Menu

Mode Gelap

Opini · 18 Nov 2021 07:37 WIB ·

Kata-kata yang Diistirahatkan


 Kata-kata yang Diistirahatkan Perbesar

Oleh : Supriatna (Wakil Presiden Mahasiswa STAI Dr. Kh. Ez Muttaqien Purwakarta)

Alih-alih sedang ramai suatu konten yang sedang diperbincangkan banyak orang. Ada satu hal yang menjadi perbincangan masyarakat Purwakarta, bahkan isu yang digiring sampai ke ranah daerah dan Nasional.

Sontak saja saya dan ribuan mahasiswa lainnya merasa sangat dicederai dan terhinakan oleh persoalan tersebut, karena apa yang menjadi kewajiban kami selaku kaum terpelajar kini seolah dipaksa harus bertugas ganda dalam menjawab peranan sosial yang tak seharusnya menjadi fungsi kami. Walaupun secara peran memang semua peran kepekaan terhadap lingkungan adalah perhatian bersama, namun ada yang lebih mencengangkan yakni tentang suara mahasiswa yang secara tidak langsung dibungkam secara perlahan.

Teringat oleh suatu perkataan Imam Syafi’i bahwa “Sebaik baiknya manusia yakni manusia yang bermanfaat untuk orang lain”. Namun hal ini menjadi gaduh ketika peran suatu mahasiswa menjadi tak relevan dengan yang menjadi tugasnya. Tak beres dengan itu, saya pun selaku mahasiswa sangat menyayangkan apabila kami menjadi alih fungsi untuk menjadi sama seperti apa yang telah ditugaskan pemerintah, karena jelas kami pun mengerti bahwa kami punya asas Tri Darma Perguruan Tinggi. Karena hal yang paling utama adalah pendidikan, kedua penelitian dan yang terakhir barulah pengabdian, seolah olah ini menjadi yufimisme untuk pemerintah agar memberikan angin segar untuk menyamaratakan seluruh tugas, fungsi dan peran mahasiswa.

Lewat insiden tersebut, saya sepakat bahwa mahasiswa harus tetap kritis untuk tetap menambah kelimuan, serta peran kami terhadap pembangunan negeri ini, karena tak akan ada pemerintah kalau mereka tak belajar terlebih dahulu. Dan tak akan menjadi suatu tokoh, akademisi, politisi serta ekonom kalau kita tak belajar terlebih dahulu.

Maka dari itu, jelas ini memperihatinkan dan sangat melukai persefsi kami selaku mahasiswa, yang mana gelar yang kami sandang adalah para penerus bangsa, apalagi istilah “Pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa yang akan datang”. Sontak semua hal itu seperti seolah sirna kalau misalkan hari ini suara dan aspirasi kami tak pernah didengar lagi oleh pemerintah dan tak didukung lagi oleh masyarakat.

Ini akan menjadi bom waktu. Lambat laun ketika memang yang seharusnya menyikapi semua hal ini adalah mahasiswa, lalu dimana peran yang lain? Apakah diam saja memakan gaji buta, atau memang hanya perangkat parasit saja? sebab begitu miris apabila mendengar hal tersebut. Oleh karena, itu teruntuk seluruh Mahasiswa jangan takut dan jangan gentar ketika melakukan kebenaran dan menyampaikan kritik, karena jelas itu adalah suatu kerangka berfikir bahwa kami memang terpelajar. Coba bayangkan kalau misalkan kami tidak kritis? Ya, sama saja seperti masyarakat awam yang tidak mengenyam pendidikan.

Hidup mahasiswa dan hidup kebenaran. Jangan takut jangan gentar, sebab karena hal inilah pemerintah harus terus kita awasi dan kritik kinerjanya. Karena kalau hanya diam dan tak pernah melawan, lambat laun pemerintah ini akan semakin sewenang-wenang dan tidak sesuai dengan apa yang menjadi janjinya serta tugas, fungsi dan perannanya.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pengurus HMI Cabang Pamekasan Periode 2021-2022 Resmi Dilantik

19 Januari 2022 - 21:41 WIB

KOHATI Berkomitmen Wujudkan Indonesia Bebas Stunting

19 Januari 2022 - 01:18 WIB

Tuhan Maafkan, Saya Belum berislam

18 Januari 2022 - 06:52 WIB

Choirul Ainiyati, Doktor Ke 9 Alumni HMI di Januari 2022

18 Januari 2022 - 00:46 WIB

35 Peserta Ikuti Kohati Development Program

16 Januari 2022 - 15:56 WIB

HMI Laporkan Dugaan Korupsi ke KPK terkait Penetapan Wabup Bekasi

12 Januari 2022 - 02:54 WIB

Trending di News