14 Juni 2021

Kecenderungan Bacaan Kader HMI Tarbiyah IAIN Madura

A Ansori

Sebuah Kajian Isi Dokumen Reading Challenge

Oleh : A. Ansori ( Pengurus LAPMI Pamekasan, dan merupakan salah satu penggagas adanya Komunitas Pamekasan Membaca ‘KOMPAK’)
Editor : Taufik

Ketika membaca sayembara yang diadakan kabid PPPA Komisariat Tarbiyah, saya langsung mengapresiasi. Sebab, paling tidak budaya membaca bagi kader HMI Tarbiyah digalakkan kembali. Saya tidak melihat proses bagaimana kabid PA mengonsep semuanya. Saya pikir. Ini ide bagus untuk menumbuhkan minat membaca di kalangan mahasiswa khususnya kader HMI tarbiyah. Bisa dikatakan sebagai titik berangkat untuk terus menumbuhkan minat baca. Meskipun dalam beberapa hal, evaluasi berbasiskan data yang diperoleh dari catatan kabid PA terhadap jumlah halaman, jenis buku sampai mungkin berapa buku yang ditarget dalam sepekan.

Memang, tidak mudah menumbuhkan minat baca. Butuh kesadaran untuk membaca. Kesadaran akan pentingnya membaca biasanya dirasakan ketika menghadapi persoalan. Sudah tentu, persoalan mendorong seseorang untuk mencari solusinya. Membaca buku dengan menelaah dengan mengambil intisari bacaan. Bisa juga tanpa persoalan yang perlu dipecahkan dengan mencari jawaban di buku, membaca bisa saja karena penasaran akan isi yang disampaikan penulis. Baik di buku fiksi atau non fiksi seperti jurnal peneltian, buku-buku ilmiah yang jumlahnya banyak.

Dilansir dari Tirto,id, ada sebuah gerakan 15 menit membaca. Gerakan ini merupakan program yang dicanangkan kementerian pendidikan dan kebudayaan Indonesia, Anies baswedan. Gerakan ini menyasar kalangan siswa dari tingkatan paling dasar sampai menengah atas. Memang tidak ada reward bagi yang membaca. Tetapi, dua usaha ini sebagai fondasi awal membangun peradaban. Tetapi, Tanpa memahami bagaimana membaca itu sendiri kita akan kehilangan pedoman.

Karena itu, Ada banyak definisi tentang membaca sebut saja misalnya pendapat Finochiaro yang mengatakan bahwa membaca adalah memahami arti yang terkandung dalam bahasa tertulis. Tidak cukup memaknai membaca sebagai memahami arti dari kalimat yang tertulis. Perlu juga berkomunikasi lewat bahasa tertulis dengan penulis. Hal ini seperti yang dikatakan Kolker. Memahami dan membangun berkomunikasi dengan penulis bisa membantu kita memahami lebih cepat apa yang disampaikan penulis. Kita tidak banyak mencari tahu siapa penulis dengan latar belakang keilmuannya. Ideologi yang ikut tersampaikan ke dalam buku yang ditulis akan mempengaruhi konsep yang disampaikan. asumsi saya: seseorang akan dipengaruhi oleh bacaannya. Bacaannya akan membentuk paradigmanya. Seseorang akan cenderung ikut pikiran kiri jika dalam kesehariannya banyak membaca buku-buku kiri. Begitu juga akan dengan buku bacaan yang lain.

Analisis data

Setelah memperoleh data yang didapat dari dua pengurus komisariat bersangkutan. Diantaranya Ulfatul muslimah sebagai kabid PA dan Hanafi sebagai kabid KPP. Data saya peroleh dari Hanafi. Kemudian saya konfirmasi ke kabid PA. sebenarnya kabid PA mengupload di story, saya konfirmasi terkait beberapa hal yang perlu diperjelas.

Data yang diperoleh saya kaji. Seperti yang telah dikatakan Weber, Kajian isi ini merupakan metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang shahih dari sebuah buku atau dokumen ( 2014: 181). Kajian isi bisa digunakan untuk memperoleh penafsiran dari sebuah data. Kajian ini memang menekankan pada analisis secara kuantitatif, tetapi memang ada juga yang dipakai untuk kualitatif. Karena langkah pertama analisis ini adalah kategori, saya menentukan kategori dengan strategi pulang-pergi. Konkretnya, strategi ini menurut (Guba,dkk. 2014:221) merupakan aturan-data-aturan-data dan seterusnya. Hal ini sesuai dengan petunjuk

Kategori sebagai langkah awal dalam kajian isi ini. Ada beberapa kategori untuk mengklasifikasi beberapa unit materi analisis. Kategori yang saya pakai diantaranya tentang jumlah fiksi dan non fiksi yang dibaca, jenis-jenis fiksi dan non fiksi dan banyaknya halaman jenis bacaan yang konsisten berada di angka 100 sampai 600. Analisis berikut ini sebagai sandaran saya menginterpretasi data. Sebab, menurut (Moleong, 2014: 223) langkah terakhir dari analisis adalah interpretasi atau penafsiran hasil.

