16 Oktober 2021

HMI Senior, HMI Junior dan Kritik Identitas Masa Kini


HMI Senior, HMI Junior dan Kritik Identitas Masa Kini
Oleh: Pipin Lukmanul Hakim (Kader HMI Cabang Kabupaten Bandung)

Jika berbicara tentang HMI, ini mestinya akan banyak hal yang menjadi sebuah pembahasan penting dan itu selalu dijadikan sebuah progresifitas. Tentu saja, karena hal itu dulu dalam sejarah HMI dikenal oleh kaula muda maupun orang tua. Bagaimana bisa seperti itu?, demikian hal tersebut hanya sebuah romansa sejarah. Yang semuanya diketahui oleh kader-kadernya dalam materi Sejarah Perjuangan HMI (SPH). Dan itu, tidak pernah lekang oleh waktu, tidak usang dimakan zaman, kisah tersebut selalu menjadi sebuah bumbu pelengkap pada ajang rekrutmen kader.

Selain itu, perlu otokritik yang pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk melakukan perubahan budaya dalam suatu komunitas masyarakat, golongan, keluarga, organisasi maupun lembaga dengan melakukan kritik yang dilakukan oleh anggota dari dan untuk kelompok itu sendiri.
Maka dari itu, tulisan ini yang berupa sebuah kegelisahan anggotanya sesaat melihat dan menganalisis HMI – dahulu dan kini – ini bukan merupakan suatu yang jijik. Bahkan suatu hal ini merupakan bagian dari evaluasi terhadap diri sendiri terkhusus dan umumnya bagi semua anggota HMI.
HMI diketahui merupakan bagian terpenting dalam menyongsong kemerdekaan, kala itu sanggup menumpas pemberontakan PKI. Dan organisasi ini pula ikut andil dalam pembangunan negara Indonesia pada masa orde baru hingga reformasi. Begitu mesranya HMI dengan orde baru sehingga dapat melahirkan Majelis Penyelamat Organisasi (MPO). Dua HMI ini yang diketahui yaitu HMI Dipo dan HMI MPO masih ada hingga saat ini.
Saat itu pula terjadi karena orang-orang HMI yang memutuskan untuk memecah organisasinya tersebut. Karena Dipo menganggap suatu keberhasilan dalam mengarungi orde lama dan berhasil menumbangkan orde baru adalah menjadi suatu peluang kedekatan dengan birokrasi dan sistem pemerintahan. Namun berbeda dengan MPO yang memilih jalannya yang memegang teguh berdiri dengan tetap menjaga jarak dengan birokrasi dan sistem pemeritahan.
Tetapi disini bukan selayang pandang maupun kisah romansa sejarah yang di jalani HMI. Melainkan ini sebuah temuan dan dirasakan oleh anggotanya sendiri. Tidak bermaskud untuk memojokan HMI pada suatu kekurangan, karena semua tahu bahwa HMI ini ialah benda mati. Namun di dalam HMI ini terdapat orang-orang yang hidup, dan beberapa oknum yang memaknai dirinya sendiri dan merasa paling senior. Bahkan mengenalkan dirinya menjadi salah seorang yang merasa lebih tahu dan memahami tentang apapun yang wajib di pelajari oleh anggota HMI.
Senioritas ini yang merupakan bagian dari kehidupan berkelompok itu tentu akan ada. Namun selalu disalah artikan dan bertindak dengan kewenangan hasrat pribadinya. Bahkan lebih dari itu, dirinya selalu merasa lebih berjasa terhadap sesuatu yang dapat dilaksanakan oleh juniornya dan sukses demi mewujudkan keinginannya dengan iming-iming demi perkaderan.
Sehingga secara tidak langsung atau otomatis oknum senior itu menjadi sebuah kepatuhan atas segala saran instruksinya yang belum tentu bisa dianalisa dibalik kebaikannya dengan alasan demi perkaderan. Patutnya seorang anggota HMI dalam menjalani kehidupan dalam berkelompok itu bukan mendewakan seseorang yang diakui, bahkan mengakui dirinya sebagai salah seorang yang segalanya mengatakan mampu.
