22 Oktober 2021

Dampak Perang Dagang Amerika Serikat dengan China 2017-2019 Bagi Indonesia

Ilustrasi perang dagang AS-CHINA. Foto/detikNews.

Penulis: Dewi Nadya Maharani

Perdagangan internasional merupakan acuan penting bagi pemulihan perekonomian nasional baik di negara maju maupun negara berkembang, dan dapat juga dikatakan bahwa setiap negara abad dua puluh satu pasti memiliki model sendiri kerja sama di bidang kerja sama ekonomi untuk menuai hasil.

Manfaat abad 21, manfaat masing-masing negara, sehingga semua kebijakan perdagangan, baik dalam maupun luar negeri, memiliki arah yang sama, yaitu meningkatkan anggaran pendapatan, anggaran negara untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa.

Nilai ekspor China pada tahun 2017 mencapai 2,36 triliun dolar AS atau 31.686,6 triliun rupee, mengalahkan AS yang hanya mencapai 1,550 miliar dolar AS dan menduduki peringkat kedua dalam hal persentase ekspor tertinggi. 20 negara dengan pangsa ekspor tertinggi di dunia (2017, 2018). Di sebagian besar pasar internasional, produk China mendominasi dan perkembangan ekonomi China tercepat dalam 30 tahun terakhir, tumbuh 10%, dan berkat ekspor China, negara ini begitu besar sehingga meningkatkan nilai domestik brutonya. menjadi $12 triliun pada tahun 2017.

Sementara itu, pada kuartal pertama pemerintahan Presiden Donald Trump pada tahun 2017, ekonomi AS tumbuh sebesar 1,2%, tiga bulan kemudian pada kuartal kedua, Presiden Donald Trump dua kali lipat menjadi 2,6%, pada kuartal ketiga meningkat menjadi 3%, tetapi pada Q3, Q4 berhenti dan turun menjadi 2,5%. Laporan setebal 35 halaman berjudul “Serangan ekonomi China mengancam AS dan teknologi dan kekayaan intelektual dunia”, tidak Gedung Putih diumumkan pada Selasa, 19 Mei 2018 (IndonesiadiTengahPerangDagang , 2018).

Perang dagang yang sedang berlangsung antara China dan Amerika Serikat sangat berdampak pada bangsa Indonesia. Dampak paling signifikan menyangkut ekspor Indonesia ke negara ini. Perang dagang juga dapat menyebabkan negara lain mengincar Indonesia dengan mengimpor barang-barang tertentu yang sebelumnya dikirim ke Amerika Serikat atau China. Hal ini diuntungkan oleh keterbukaan perekonomian Indonesia.

Selain itu, dunia perdagangan internasional juga bersinggungan dengan pasar modal dengan laju bisnis internasional. Pasar modal juga merupakan faktor penting bagi Indonesia yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Badan Pusat Statistik menemukan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2019 sebesar 5,05%. Angka tersebut menurun pertahunnya menjadi 5,27% (Kusuma, 2019).

Dampak perang dagang China-AS belum berdampak signifikan terhadap hubungan perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat dan China, meskipun terdapat banyak dinamika dalam hubungan bilateral kedua negara. Selain itu, sejak kemerdekaan, Amerika Serikat merupakan salah satu negara pertama yang menjalin hubungan bilateral dengan Indonesia pada 19 September, sehingga hubungan bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat tidak bisa dipandang sebelah mata. menganggap Indonesia sebagai negara. Kemitraan Indonesia dalam hubungan Indo-damai dengan Amerika Serikat semakin penting.

Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, negara mayoritas Muslim terbesar, ekonomi ketujuh dalam hal daya beli, dan terbesar di ASEAN. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia dan keanekaragaman hayati terestrial terbesar kedua. Indonesia juga berbatasan dengan Laut Cina Selatan, yang merupakan rumah bagi jalur laut tersibuk di dunia. Begitu juga dengan China yang banyak berinvestasi di Indonesia untuk membantu meningkatkan perekonomian Indonesia di pasar modal global.

Adanya perang dagang AS-China menggambarkan bahwa perang dagang tidak boleh dilihat secara pesimis sebagai negara berkembang seperti Indonesia. Negara harus memakai kacamata positif dengan mengeluarkan berbagai strategi yang tepat untuk menghadapinya. Melalui kebijakan untuk menjadikan perang dagang ini sebagai momentum untuk meningkatkan kapasitas nasionalnya untuk memperkuat posisi dalam persaingan global. Kebijakan strategis yaitu segera dilakukan dibagi menjadi jangka pendek dan jangka panjang (Taufikurahman & Firdaus, 2019).

Ilustrasi perang Dagang AS-CHINA. Foto/detikNews.Kebijakan strategis akan segera dilaksanakan ini tahun dalam jangka pendek adalah perluasan dan penguatan pasar dan pengendalian impor; volume impor dikendalikan aturan; perbaikan sistem perpajakan untuk dalam negeri dunia usaha untuk mendorong iklim investasi; NS meningkatkan iklim investasi melalui kompetisi bisnis yang sehat; dan pemberian fasilitas fiskal dalam sesuai dengan kebutuhan investor. Selanjutnya, strategi yang harus dilakukan dalam jangka panjang adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia; penelitian yang semakin meningkat dan investasi pembangunan; dan pembangunan infrastruktur di yang ditargetkan untuk peningkatan produktivitas.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.