11 April 2021

Covid-19 Membuat Krisis Sosial

Oleh : Riyo Saliwa (Kader HMI Cabang Bandar Lampung Komisariat Sospol UNILA)

Umat manusia di dunia digemparkan dengan wabah pandemi Covid-19. Virus corona pertama kali muncul dan menyebar ke umat manusia berasal dari kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Semua media Nasional bahkan Internasional memberitakan.

Covid-19, Virus Corona yang sangat kejam mengakibatkan ribuan manusia mati seketika tanpa jeda, tak pandang si kaya dan si miskin. Datang tak diundang pergi menghilang mencari mangsa lain. Laboratorium di Wuhan, China.

Virus Corona dilahirkan hingga saat ini menyebarluaskan kabar duka cita kepada manusia di dunia.
Saya terdiam bujuk kaku memperhatikan perkembangan korban Virus Corona, baik di media masa maupun di media sosial mengenyam pembahasan tentang Virus Corona.

Hari demi hari korban bertambah banyak dari segala penjuru, bahkan miris sekali jika melihat manusia yang mati karena Virus Corona. Tidak dimandikan, tidak dilaksanakan acara ritual, apa lagi Ramai-ramai berta’jiah. Ditakutkan, menular kepada manusia yang dekat korban positif terkena Virus Corona.

Manusia tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan sehari-harinya dengan makhluk sosial karena mereka tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan sebuah interaksi sosial dengan orang lain.

Tidak hanya Ruang sosial yang krisis, Ekonomi Dunia pun sangat memprihatinkan. Hingga dari Pejuang asongan, hingga pengusaha besar surut penghasilan Karena datangnya Wabahnya Pandemi Corona saat ini.

Menurut media CNBC Indonesia yang saya dapat Dalam sebuah laporan Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan pandemi Virus corona (COVID-19) akan memicu krisis sosial di beberapa negara, jika kebijakan dalam menekan angka terjangkit tidak adil kepada masyarakat dari berbagai golongan.

Dalam upaya untuk menekan angka penyebaran virus ini, sebagian besar ekonomi global terpaksa ditutup, sehingga pasar ekonomi di negara-negara berkembang harus menanggung beban terberat.

Direktur departemen urusan fiskal IMF, Vitor Gaspar mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa protes massa tidak mungkin terjadi akibat adanya kebijakan penguncian (lockdown), namun diprediksi akan melonjak kerusuhan baru ketika krisis tampak terlihat terkendali nantinya.

Untuk itu, pembuat kebijakan harus berkomunikasi dengan masyarakat yang menjadi korban paling terdampak dalam membangun dukungan dan mengatasi virus itu sendiri.

“Ini adalah sesuatu yang kami tekankan: sangat penting untuk memberikan dukungan kepada rumah tangga dan perusahaan yang menjadi rentan oleh krisis. Tujuannya adalah untuk mendukung dan melindungi orang dan perusahaan yang telah terkena dampak penutupan,” kata Gaspar, dikutip dari Reuters.

Ketegangan di dalam masyarakat sendiri sudah terlihat jelas ketika diberlakukannya lockdown yang membuat pekerja sektor informal, harus rela dan siap hidup tanpa pekerjaan, penghasilan, bahkan makanan.

Di kota Mumbai, India, ribuan pekerja migran yang tidak memiliki pekerjaan, melakukan aksi protes untuk menuntut diizinkan kembali ke kampung halaman mereka, sesaat setelah Perdana Menteri Narendra Modi memperpanjang masa lockdown negara dengan populasi 1,3 miliar tersebut.

Sejak diberlakukannya lockdown pada akhir Maret, angka pengangguran hampir dua kali lipat menjadi sekitar 14,5% di India, menurut Pusat Pemantauan Ekonomi India.

Selain di India, kebijakan lockdown di negara-negara lain juga sudah memicu eksodus jutaan pekerja dari kota ke kampung halaman mereka. Kebanyakan dari mereka merupakan pekerja harian yang menerima upah rendah, yang sudah tidak bisa menghidupi jika masih tetap berada di kota, menurut pejabat Bank Dunia.

Kepala ekonom IMF, Gita Gopinath mengatakan krisis dan bencana sebelum pandemi corona telah memupuk solidaritas, tetapi kali ini mungkin ada hasil yang berbeda. “Jika krisis ini dikelola dengan buruk dan itu dianggap tidak cukup untuk membantu orang, Anda bisa berakhir dengan keresahan sosial,” katanya kepada Reuters.

Untuk menghindari protes di masa depan, Gopinath mengatakan sangat penting bagi masyarakat internasional untuk memainkan peran pendukung bagi negara-negara miskin melalui pembiayaan lunak dan keringanan hutang.

Dalam mengurangi dampak ekonomi dari pandemi ini, sebelumnya pemerintah dikabarkan sudah menghabiskan hampir US$ 8 triliun. Namun ini saja tidak cukup, pemerintah akan memerlukan lebih banyak stimulus fiskal begitu krisis mereda, menurut IMF.

Laporan itu mengatakan pengeluaran pemerintah hingga saat ini termasuk biaya fiskal langsung US$ 3,3 triliun, pinjaman sektor publik dan suntikan ekuitas US$ 1,8 triliun, ditambah US$ 2,7 miliar pada jaminan, dan kewajiban kontinjensi lainnya sebesar US$ 2,7 triliun.

Jumlah ini meramalkan output yang lebih rendah. Pendapatan pemerintah kini juga diperkirakan 2,5% dari PDB global, lebih rendah dari yang diproyeksikan pada bulan Oktober lalu.

Lonjakan pengeluaran secara tajam memperluas defisit fiskal, dengan utang publik global naik 13 poin persentase menjadi lebih dari 96% dari produk domestik bruto pada tahun 2020, kata laporan tersebut.

IMF juga memperkirakan ekonomi global akan menyusut 3,0% selama tahun 2020 akibat pandemi ini, dan juga memperingatkan bahwa perkiraan tersebut ditandai oleh “ketidakpastian ekstrim” dan hasilnya bisa jauh lebih buruk.

Gaspar mengatakan sulit untuk memperkirakan berapa banyak lagi pengeluaran yang akan dibutuhkan, tetapi stimulus fiskal berbasis luas akan menjadi alat penting untuk mendorong pemulihan begitu wabah mereda.

Dengan adanya wabah Virus Corona Covid-19, kita bersama-sama Mencari Jalan keluar. Jangan meremehkan, sudah ribuan Korban Mati sia-sia karena Wabah pandemi Covid-19. Jika kita anggap remeh wabah ini, tidak hanya ratusan ribu bahkan seluruh Umat manusia di dunia akan habis tersapu bersih. Jika, kita tidak mematuhi anjuran pemerintah.

Benang yang kusut mampu diluruskan, air yang keruh pandai dijernihkan. Jika Iman senantiasa hanya kepada Allah SWT. Ilmu yang di dapat ditularkan dengan sesama manusia. Amalkan apa yang bisa kita beri kepada orang yang membutuhkan. Dengan Mengharap Ridho Alaah SWT Yakin Usaha Sampai.

“Ketika Logika Berteriak itu Mustahil. Pengharapan berbisil coba lah sekali lagi”

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Yakusa.Id