11 April 2021

Diskusi dan Bedah Buku Episentrum Intelektual, Upaya Menyongsong Indonesia Emas 2045

Ket foto : Kiri, Erfan Hasman (Akdemisi) Tengah, Adnan Purichta Ichsan (Bupati Gowa) Kanan, Firman Kurniawan Said (Caketum PB HMI)/yakusa.id.

YAKUSA.ID – Diskusi dan bedah buku Episentrum Intektual dengan tema “Membaca Satu Abad Indonesia” digelar di Universitas Dipa Makassar, Sabtu (6/3/2021).

Penyelenggara kegiatan ini merupakan salah satu Kandidat Calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2021-2023, Firman Kurniawan Said.

Hadir sebagai Keynote Speaker dan penaggap yakni, Adnan Purichta Ichsan (Bupati Gowa) dan Erfan Hasman (Akdemisi) dan sejumlah undangan lainnya.

Firman Kurniawan Said yang merupakan penulis buku Episentrum Intelektual ini mengatakan bahwa, kunci sebuah kemajuan adalah inovasi, karena semakin cepatnya arus perputaran modernitas maka gerakan yang adaptif, masif, dan kolaboratif perlu dilakukan hal tersebut guna menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Menyambut Indonesia Emas 2045 yang didominasi usia produktif. tugas generasi muda adalah menguasai sains dan teknologi agar bonus demografi dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan secara maksimal,” kata Yawan panggilan akrab kandidat Ketum PB HMI asal cabang Makassar Timur tersebut.

Kabid Infokom PB HMI ini juga menyampaikan, usia satu abad negara Indonesia nanti akan memiliki modal yang sangat besar khususnya untuk usia produktif dan ekonomi, hal tersebut diproyeksikan menjadi peringkat 5 PDB di Dunia dengan jumlah PDB sebesar USD 9.100 milyard. Hal tersebut akan menjadi sia-sia jika tidak ditopang dengan kemajuan sains dan teknologi.

“Karenanya, keberpihakan pada sains dan teknologi menjadi domain Buku Episentrum Intelektual. Dan inilah posisi epistemik saya dalam buku tersebut. Teknologi sejatinya adalah percepatan, dan percepatan senantiasa membutuh proses berpikir yang tanggap”, katanya.

Dijelaskan, mengapa sains harus selalu dikedepankan, sebab ia memiliki perangkat yang disebut sikap ilmiah, sikap untuk berkomitmen pada dua prinsip dasar, yaitu peduli pada bukti empiris dan mau mengubah teori jika ditemukan bukti empiris baru yang membuktikan bahwa teori itu salah.

“Artinya, berpihak pada sains bukanlah fanatisme, justru dapat membendung fanatisme itu. Dan dengan sikap ini, kita bisa adaptif secara tepat dalam menghadapi era. Bila hal itu terwujud, kita bisa tersenyum menatap masa depan,” katanya.

Sementara Keynote Speaker dalam acara tersebut, Adnan Purichta Ichsan menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu negara yang akan mendapatkan bonus demografi.

Menurutnya, diprediksi puncak bonus demografi akan terjadi pada tahun 2045 mendatang dimana kondisi jumlah usia produktif Indonesia lebih besar dibandingkan dengan usia tidak produktif.

“Bonus demografi menggambarkan bahwa jumlah usia produktif akan lebih besar dari pada yang non-produktif. Tugas pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan dan tugas generasi muda untuk mengoptimalkan waktu meningkatkan kapasitas diri agar terserap di dunia profesional”, ucap Caketum FKS.

Ia melanjutkan, bonus demografi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin guna mewujudkan Indonesia emas tepat di usia seabad bangsa Indonesia.

“Untuk menyambut bonus demografi ini, pemuda harus terus meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya dengan mengikuti perkembangan zaman yang ada,” ucap Adnan.

“Apalagi generasi muda saat ini merupakan pemegang peranan pembangunan di masa yang akan datang”, imbuhnya menegaskan. (*)