11 April 2021

HMI-PMII : Bersama tidak harus sama

HMI-PMII : Bersama tidak harus sama
“Selamat berkonggres, Jaga Kesehatan”

Oleh : Syaiful Bahri
(Pegiat Literasi Sumberanyar di HMI Cabang Situbondo-Bondowoso)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa pertama yang lahir 74 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 5 Februari 1947 di kampus Sekolah Tinggi Islam (Sekarang Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta) oleh Lafran Pane dan kawan-kawan. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi mahasiswa yang lahir dari mahasiswa dengan latar belakang Nahdliyin, dipelopori oleh Mahbub Djunaidi dan kawan-kawan pada 17 April 1960, sekitar 61 tahun yang lalu.

Para kader HMI dan PMII terlatih dalam melahirkan gagasan, merencanakan serta menjalankan strategi yang baik untuk mencapai Tujuan yang dicita-citakan. Sebagai organisasi yang besar, HMI dan PMII telah terbukti mampu melahirkan para pemimpin bangsa sejak zaman Kemerdekaan hingga reformasi.

Tanggal 17 Maret 2021, HMI dan PMII menyelenggarakan hajatan besar Konggres untuk melakukan Evaluasi terhadap kepengurusan periode sebelumnya, memilih Ketua Umum serta bermusyawarah mencari solusi terbaik untuk urusan kebangsaan dan keummatan. Kemudian akan diterjemahkan menjadi Program Nasional Pengurus Besar yang Selanjutnya diturunkan ke Cabang dan Komisariat di Seluruh Indonesia dan Luar Negeri sebagai rujukan perencanaan program dan kegiatan.

Meski penyelenggaraan Konggres HMI dan PMII dalam waktu yang sama, namun proses dan tema yang dipilih tidak sama. Dalam Konggres ke-31 ini, HMI memilih Tema “Merajut Persatuan untuk Indonesia Berdaulat dan Berkeadilan” yang diselenggarakan di Surabaya Jawa Timur. Sementara PMII memilih Tema Konggres ke-20 yaitu “ Organisasi Maju untuk Peradaban Baru” diselenggarakan di Balik Papan Kalimantan Timur.

HMI dan PMII memang tidak sama, Namun visi yang hendak diwujudkan sama sama mulia. HMI memiliki tujuan terwujudnya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. Sedangkan PMII memiliki tujuan terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Meski secara tekstual tidak sama, namun narasi tujuan keduanya serupa, yaitu memiliki komitmen kebangsaan dan keummatan.

Melihat Tujuan kedua organisasi tersebut, tidak diragukan lagi komitmen Keislaman dan Keindonesiaannya. HMI dan PMII akan menjadi garda terdepan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karna secara jelas tujuan tersebut terinternalisasi dalam diri masing-masing kader yang diajarkan dalam setiap proses kaderisasi di masing-masing jenjang. Hal ini akan menjadi modal utama bangsa Indonesia dalam menjaga keutuhan NKRI dari berbagai serangan Ideologi luar yang merongrong kedaulatan.

Sebagai Organisasi yang berusia lebih dari setengah Abad, HMI dan PMII telah melahirkan tokoh umat dan Pemimpin bangsa, mulai dari Bupati, Wali Kota, Gubernur, Pengusaha, Cendekiawan, Ilmuwan, Da’i dan lain sebagainya. Apalagi Politisi, Hampir sebagian besar Legislatif di tingkat pusat hingga daerah, tumbuh dan memulai karir dari Organisasi HMI ataupun PMII. Sebut saja Mahfud MD, Jusuf kalla, Khofifah Indar Parawansah, , Akbar Tanjung, Gus Yakut, Muhaimin Iskandar, Anis Baswedan dan banyak tokoh-tokoh nasional lainnya lahir dari hasil Proses kaderisasi di HMI ataupun PMII.

Maka tidak salah ketika Presiden Jokowi dalam sambutannya di Konggres HMI menyampaikan bahwa HMI harus mampu meneruskan dan mewujudkan cita-cita besar pendiri bangsa dalam menyelaraskan keislaman dan keindonesiaan, memperkokoh persatuan bangsa ditengah keberagaman, dan menjadi pilar penyokong integrasi bangsa. Begitupun di Pembukaan Konggres PMII, Presiden Jokowi juga berpesan agar kader-kader PMII menguasai Ilmu dan tehnologi, Karena PMII merupakan Laboratorium kepemimpinan generasi muda islam yang ikut menentukan maju atau mundurnya Indonesia di masa depan.

Untuk melanjutkan tongkat estafet di masa yang akan datang, kita semua berharap pada HMI ataupun PMII dalam Konggres kali ini, harus bisa menghadirkan Ketua Umum yang dapat membawa Organisasi kearah yang lebih baik sesuai dengan Tujuan yang termaktub dalam Aturan yang ada di masing masing organisasi. Tentu, yang tidak kalah penting, Proses Konggres jangan sampai berlarut-larut dalam urusan yang tidak substansial, semisal ricuh antar peserta, konflik berkepanjangan atau terjadi pengrusakan fasilitas publik.

Meski hal itu adalah bagian dari dinamika organisasi, tetapi jangan sampai terlalu jauh dari tujuan Konggres itu sendiri. Karena di masa pandemi, kita harus bekerja bersama-sama menyelesaikan masalah yang belum jelas kapan berakhirnya. Konggres HMI ataupun PMII, sangatlah penting dapat menghasilkan solusi-solusi terbaik untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis