11 April 2021

Dampak Penyebaran Covid-19 Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi dan Pendidikan

Gambar Ist (Inews.Id)

Oleh: Vera Indriana (Kohati Cabang Pamekasan Komisariat Tarbiyah IAIN Madura)

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) merupakan virus atau penyakit yang berbahaya dan penyebarannya sangat cepat serta memiliki dampak yang begitu besar bagi masyarakat. Hampir semua negara di dunia dilanda covid-19 atau yang dikenal dengan virus corona. Virus corona ini pada awalnya muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Negara Cina pada tahun 2019 yang lalu. Pada saat ini virus corona telah merambah ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Virus corona ini telah memakan banyak korban tanpa melihat status sosial, stratifikasi, tingkat pendidikan dan sebagainya sehingga menimbulkan kepanikan atau ketakutan yang luar biasa, khususnya bagi masyarakat Indonesia.

Penyebaran virus corona ini menimbulkan pengaruh yang besar bagi masyarakat Indonesia. Misalnya, kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan lockdown yang telah dikeluarkan dan diterapkan di beberapa wilayah di Indonesia dapat menghambat terjadinya proses sosial masyarakat di berbagai sektor atau bidang, seperti di sektor sosial, ekonomi, dan pendidikan. Bagaimana penyebaran covid-19 mempengaruhi berbagai sektor (bidang) di Indonesia, baik di sektor sosial, sektor ekonomi, maupun sektor pendidikan?

Sektor Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari yang namanya interaksi dengan lingkungan sosialnya sehingga manusia tidak dapat hidup sendiri, akan tetapi mereka saling membutuhkan satu sama lain (hidup bermasyarakat). Setiap manusia atau masyarakat tentu memiliki keinginan untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dalam hal ini, masyarakat membutuhkan ketenangan dan kedamaian. Namun, penyebaran covid-19 atau virus corona justru menimbulkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa bagi masyarakat. Pandemi covid-19 ini memiliki dampak paling besar terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Kehidupan sosial masyarakat menjadi terganggu akibat adanya covid-19 yang melanda hampir seluruh wilayah di Indonesia. Masyarakat Indonesia yang biasanya berkumpul dengan keluarga atau teman dan berjabat tangan ketika bertemu, tetapi pada saat ini masyarakat harus berdiam diri di dalam rumah (stay at home) dan menjaga jarak. Selain itu, dikeluarkannya kebijakan social distancing oleh pemerintah juga berdampak pada pola peribadatan masyarakat. Misalnya masyarakat yang biasanya melaksanakan ibadah seperti halnya shalat berjemaah di masjid, dihimbau untuk melaksanakan shalat di rumah masing-masing. Boleh shalat di masjid, namun tetap menjaga jarak.

Penyebaran covid-19 ini membawa perubahan besar bagi masyarakat Indonesia. Hal ini secara sederhana dapat dilihat di lingkungan sekitar. Sejak covid-19 melanda beberapa kota di Indonesia, masyarakat enggan untuk keluar rumah sehingga menyebabkan perubahan pola interaksi sosial pada masyarakat. Pada mulanya masyarakat dapat melakukan interaksi sosial secara langsung tanpa ada penghalang, akan tetapi pada saat ini masyarakat memakai masker ketika berinteraksi, bahkan menggunakan media dari jarak jauh. Ini merupakan akibat dari adanya kebijakan pembatasan interaksi fisik (physical distancing) dan menjaga jarak (social distancing) sebagai upaya pencegahan covid-19.

Sektor Ekonomi
Masyarakat pasti memiliki kebutuhan primer (dasar) yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. Dalam hal ini, masyarakat harus mempunyai cara atau usaha bagaimana mereka agar tetap bertahan hidup. Cara atau usaha yang dilakukan tentunya dengan melakukan kegiatan ekonomi, misalnya berdagang, memproduksi barang, jasa ojek dan sebagainya. Namun adanya penyebaran covid-19 menghambat kegiatan ekonomi masyarakat sehingga pendapatan masyarakat menurun, sedangkan kebutuhan meningkat. Misalnya, masyarakat membutuhkan masker, sarung tangan, hand sanitizer, dan sebagainya untuk mencegah penularan covid-19.

Penyebaran covid-19 yang semakin luas di Indonesia mengakibatkan aktivitas ekonomi mengalami permasalahan yang dampaknya cukup besar bagi masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa perusahaan yang tidak mampu membayar karyawannya dan banyaknya jumlah karyawan yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) seperti halnya perusahan-perusahaan di Boyolali. Berdasarkan pernyataan Dinkopnaker (Kepala Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja) Boyolali pada Rabu, 29 April 2020 terdapat 1.732 orang yang terkena PHK di 16 perusahaan, sehingga masyarakat golongan kelas menengah ke bawah mengalami kesakitan atau bahkan mati kelaparan.

Beberapa perusahaan di Boyolali melakukan kebijakan PHK terhadap beberapa karyawannya karena disebabkan oleh berkurangnya aspek pemasaran produk atau pasar (order lagi sepi) akibat adanya covid-19. Selain itu, perusahaan juga kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Pandemi covid-19 ini mengakibatkan bertambahnya jumlah perusahaan di Boyolali melakukan kebijakan PHK dan meliburkan para karyawannya. Sehingga hal ini dapat meresahkan para karyawan karena mereka tidak lagi mempunyai penghasilan (menganggur), apalagi bagi mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya.

