik perharinya maka menghasilkan 100 sampah plastik perharinya.  Jika dalam sebulan menghasilkan 3000 plastik. Estimasi ini tentu lebih rendah dan lebih sedikit daripada kenyataannya.  Volume sampah plastik dan jumlah rumah penduduk bisa saja menghasilkan volume sampah plastik lebih dari estimasi tersebut. 
Akibatnya,  banjir yang terjadi akhir-akhir ini,  terutama di Indonesia penyebabnya tidak lain adalah sampah.  Terutama sampah plastik.  Sampah seperti makanan sisa bisa saja dimakan hewan lain.  Bagaimana dengan sampah plastik?  Ia tidak bisa mengurai dalam setahun sampai dua tahun.  Butuh ratusan tahun untuk mengurai.  Melebihi umur manusia secara keseluruhan.  Bisa-bisa tujuh turunan manusia,  plastik tidak mengurai.  Belum lagi dengan volume yang lumayan.  Tumpukan sampah plastik yang menggunung,  bagaimana jadinya? 
Permasalahan ini tidak hanya di banjir,  sampah plastik yang dibawa dari hulu ke hilir, kemudian sampai di lautan banyak yang dimakan hewan-hewan laut.  Masih ingat ikan paus sperma yang mati gara-gara perutnya berisi plastik? 
Selain banjir di atas,  permasalahan lain seperti berpotensinya plastik menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik yang berukuran 0,3 sampai 5 milimeter. Menurut Greenpeace, partikel-partikel kecil ini berpeluang masuk pada tubuh manusia dan hewan lainnya.  Dampaknya,  bisa menyebabkan kanker, stroke dan gangguan pernafasan.  Mengerikan !
Dengan demikian,  apa susahnya kita mengurangi pemakaian plastik. Menggantinya dengan barang yang tidak hanya sekali dipakai.  Begitu juga,  apa susahnya kita berhenti membuang sampah sembarangan misalnya ke sungai? menunggu bom ini meledak di kemudian hari dan kita terpaksa merayakannya sebagai sebuah pesta kembang api?