22 Oktober 2021

HMI dan PMII Bukan Rival Tapi Sahabat

Oleh : Ponirin Mika (Dewan Pakar Forum Pemuda dan Mahasiswa Gelaman sekaligus Pemerhati Pendidikan di Indonesia)

Berbicara tentang organisasi kemahasiswaan di Indonesia, tentu tidak lepas dari dua organisasi besar, yaitu HMI dan PMII.

Dua organsisasi ini sangat berjasa bagi perjalanan bangsa Indonesia bahkan untuk dunia. Meski saja dua organisasi ini diberi label islam bukan berarti keduanya hanya memikirkan masyarakat muslim semata. Nafas perjuangan keduanya untuk bangsa dan indonesia.

Sebagai organisasi yang banyak diminati oleh mahasiswa, tak perlu dipungkiri HMI dan PMII telah berhasil mencuri banyak hati para mahasiswa. Melalui gerakan-gerakan yang dibangun, baik gerakan keagamaan, ekonomi, sosial, politik, dan kebangsaan. Sebagai organisasi mahasiswa keduanya selalu gelisah melihat fenomena-fenomena yang terjadi terutama yang mengancam terhadap urusan-urasan kebangsaan.

Dua organisasi ini memiliki semangat juang yang mampu membuktikan pada masyarakat banyak. Keterlibatannya telah mengukir prestasi dalam kancah nasional. Ini bisa dilihat dari beberapa fakta sejarah yang telah terdokumentasi dari berbagai sumber. Perbedaan jalan yang ditempuh dan gerakan yang diciptakan sebuah keniscayaan, sebab setiap organisasi memiliki pola gerakan sendiri-sendiri, dan itu sah-sah saja.

Harakah dan fikroh yang dimiliki oleh masing-masing organisasi kemahasiswaan itu menujukkan kualitas mahasiswa yang sesungguhnya, dan itu tidak perlu dibentur-benturkan, termasuk pada HMI dan PMII. Sebagai tempat untuk menempa maha siswa yang agar memiliki wawasan yang luas, kecapakan dalam memimpin organisasi secara baik, maka pada organisasi-organisasi kader akan diberi batas waktu berad didalamnya. Biasanya selama ia terdaftar sebagai mahasiswa aktif setelah lulus dari kuliah bisa meneruskan pengabdiannya melalui wadah-wadah yang lain termasuk melalui PBNU.

Tidak salah pada keduanya apabila memiliki kader terbaik untuk dicalonkan sebagai ketua umum PBNU. Tidak ada yang paling layak kecuali mereka yang mumpuni secara keilmuan dan memiliki jejaring yang luas serta mereka yang telah lama mengabdi dari organisasi besar itu.

Tidaklah penting membenturkan HMI dan PMII dalam perebutan ketua umum PBNU mendatang. Bagi saya NU bukanlah organisasi politik yang bisa dipolitisasi berkait calon kandidat yang akan dimunculkan. Sebagai organisasi yang terus ikut andil dalam menyelesaikan urusan kebangsaan dan keummatan, NU dengan sumber daya manusia yang dimiliki mampu mengisi ruang-ruang pengabdian demi umat dan negara. Oleh karenanya, siapapun kader NU yang terbaik dari jalur organisasi manapun ia menepah dirinya, sepatutnya diberi tempat yang lebih lebar agar bisa terus mengabdi untuk kemaslahatan ammah. Jika isue karena HMI atau PMII terus digulirkan maka ini sebuah kecelakaan awal bagi kita. HMI dan PMII bukan rival tapi sahabat yang sulit terpisahkan karena keduanya memiliki cita-cita mulia demi mewujudkan tatanan-tatanan yang lebih baik untuk keadilan dan kesejahteran bangsa Indonesia.
Wallahu’alam.