Saya memulai analisis dari kategori jumlah fiksi dan non fiksi yang dibaca. Adapun Jumlah fiksi yang dibaca sekitar 20 buku. Sedangkan jumlah non fiksi sekitar 50 buku. Pada kategori Jenis fiksi yang dibaca berupa novel dan puisi.sedangkan pada kategori Jenis non fiksi yang dibaca berupa biografi, filsafat, keislaman, pendidikan, tips, dan sosial-politik. Pada kategori halaman terbanyak, seperti yang telah tertera di data sekitar 656 halaman. Sedangkan halaman paling sedikit sekitar ½ halaman. Kader HmI tarbiyah IAIN Madura yang mengikuti reading challenge ini sekitar 25 orang.

Interpretasi

Data yang dipecah-pecah sesuai dengan kategori, kita bisa baca dengan sebagai berikut:

Jumlah fiksi yang dibaca kader HMI Tarbiyah IAIN Madura berada di kisaran 20 buku. Lebih sedikit daripada buku non fiksi yang dibaca dengan jumlah sekitar 50 buku. Kecondongan dari 25 kader HMI IAIN Tarbiyah yang tergabung dalam reading challenge pada bacaan non fiksi. Dengan jenis bacaan mulai dari keislaman, filsafat, pendidikan sampai sosial-politik. Meskipun dalam beberapa catatan rata-rata jumlah halaman yang dibaca jauh lebih sedikit daripada fiksi.

Jenis fiksi dan non fiksi yang dibaca bisa digunakan sebagai pandangan awal untuk memetakkan kelompok sesuai minat baca masing-masing guna tercapainya iklim bacaan yang berkualitas. Biasanya, seseorang cenderung meningkat semangatnya di dalam iklim yang sama bacaannya. Tetapi, karena yang ikuti reading challenge berjumlah 25 orang. Kader-kader yang tidak bergabung bisa jadi menunjukkan data-data kemungkinan berbeda.

Karena jumlah halaman yang banyak dibaca ada pada kategori fiksi bisa diasumsikan dengan dua hal: pertama, kader membaca buku non fiksi karena ada sesuatu yang dicari atau sekedar rasa ingin tahu. Kemudian ditinggalkan karena tidak menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Kedua, fiksi seperti novel mendorong pembaca untuk cepat menyelesaikannya karena ingin tahu kesimpulan yang di dapat dari cerita.

Dari 25 kader HmI Tarbiyah IAIN Madura, kecenderungan rata-rata memang pada buku-buku non fiksi meskipun dengan jumlah halaman yang dibaca lebih sedikit. Hal ini, mengharuskan kita kembali pada pemahaman semula, bahwa membaca adalah memahami. Bagaimanapun itu membaca tentu dilandasi pelbagai macam tujuan, seperti yang telah dikatakan Ahuja ( 2010:15) sebagai berikut:

Untuk tertawa.
Untuk menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman sehari-hari.
Untuk menikmati kehidupan emosional dengan orang lain.
Untuk memuaskan kepenasaran
Untuk menikmati situasi dramatik seolah-olah mengalami sendiri
Untuk memperoleh informasi tentang dunia yang kita tempati.
Untuk merasakan kehadiran orang dan menikmati tempat-tempat yang belum pernah kita lihat.
Untuk mengetahui seberapa cerdas kita menebak dan memecahkan masalah dari pengarang.

Membaca fiksi maupun non-fiksi tentu memiliki tujuan tertentu. Yang paling mendorong untuk membaca sebuah buku adalah rasa penasaran karena melihat judul yang menarik atau controversial atau memancing orang untuk mengerutkan dahi. Hal ini bisa dilihat dari perbincangan dan resensi terhadap buku “ ternyata akhirat tidak kekal” yang ditulis Agus Mustofa dan sejarah Tuhan yang ditulis Karen Amstrong. Memang, ada buku yang judulnya tidak controversial. Tapi isinya controversial, “pergolakan pemikiran islam: catatan harian Ahmad Wahib”. Kontroversi tidaknya sebuah buku bukan persoalan utama. Sebab kejahatan yang lebih kejam dari pembakaran buku adalah tidak membacanya. Ucap Joseph Brodsky.