Beranda Profil Haul Ke-17: NCMS dan Pesan Cak Nur untuk Cak Nur Muda Masa...

Haul Ke-17: NCMS dan Pesan Cak Nur untuk Cak Nur Muda Masa Mendatang

0

Oleh: Nurfadilla* 

Tepat 17 tahun lalu Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A, Ph.D atau yang akrab disapa Cak Nur telah lebih dulu meninggalkan kita semua. Sosok teladan dan banyak menginspirasi telah banyak menelurkan pemikiran-pemikiran besarnya untuk berbagai kalangan terutama kalangan aktivis pemuda dan mahasiswa hingga para kaum intelektual di Indonesia dari zaman ke zaman.

Di penghujung bulan kemerdekaan pemikir dan pembaharu nan merdeka menutup usia tapi tidak dengan pikiran-pikirannya, karyanya serta api semangat keIslaman dan keIndonesiaan yang melekat dalam dirinya menjadi teladan hidup berbangsa dan bernegara.

Sepanjang hayat hidupnya telah berjasa dalam sumbangsih pemikiran pembangunan bangsa Indonesia, banyak pemikirannya yang sampai hari ini masih tetap hidup, masih relevan untuk di kaji, didiskusikan dimana-mana, buku-bukunya yang pernah ia tulis masih diterbitkan, dicetak, dijual, dibeli, dinikmati banyak orang dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cak Nur meninggalkan sejumlah warisan penting yang sampai sekarang dipegang sebagai suatu yang berharga dalam cara cara berpikir, sikap hidup hingga menjadi panduan bagaimana seorang muslim menjadi warga negara Indonesia terutama bagi organisasi Himpunan Mahasiswa Islam yang tersebar di berbagai pelosok tanah air serta para aktivis dan sarjana muslim.

Nurcholish Madjid juga merupakan sosok cendekiawan muslim yang menjadi panutan umat dan bangsa lintas agama. Karakter kepemimpinan serta kepribadian beliau membuat banyak orang menyukai dan menyenanginya, sehingga tidak heran jika sampai saat ini banyak kader-kader Cak Nur dari berbagai kalangan di Indonesia bahkan di luar negeri pun yang masih setia dan tetap menjaga nama beliau, terus melanjutkan cita-cita dan perjuangan Cak Nur.

Sebagai generasi muda dan aktivis perempuan, saya berkesempatan hadir pada acara Haul Cak Nur yang ke-17, yang diselenggarakan oleh yayasan Nurchalish Madjid Society (NCMS), sebuah lembaga yang berfokus untuk melanjutkan cita perjuangan Cak Nur pada Minggu, 28 Agustus 2022 di JS. Luwansa hotel, Jakarta. Turut hadir dalam acara tersebut tamu undangan dan peserta dari berbagai kalangan lintas agama.

Dalam sambutannya yayasan NCMS, Bapak Muhammad Nafis selaku ketua yayasan mengatakan bahwa “Sebenarnya acara ini akan dilaksanakan bertepatan pada tanggal wafatnya Cak Nur yaitu tanggal 29 Agustus 2022 yang jatuh pada hari Senin besok, namun kerena mengingat dan mempertimbangkan beberapa hal termasuk hari kerja, maka acara kita laksanakan h-1. Semoga tidak mengurangi arti dan semangat kita dalam mengingat kembali perjuangan beliau”, ujarnya.

Peringatan haul Cak Nur kali ini mengusung tema ekonomi manusiawi. Dengan dihadirkannya sang orator sekaligus tokoh dewan pakar pancasila Bapak Yudi latif, Ph.D dan Bapak Dato’ Seri Anwar Ibrahim (Wakil perdana menteri Malaysia 1993-1998) sebagai pembicara menjadi energi dan semangat baru bagi cak Nur muda, sahabat-sahabat serta kader-kader Cak Nur yang hadir.

Yang tidak kalah menarik perhatian adalah kehadiran sosok perempuan, teman hidup Cak Nur yang selalu setia, Ibu Omi Komaria, sang istri tercinta yang usianya tidak lagi muda namun semangat dan keanggunannya msih sangat muda dan teduh untuk kita lihat. Selain pemikiran kontraversial Cak Nur tentang sekuarisasi, nyatanya Cak Nur juga sosok yang sangat peduli terhadap ekonomi masyarakat. Bagaimana mewujutkan masyarakat adil dan makmur melalui perekonomian yang dapat membawa masyarakat lebih maju dan sejahtera.

Berfokus pada ekonomi, masih sangat relevan sekali untuk terus kita perbincangkan. Ekonomi menjadi sentral untuk mengatasi berbagai krisis sosial di tengah masyarakat, maka ekonomi manusiawi menjadi solusi.

Perekonomian yang berkesinambungan tidak akan mungkin tercapai jika sistem ekonominya tidak manusiawi. “Agama memainkan peran penting terhadap etis ekonomi manusiawi”, kata Bapak Yudi Latif dalam orasi budaya nya di Jakarta. Sebagaimana tertera dalam Alqur’an surat Al-Qasas:77. Dijelaskan bahwa ekonomi moral (manusiawi) adalah jalan kebahagian, saling memberi, bersyukur dan tidak merusak ekosistem ekonomi karena jika kita merusaknya maka tidak akan terwujut keadilan terhadap generasi masa mendatang.

“Ekonomi manusiawi adalah hal yang sangat fundamental, namun banyak negara-negara yang ekonominya sistem ekonomi konvensional”, ujar Bapak Dato’ Seri Anwar Ibrahim. Dengan adanya ekonomi diharapkan akan dapat menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat, maka perntingnya peran generasi muda untuk terus mengembangkan pemikiran dan turut berpartisipasi mewujutkan ekonomi manusiawi.

Dikarenakan masyarakat Indonesia masih jauh kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial sebagaimana yang di cita-citakan oleh Cak Nur tentunya kita tidak menginginkan kita terus berada dalam krisis ekonomi yang tidak berprikemanusiaan, maka banyak hal yang bisa kita perbuat demi melanjutkan cita perjuangan beliau.

Tugas dan kewajiban kita sebagai generasi muda salah satunya adalah mewujutkan masyarakat Indonesia yang berkeadilan dan demokratis sebagaimana pesan-pesan yang ditinggalkan oleh Cak Nur kepada kita semua.

• “Hidup ini harus dijalani dengan sungguh, agar tidak lewat begitu saja kepada kita dengan sia-sia”

• “Masing-masing kita, setiap pribadi, harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab tanpa menunggu orang lain”

•“Suatu sikap hidup yang bertanggung jawab yan dijiwai oleh ikatan batin untuk berbuat sebaik-baiknya, tentu akan berdimensi sosial”

•“Perbuatan seseorang pribadi yang bertanggung jawab akan berakibat semakin diperkuatnya tali hubungannya dengan sesama manusia”

•“Jika kita menghendaki kebahagiaan dunia dan kahirat, kita harus beriman dan berilmu sekaligus, yang keduanya mewarnai perbuatan kita”.

Setelah meninggalnya Cak Nur, kita kehilangan cendekiawan muslim yang memang mampu menjadi jawaban solutif di tengah kegalauan umat saat itu dan hari ini. Semoga kita semua para pemuda generasi penerus masa mendatang dan harapan bangsa kelak dapat menggantikan sosok ensiklopedis seperti Cak Nur.

Pesan-pesan tersebut diharapkan dapat menjadi spirit perjuangan masa mendatang dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keIslaman dan keIndonesiaan yang dibangun oleh Cak Nur.

*Penulis merupakan Wasekjm Bidang Diklat Kohati PB HMI

Tinggalkan Balasan