Biasanya oknum seperti itu bisa kita temui usai dirinya melakukan training di LK 2 dan atau menjadi salah satu pengurus cabang. Namun tidak sampai itu saja, bahkan ada pula yang merasa seperti pada tingkat yang sudah lebih yaitu saat dirinya mendapat amanah di Badan Koordinasi (Badko) hingga Pengurus Besar (PB) atau sudah tidak memiliki jabatan apapun. Namun masih selalu saja ada oknum yang merasa dan memaknai dirinya sebagai yang lebih tahu dan paham betul tentang HMI. Padahal sebenarnya nihil, hanya saja dirinya memiliki sebuah keahlian komunikatif dan pandai dalam mempengaruhi seseorang. Hanya butuh sebuah pengakuan saja untuk keberadaanya tersebut.
Sudah harusnya semua anggota HMI ini sadar betul dan mampu menilai agar menaggalkan oknum senior tersebut. Bukan berarti seorang anggota HMI tidak memerlukan arahan atau suatu upgrading dari para pendahulunya. Sebab itu, bisa jadi menjadi sebuah acuan untuk bergerak progress dalam organisasi, namun harus kita ketahui lebih mana senior yang benar-benar memberikan materi baik dan mana yang sekedar hanya.
Dalam hal itu pula tidak bisa di generalisir, sama-sama harus kita ketahui ada yang dinamakan Alumni secara kultur. Sedangkan senior ini hanya sebuah sebutan saja dan umum pada biasanya lalu menjadi sosio kultur.
Kemudian seketika berbicara tentang perkaderan senior ini tidak lahir sendiri melainkan dilahirkan oleh sebuah julukan umum yang menjadi terbiasa. Sehingga oknum yang di anggap sebagai senior itu bisa semena-semena megarahkan dengan sebuah instruksi untuk melakukan suatu hal yang belum tentu itu benar. Yang terpenting dirinya berhasil dalam mengarahkan juniornya untuk melakukan hal yang belum tentu penting itu.
Perlu kita semua sadari bila mana kita berbicara dari sudut perkaderan di HMI. Tentunya anggota yang memiliki ke istimewaan berkesempatan menjadi seorang instruktur atau telah mengikuti jenjang training di Badan Pengelola Latihan (BPL). Senantiasa lebih bijaksana dalam menanggapi hal-hal yang terjadi, namun bukan menjadi seseorang yang diam lalu merasa tidak tahu apa-apa. Malah justru itu menjadi sebuah tanggungjawabnya dalam melalukan perubahan dan berupaya membina kader (anggota HMI). Karena dalam setiap jenjang training di HMI, mulai dari LK 1, LK 2 dan LK 3 kini semata-mata hanya untuk melanjutkan orientasi kedudukan jabatan saja. Sebab itu harus ada dari satu lini HMI yang mampu menjadikan tujuan training sebagai suatu pengabdian dan menempa potensi diri.
Jikalau sudah lupa harus seperti apa berkehidupan di HMI ini, maka jangan pernah lupa dengan satu bundel hasil kongres mapun pedoman-pedoman lainnya. Karena untuk apa di perbaharui setiap dua tahun sekali jika tidak pergunakan dengan semestinya. Ataukah karena sudah berubah orientasi dan kepentingan, maka hal apapun menjadi sebuah formalitas. Jika memang seperti itu maka sia-sia saja berorganisasi. Dan kini sepertinya HMI ini melorot dari segi kawah candra dimuka seperti kajian konseptual, dan kajian intelektual itu seperti lenyap. Hanya saja kader HMI ini tidak pernah terlihat bodoh karena hebat beralibi dan berwacana.
HMI kini sudah tidak semenarik dahulu jujur saja jika dilihat dari luar, tetapi jika dilihat dari dalam sebenarnya HMI ini organisasi unik dan menarik. Segala hal diatur dengan teratur, namun kini terlalu banyak oknum yang memanfaatkan ke bekenan nama HMI untuk mendapatkan posisi nyaman dalam melanggengkan kepentingan pribadinya. Dengan demikian apakah HMI sudah pantas untuk dibubarkan dan siapa yang berhak untuk membubarkannya. (Mediajabar.com/*)