Penyebaran covid-19 juga berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan banyaknya perilaku bisnis yang tidak berjalan secara normal sehingga terjadi penurunan pendapatan, berkurangnya produktivitas kerja, dan penurunan permintaan konsumen terhadap barang atau jasa. Selain itu, akibat yang ditimbulkan oleh adanya covid-19 adalah terganggunya aktivitas ekspor-impor sehingga mengakibatkan lambatnya pertumbuhan ekonomi, bahkan menurunnya pendapatan nasional yang dapat menimbulkan kerugian (defisit) pada Indonesia yang nantinya juga akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.

Sektor Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Namun, pendidikan di Indonesia pada saat ini terkendala atau terganggu oleh adanya covid-19. Hal ini tidak hanya terjadi pada tingkat pendidikan tertentu, akan tetapi pada semua jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi atau universitas, baik negeri maupun swasta. Akibatnya, pemerintah memberikan kebijakan agar sistem pembelajaran di sekolah atau di kampus diganti dengan sistem daring (dalam jaringan) atau pembelajaran secara online di rumah masing-masing siswa atau mahasiswa sebagai upaya pencegahan penyebaran atau penularan covid-19.

Namun, ada beberapa siswa atau mahasiswa yang mengalami kendala ketika proses pembelajaran beralih pada sistem daring. Misalnya jaringan yang kurang mendukung, terbatasnya media yang digunakan, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran berjalan tidak efektif, karena bagi siswa ataupun mahasiswa yang memiliki keterbatasan sarana atau media seperti halnya handphone, laptop, dan lain-lain yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran tersebut akan mengalami hambatan. Bahkan, beberapa siswa atau mahasiswa terlambat dan tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran karena terkendala oleh media atau jaringan internet.

Permasalahan tersebut sesuai dengan pernyataan Pahala Budiawan, Kepala Dinas Pendidikan Murung Raya pada saat Konferensi Pers pada Selasa, 14 April 2020 bahwa keterbatasan dalam mengakses internet menjadi kendala aktivitas belajar mengajar siswa di rumah. Ini merupakan kendala sektor pendidikan dalam menghadapi covid-19. Sebagian kecamatan kesulitan untuk mengakses internet. Hal ini tentu akan menghambat kegiatan atau aktivitas pembelajaran siswa atau mahasiswa dan aktivitas guru yang ada di daerah tersebut dalam mengajar melalui sistem daring.

Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Anggi Afriansyah, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada Rabu, 01 April 2020. Dia menyatakan bahwa kompleksnya permasalahan terutama faktor infrastruktur jaringan internet dan kondisi perekonomian siswa, membuat pelaksanaan pembelajaran tidak optimal di seluruh daerah. Adanya kesenjangan media atau jaringan yang digunakan dalam proses pembelajaran jarak jauh dapat memarginalkan peserta didik yang berasal dari keluarga miskin. Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk menyikapi hal tersebut?

Penyebaran covid-19 telah menimbulkan pengaruh atau dampak yang besar bagi masyarakat Indonesia baik di sektor sosial, ekonomi, maupun pendidikan. Ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi masyarakat khususnya para akademisi sangat dibutuhkan untuk menanggapi penyebaran covid-19. Dalam hal ini, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menyikapi permasalahan dari adanya covid-19.

Mengajak dan menyadarkan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam mencegah penyebaran atau penularan covid-19, yakni tetap optimis dengan melaksanakan aktivitas sehari-hari seperti halnya melakukan hobi di dalam rumah, misalnya membaca, memasak, membersihkan rumah, bekerja dari rumah dan sebagainya serta tetap menjaga jarak dengan orang lain. Selain itu, menerapkan atau membiasakan hidup bersih, misalnya sering mencuci tangan pakai sabun atau gunakan hand sanitizer atau menyemprot bagian rumah yang sering disentuh dengan menggunakan desinfektan.

Mengajak dan membantu masyarakat untuk melakukan usaha-usaha serta memasarkan atau menjualnya melalui sistem online. Selain itu, pemerintah juga mempunyai peran untuk memberikan bantuan kepada mayarakat tidak mampu sebagaimana yang telah direalisasikan. Misalnya, memberikan bantuan sosial sembako kepada masyarakat.

Membangun masyarakat dengan meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). Misalnya, mengolah tanaman menjadi sesuatu yang dapat menggantikan kebutuhan pokok masyarakat dan sebagainya. Hal ini dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat. Misalnya, mengolah daun kelor atau bayam menjadi bakwan sayur (ote-ote) sebagai pengganti lauk-pauk yang biasa menjadi makanan khas (lauk-pauk) masyarakat.

Pemerintah harus memberikan solusi konkret untuk keberlanjutan pembelajaran dengan sistem daring. Misalnya dengan memberikan bantuan perangkat teknologi komunikasi dan tunjangan pulsa/kuota kepada siswa atau mahasiswa dari keluarga tidak mampu, bahkan juga guru. Hal ini juga diungkapkan oleh Anggi Afriansyah dan Satriwan Salim, Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) dalam diskusi tentang pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan LIPI dan FSGI secara daring di Jakarta pada Rabu, 01 April 2020.


*) Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Yakusa.Id