3 Agustus 2021

Karena BerHMI Siap Bermilitansi

Karena BerHMI Siap Bermilitansi

Seekor burung bulbul begitu militannya menjadi pemadam api yang membakar nabi Ibrahim as. Begitu ikhlasnya menyiram air dengan paruhnya yang kecil. Tanpa ada tedeng aling-aling untuk merebut kekuasaan dengan seperangkat kemewahannya. Ibrahim as merasa heran, ” bulbul paruhmu kecil, apakah bisa memadamkan api yang berkobar ini? “.” paling tidak, saya membuktikan ikut serta saya dalam membela kebenaran yang engkau dakwahkan, ibrahim. Paling tidak, inilah bukti iman saya ibrahim” kata bulbul. Cerita ini saya kutip dari buku “Bintang Arasy” yang ditulis oleh Said muniruddin. Burung bulbul dengan paruh kecil dan kesungguhannya memadamkan api kebatilan.

Sebuah cerita yang memperlihatkan keinginan untuk membela kebenaran. Jika dalam ranah organisasi kemahasiswaan. HMI salah satu organisasi perkaderan dan perjuangan ( AD HMI Pasal 8 dan 9). Serta sifatnya yang independen ( AD HMI Pasal 6). HMI dibandingkan organisasi dunia yang kapital masih dikatakan kecil. Ibarat bulbul yang memadamkan kobaran api kebatilan. Fachry ali-salah satu alumni HMI Ciputat-bisa dikatakan benar ketika mengatakan HMI sebenarnya sederhana. Sederhana karena bukan organisasi profitabel. Orang di luar HMI boleh mengatakan organisasi ini mendatangkan keuntungan yang besar karena alumninya yang tersebar di tiap-tiap posisi strategis. Tapi, bukan itu tujuan kita ber-HMI. Tujuan kita ber-HMI boleh disingkat dengan ” akademisi, pencipta, pengabdi yang dinafasi islam serta titik sempurnanya adalah terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah swt”. Titik sempurna yang agung sebagai tugas kita sebagai khalifah( duta pembaharu, penyuara ide-ide progresif).

Karena HMI yang begitu sederhananya bukan berarti pemikiran kita harus sederhana dan mengikuti arus-arus yang dilalui banyak orang. Kita harus berani mencipta arus-arus baru. Bertolak dari setiap yang telah diciptakan Tuhan. Api kebatilan boleh saja besar seperti yang telah diceritakan di atas. Tapi bulbul yang kecil tak boleh takut. Paling tidak, bulbul yang kecil mampu membuktikan eksistensinya sebagai mahluk pembela kebenaran. Bukankah batu yang padat bisa berlubang karena tetesan air meski sebesar kerikil? Artinya bukan seberapa besar atau kecilnya organisasi dihitung keberadaannya. Tapi, sejauh mana strategi dan taktiknya memberi arti sumbangsih pada masyarakat pada umumnya. Nampaknya ini cita-cita yang agung. Langkah kita boleh kecil tapi memberi arti yang dinafasi dengan semangat empati. Minimalnya kita tidak diam. Persis seperti bulbul di atas.

Karena itu, langkah sederhana HMI seperti LK 1, LK 2, dan LK 3 sebagai bentuk training formal harus diikuti dan bahkan wajib kalau mau dikatakan sebagai kader. Sebab, seseorang yang sudah mendaftarkan secara formalitas dan lulus training di HMI bisa saja dikatakan sebagai anggota tapi tidak sebagai kader kalau belum sempurna dalam trainingnya. Begitulah kira-kira dalam perbincangan saya dengan salah satu kader HMI di perjalanan kemarin( 25/01). ini benar. Karena mengacu pada pedoman perkaderan HMI. Dengan begitu, tidak hanya lahir kader-kader bulbul yang militan. Bisa jadi, akan lahir rajawali yang terbangnya sendiri tapi kuat menantang panasnya pergolakan dan resolusi pandangannya yang tajam. Kader HMI yang seperti inilah yang diharapkan masyarakat islam dan Indonesia. Sekiranya tanpa mendewakan Nurcholis Madjid sebagai cendekiawan muslim Indonesia. Ia lahir dari rahim HMI yang penuh pergolakan pemikiran. Tercatatlah, saat itu Nurcholis madjid sempat jadi lawan pemikiran ide-ide Ahmad Wahib dan Johan Efendi. Kendati pada akhirnya ide Nurcholis madjid dan Wahib bertemu. Nurcholis madjid, Wahib, dan Johan bukan lahir di ruang hampa tanpa adanya pergolakan. Bukan juga lahir tanpa proses perkaderan yang matang di HMI. Mereka bertiga bukan saja menjadi bulbul yang melawan api kebatilan. Tapi telah bermetamorfosa menjadi rajawali.

Kelihatannya begitu ”waw” ketika membaca dan mengetahui profil alumni HMI yang naik daun karena ide-ide serta pengabdiannya. Nurcholis madjid, Wahib, Johan, Akbar Tandjung, Mahfudh MD,Anas Urbaningrum dll begitu memotivasi kita untuk ikut HMI. Tapi setelah sampai di dalamnya merasa kecewa. Terlalu cinta dan terlanjur kecewa ketika di dalamnya. Anas Urbaningrum pernah berpesan untuk tidak terlalu mendewakan HMI. Anas memang benar. yang perlu ditanyakan, kenapa ketika disuruh berproses di HMI dengan mengikuti training formalnya tidak mau. lantas kecewa ketika dari sudut pandangnya tak sesuai dengan keinginannya. Yang namanya berproses tentu mengikuti rencana serta langkah-langkah yang matang. Proses itu penting, hasil itu bonusnya. Jika lapar makan. Kenyang adalah bonusnya.

Karena ber-HMI harus siap bermilitansi. Ikut serta berproses di jenjang perkaderan. Said muniruddin penulis buku ” Bintang Arasyi” memaknai terbina di redaksi tujuan HMI sebagai bentuk proses. Dengan kata lain, yang namanya anggota HMI harus berproses. Dari sekedar anggota menjadi kader. Kemungkinan ada pertanyaan, apakah bisa membantu jenjang karir setelah menjadi alumni kampus? Bisa asalkan berproses. Bukankah jenjang perkaderan seperti LK 1, LK 2, LK 3 akan mengasah kemampuan berpikir, berorganisasi, dan membentuk jaringan? Bukankah keterampilan berpikir berorganisasi dibutuhkan di instansi tertentu? Karena itu, ber-HMI siap bermilitansi.

HMI memang bukan surga dan pergolakan pemikirannya bukan neraka. Sebab itu, organisasi ini bukan wadah mencari muka dengan kegagahan jabatan. Bukan pula semacam neraka di tiap pergolakannya. Mencari untung pada akhirnya akan buntung. Menjadi petarung bukan malah ngumpet dalam sarung. Jangan ratapi pergolakannya tapi sikapi dengan sigap. Sebab, petarung hebat menggunakan kekuatannya dengan bijak. Pelaut handal tak pernah lahir dari laut yang tenang. Ber-HMI lah !, jangan lupa bermilitansi. Yakin usaha sampai.

  • *Penulis adalah Ansori Alfan jebolan LK-II HMI Cab.Serang, ia aktif sebagai aktivis penggerak literasi di Kabupaten Pamekasan. Itu terbukti dengan posisi dia sebagai sekretaris di Komunitas Pamekasan Membaca (KOMPAK).