28 Juli 2021

Kita Punya Watak yang Lemah

Penulis: Muhardi (Kader HMI Komisariat Ushuluddin Filsafat dan Politik Cabang Gowa Raya)

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Indonesia punya watak yang lemah, karakter kurang kuat. Manusia indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “survive” bersediah mengubah keyakinannya. Makanya kita bisa melihat gejala pelacur intelektual amat mudah terjadi dengan manusia indonesia.
Mochtar Lubis

Sepenggal tulisan dari Moctar Lubis yang dikutip dari bukunya tentang Manusia Indonesia, sebuah ceramah singkat yang disampaikan cukup lugas di tahun 1970-an dan diterbitkan menjadi sebuah buku. Di waktu yang bersamaan pula menimbulkan pendapat yang pro konta dari berbagai pihak. Ketika menyelami buku tersebut sepenggal benang merah akan ditemui yang dimaksudkan Mochtar Lubis sebagai manusia Indonesia, manusia indonesia seperti yang distereotipkan, atau meminjam ungkapan Walter Lippmann yang digambarkan dalam benak “Pictures In Our Head”. Stereotip tidak seluruhnya benar, tidak pula sepenunyah salah. Stereotip tumbuh dalam benak orang karena pengalaman, observasi, tetapi juga prasangka dan generalisasi.

Soal manusia Indonesia sebenarnya sama saja dengan dasar manusia pada umumnya. Kalaupun kita mau percaya pada pemikir klasik, seperti Plato dan Arisoteles, maka mereka berpendapat bahwa manusia itu sebenarnya “Binatang Biasa” tetapi kelebihannya karena memiliki akal. Bila akal itu dipergunakan sebagaimna seharusnya yakni dipakai buat kebaikan, maka itu adalah satu manusia komplit, tetapi bilamana akal itu dipakai buat kejahatan maka manusia itu lebih buas dari binatang biasa. Plato berpendapat bahwa manusia dapat dibuat baik dengan jalan pendidikan.

Sejak zaman Belanda sampai kita merdeka dunia pendidikan selalu diremehkan. Jika benar ungkapan Plato, pendidikan merupakan salah satu faktornya yang akan membawa manusia ke hal yang baik, maka tentu kesanalah orang harus mencari pemecahannya. Gerak kian angkuh, bebas tanpa kompromi, maka perlu pula kerangka tepat sebagai pisau analisis yang secara tajam, gamblang dan jujur mengupas seberapa jauh sosok manusia Indonesia dan bagaimana memperbaikinya melalui pendidikan.

Pendidikan yang tepat tentu banyak membantu. Pendidikan haruslah menghasilkan sikap reflektif secara kritis di tengah kegelisahan yang porak-poranda. Pembebasan adalah sebuah praksis, tindakan dan refleksi manusia atas dunia untuk dapat mengubahnya. Kita mesti banyak belajar, meskipun ungkapan belajar sudah berumur tua. Sejak manusia ada kegiatan belajar juga sudah ada. Saat itu, manusia mulai belajar dari dan dengan alam. Mereka berburu, semula tanpa alat, kemudian berburu dengan alat. Mereka mulai bertani, mereka pula mulai paham untuk apa ada hujan, untuk apa pula ada matahari. Mereka mulai tau menggemburkan tanah lalu menjatuhkan benih di atasnya.

Beda dengan belajar, sekolah sebenarnya masih sangat belia, institusi yang disebut sekolah tersebut masih berumur 200-an tahun. Di indonesia bahkan umurnya lebih belia lagi, kampus justru lebih tua. Harvard berumur 400-an tahun. Ironisnya seiring pergantian tahun dan usia yang kian menua, institusi sekolah itu, belajar dibuat menjadi hak paten sekolah, terutama dinegara kita ini. Pengertian belajar menjadi ringkas yakni “Pergi ke sekolah”. Pada hal diluar sana, ketika seorang anak pergi ke sawah, beternak, berkemah, mengamati dan membantu orang tua, kesemua hal tersebut akan dianggap sebagai bukan belajar. Di sinilah sekolah membuat belajar menjadi jauh dari kehidupan bahkan alam.

Ungkapan kian tergesah-gesah dan ironis karena sekolah kita tidak hanya dikatakan belia, tetapi juga masih sangat gagap untuk mengadaptasi pengetahuan dengan lingkungan sekitar. Kita selalu menyepelehkan anak-anak yang pergi ke pantai, lalu mengamati laut, menangkap ikan, melihat gejala-gejala alam secara perlahan. Kita menyepelekan anak yang pergi kepasar, melihat transaksi jual beli, kerumunan manusia, melihat onggokan sampah. Kita menyepelekan anak yang pergi ke sawah, menanam benih kemudian merawatnya. Sebaliknya kita mengagumi anak yang pergi kesekolah dengan jubelan tas yang melimpah, selepas itu pergi ke gedung baru bernama bimbel hingga larut. Kita menganggap mereka adalah sosok pembelajaryang tulen.

Padahal sungguh mereka hanya mesin belajar. Mereka bahkan tidak tau untuk apa mereka belajar. Jika tahu, meraka hanya tau bahwa belajar semata agar juara 1, agar bisa sekolah di tempat yang favorit, agar diterima di PTN ternama, agar bekerja dengan gaji yang melimpah. Belajar sudah melulu di dalam gedung, lama-lama kita akan terasing oleh alam. Saya kira tak sala mengulangi kritikan dari Iwan Pranoto yang menyebut bahwa saat ini, di sekolah sekarang kita sedang melimpah-limpahnya kata “Belajar” tapi sayang disana tidak ada pemelajaran.

Mungkini inilah alasan mengapa Muchtar Lubis berkesimpulan bahwa Indonesia punya watak yang lemah, karakter kurang kuat. Manusia indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Hal ini menjadi bahan refleksi untuk anak muda, selain beberapa ciri-ciri manusia Indonesia yang telah disebutkan dalam buku Muchtar Lubis, pendidikan kita juga harus menjadi perhatian penuh agar manusia indonesia bukan sekedar belajar tanpa adanya pembelajaran didalamnya dan semangat pembaharu, progresif dan inovatif tentu harus menjadi nafas pendidikan yang senantiasa menawarkan gagasan-gagasan pembaharu dan jauh dari watak yang lemah seperti ungkapan Muchtar Lubis.

*) Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Yakusa.Id