3 Agustus 2021

Kode Etik : Dipatuhi Bukan Dilangkahi

Karya : Kholisin Susanto (Kader HMI Cabang Pamekasan Komisariat Insan Cita IAIN Madura)
Editor : Taufiq

Kode etik sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, seperti dalam suatu instansi atau perguruan tinggi kode etik sangatlah berteman dengan warga kampus karena dirinya merupakan sahabat yang mengawasi prilaku masyarakat yang ada di dalamnya, baik pada mahasiswa, dosen dan seluruh civitas akademika lainnya. Kode etik menjadi alat kontrol segala sesuatu dan diterapkan untuk kepentingan kelompok sosial itu sendiri. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) kode etik berarti kumpulan peraturan yang bersistem dan diterima oleh kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku. Sedangkan kode etik sosial adalah sistem norma yang membedakan tingkah laku yang baik dan yang buruk dalam pergaulan antar manusia. Tujuan utama kode etik adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok.

Namun, dewasa ini eksistensi kode etik kampus sudah tak dihiraukan lagi oleh kalangan akademisi bahkan menjadi kebiasaan yang kadang diacuhkan oleh kaum pengajar di perguruan tinggi. Bukti dengan adanya berita pada 15 Oktober 2018 lalu yang dirilis di Vita Pos salah satu media Lpm Activita IAIN Madura mengungkap pelanggaran-pelanggaran kode etik dan penyelewengan atau penyimpangan terhadap norma yang ditetapkan kampus dan diterima oleh kelompok intelekntual itu sendiri, sehingga hal tersebut mengarahkan atau memberi petunjuk tidak baik kepada anggota lainnya karena perbuatan yang  mendegradasikan mutu seorang pelajar.

Kita sering melihat mahasiswa atau mahasiswi yang tidak tertib parkir, membonceng dua orang, berambut panjang, memakai sandal, celana bolong dan berbusana yang menampakkan aurat. Labih ironisnya lagi berduaan dengan lain jenis di tempat yang sepi sudah seperti menjadi kebiasaan yang tidak salah di mata masyakat.

Hemat penulis pelanggaran itu terjadi disebabkan belum terbentuknya kultur dan tidak adanya kesadaran etis dari para pengemban kode etik untuk menjaga martabat kepribadian dan kehormatan lembaga mereka. Selain itu karena kurang ketatnya kontrol dan pengawasan dari penegak kode etik. Mahasiswa hari ini tidak sedikit yang mengutamakan ego dari pada akal sehatnya, mementingkan keinginan pribadi dan tidak menghargai keputusan dan ketetapan orang lain.

Ditambah Unang Utomo Hadiman mengemukakan penyebab adanya pelanggaran kode etik karena perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Perbedaan latar belakang yang mencolok sering kali menimbulkan sebuah konflik kepentingan sebagai contoh seorang yang memiliki budaya Jawa yang kental bekerja dalam sebuah organisasi multinasional. Latar belakang budaya ini dapat menimbulkan konflik kepentingan dalam diri dan bertentangan dengan keputusan orang lain.

Melihat paparan diatas, mahasiswa atau yang bisa dibilang masyarakat berilmu sangatlah perlu menyadari dan mematuhi keberadaan suatu peraturan. Hal itu menjadi sangat wajib mengingat seorang pelajar bukan hanya dituntut menjadi seorang berpengetahuan namun juga harus memiliki etika yang baik. Sangat disayangkan jika individunya cerdas tapi tidak bermoral, seperti yang pernah dikatakan oleh Habib Umar bin Hafidz orang yang tinggi akhlaqnya walaupun rendah ilmunya lebih mulia dari orang yang banyak ilmunya tapi kurang akhlaqnya.

Marilah kita buka cakrawala pengetahuan kita, prinsip baik kita, dan keinginan kita yang tidak mementingkan kepribadian, demi menjaga martabat profisi kita sebagai pejuang gelar orang berpengetahuan tinggi dan bermoral.