22 Oktober 2021

HMI Cabang Payakumbuh, Dualisme PB HMI Harus segera Disudahi

Yakusa.id – Dualisme Kepemimpinan di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2018-2020 antara R. Saddam Aljihad Arya Kharisma Hardy sampai saat ini masih berlanjut. Ketua Umum HMI Cabang Payakumbuh, Fadhli Hakimi sangat menyayangkan dualisme PB HMI yang tak kunjung usai.

“Dualisme PB HMI hari ini harus segera disudahi, kedua belah pihak yang bertikai antara Saddam dan Arya harus segera melakukan rekonsialiasi demi kebaikan dan kelancaran aktivitas organisasi kedepan”, kata Fadhli di Payakumbuh Sabtu (18/01/2020).

Menjelang Kongres HMI ke XXXI kedua kubu bahkan saling membentuk kongres masing – masing. Itu terbukti ketika banyak edaran Kongres HMI ke-31 di Jakarta versi Arya Kharisma Hardy dan di Palembang versi Saddam Aljihad.

Mengingat kepengurusan PB HMI periode ini akan berakhir dan sudah saatnya pula antara Saddam dan Arya menyudahi konflik ini secara bijaksana dengan cara menyelenggarakan kongres bersama.

“Kalau memang Saddam Aljihad dan Arya Kharisma masih punya i’tikad baik terhadap HMI dan menghargai kader kader HMI se-Indonesia, maka akhirilah dualisme ini dan segera Islah untuk menyelenggarakan kongres bersama. HMI adalah milik seluruh kader HMI. Bukan hanya senior-senior yang berada di PB HMI sekarang saja. Kita harus berpikir jangka panjang dan demi penyelamatan organisasi. Apalagi HMI adalah organisasi kader,”pungkas Fadhli.

Dualisme kali ini tidak hanya di PB HMI saja namun telah sampai ke Cabang Cabang, Badko bahkan Komisariat. Ini tentu menjadi pukulan berat untuk HMI sendiri, dan akan berdampak buruk atas spirit perjuangan kader-kader HMI.

Fadhli juga menghimbau kepada seluruh Cabang se-Indonesia untuk ikut mendorong islah antara R. Saddam Aljihad dengan Arya Kharisma Hardi untuk segera mengakhiri konflik dualisme ini dan melaksanakan Kongres bersama.

“Kami kader HMI Minang meyakini bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Begitu juga dengan persolan dualisme PB HMI hari ini. Sebagaimana peribahasa minang mengatakan ‘indak ado kusuik nan indak kasalasai, indak ado karuah nan indak kajaniah’ ( tidak ada kusut yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada keruh yang tidak bisa di jernihkan). Semua persoalan pasti ada jalan dan solusinya,”katanya.

Oleh karenanya, tambah Fadhli, ia dengan segala hormat meminta kepada saudara Saddam dan Arya untuk mendengarkan aspirasi ini. Segera rekonsiliasi dan laksanakan Kongres bersama. (historiahmi.id/*)