22 Oktober 2021

Ketidakpastian

Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Si. (Foto: babelpos.co)

Oleh: Prof. Dr Bustami Rahman, M.Si,
Mantan Rektor UBB, alumni KAHMI Jember

Kemarin seseorang bertanya ke saya tentang kegalauan kita berkait dengan covid-19 ini. Pertanyaannya spesifik dan katanya harus dijawab secara sosiologis. Mengapa sekarang kita gagap menghadapi masa depan hanya karena corona? Mengapa kita semua berada dalam situasi ketidakpastian dalam beberapa bulan ke depan ini?

Saya kira penghuni planet bumi ini dalam sejarah kebumiannya telah berkali-kali mengalami kejadian yg dahsyat. Salah satu yg kita pernah alami adalah disaster yg tidak lazim akibat perubahan cuaca yg sangat ekstrem, yg pernah mengubah peta Asia Tenggara dari yg tadinya disebut Benua Sunda menjadi peta seperti sekarang ini. Demikian juga, penyakit epidemik yg merebak dahsyat pernah dialami penduduk bumi dalam periode puluhan atau seratus tahunan sekali. Dalam usia bumi dan penghuninya yg demikian tua ini, masih juga sejarah mencatat tahap-tahap kebangkitan kembali manusia bumi memulai ‘kehidupan baru’nya yg masih sulit diprediksi oleh sains sehingga menjadi objek strategis bagi agama utk ‘meramal’nya.

Dalam Sosiologi ada paradigma awal yg membantu menjelaskan, yg meskipun telah dibantah sana sini masih banyak juga pengikutnya. Paradigma awal itu disebut aliran positivisme. Di tengah bantahan paradigmatik (yg tak mungkin dijelaskan panjang lebar disini), ada salah satu teori yg mungkin dapat menjelaskan ttg disaster yg selalu terulang itu. Teorinya disebut dg ‘equilibrium state’.

Teori Equilibrium State menjelaskan tentang kemampuan manusia utk selalu bisa mengendalikan ketidakstabilan dan ketidakpastian ke arah suatu tahap kestabilan baru (state of new stability). Itulah sebabnya menurut teori ini, manusia sulit punah di muka bumi ini kecuali (menurut iman agama), terjadinya kiamat kubro.

Itu teori dasar yg harus dipahami dulu. Kemudian dalam teori generasi baru, kita sudah kenal berbagai teori prediksi. Salah satu yg sangat terkenal di tahun 1970 adalah buku yg ditulis oleh Alvin Toffler: ‘The Future Shock’. Buku best seller di abad 20 ini sudah memprediksi bahwa masa depan manusia secara lekas akan berhadapan dengan begitu banyak ketidakpastian (uncertainty). Salah satu yg menarik menurutnya adalah runtuhnya birokrasi dan harus digantikan oleh adhokrasi (adhocracy), yakni tatanan pemerintahan yg tinggi tingkat fleksibilitasnya utk menghadapi tantangan ketidakpastian. Contoh yg sekarang kita lakukan yg mungkin kurang disadari kita adalah terwujudnya PPPK atau ASN yg bakalan berproses mengantikan fungsi PNS. PNS dianggap aparatur yg kaku dalam tatanan birokrasi, sedangkan PPPK adalah cerminan tatanan adhokrasi yg lebih fleksibel.

Dalam buku yg lebih baru di tahun 1975, Charles Berger dan Richard Calabrese menulis buku tentang Teori Pengurangan Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory) atau disingkat dg URT. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana proses terciptanya ketidakpastian dan bagaimana upaya menguranginya.

Menurut Berger dan Calabrese, ketidakpastian terjadi di kala manusia atau masyarakat menemui hal yg baru. Contoh yg diberikan oleh kedua penulis ini adalah di kala seseorang baru saja masuk sekolah atau kelas yg baru, atau seseorang yg baru saja menjadi pegawai baru. Pasti yang bersangkutan akan menemui suasana ketidapastian. Upaya utk mengurangi ketidapastian itu tidak lain adalah mengenalkan diri dan mengenal orang lain di tempat yg baru itu. Jika perlahan kita sudah lebih mengenal situasi, maka barulah kita bisa melakukan prediksi ke depan.

Nah, demikianlah jika kita mengikuti teori di atas, maka ‘disaster’ corona ini bukan barang baru bagi manusia. Belajar dari sejarah kebumian dan teori equilibrium, disaster ini akan menemui titik equibriumnya dan bumi akan kembali bergerak diatas titik equilibrium itu.

Ketidakpastian menurut teori berikutnya itu bisa diperoleh melalui pengenalan (recognizing) disaster itu. Artinya corona harus dikenali dg baik dan dg akurasi yg tinggi. Ini sesuatu yg baru yg menjadi sumber ketidakpastian. Jika sudah dikenali, maka lakukan upaya penanggulangan dan juga prediksi kapan akan berakhir.

Apakah kita sudah melakukan itu semua? Secara teoretis sedang kita lakukan. Kita beruntung situasi mengenal corona lebih memiliki waktu dibandingkan Wuhan, jadi ada time range utk berpikir dan berbuat. Aneh juga jika kebijakan yg kita buat tidak lebih tepat dibandingkan dengan negara lain yg lebih duluan mengalaminya. Artinya tidak mampu memanfaatkan lesson learn dari pengalaman orang lain.

Sebagai sosiolog saya memandang proses dasar yg dilakukan oleh Pemerintah sudah benar. Yang harus saya sarankan adalah proses penanggulangan yg tidak boleh menciptakan ketidakpastian setiap waktu. Pemerintah harus merupakan satu-satunya otoritas kekuasaan politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Jangan ada kesan sebagian rakyat di luar Pemerintahan tampak lebih pintar ketimbang Pemerintahnya sendiri. Ini akan menciptakan ketidakpastian yg terus menerus. Satu pintu komunikasi yg harus didengar semua pihak besar pengaruhnya meredam utk ketidakpastian di dalam masyarakat.

Sumber: http://kahmijatim.org/ketidakpastian/