14 Juni 2021

KOHATI Sayangkan Pelajar SMA di Bengkulu yang Hina Palestina Dikeluarkan dari Sekolah

Pengurus Korps HMI-Wati (KOHATI) PB HMI Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Octy Avriani Negara (kiri).

YAKUSA.ID – Pengurus Korps HMI-Wati (KOHATI) PB HMI Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Octy Avriani Negara, menyayangkan sanki terhadap MS, pelajar SMA di Bengkulu yang dikeluarkan dari sekolah karena membuat konten menghina Palestina di Tik Tok.

“Sanksi terhadap MS harusnya tidak dikeluarkan. Apalagi dia sudah meminta maaf, mengakui kesalahan atas perbuatannya. Sebaiknya MS di bimbing dan di bina terlebih dahulu, bukan malah di keluarkan dari sekolah karena secara hukum melanggar pasal 31 UUD 1945,” kata Octy pada yakusa.id, Jumat (21/5/2021).

Perempuan yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum KOHATI Cabang Bengkulu 2014-2015 ini mengingatkan, fungsi pendidik adalah untuk mendidik. Sehingga sebaiknya pendidik bisa mendidik siswanya agar bisa berperilaku yang lebih baik ke depannya.

“Pendidik itu mendidik bukan malah menghukum,” ujar Octy.

Menurut Octy, Pemerintah Provinsi Bengkulu harus menunjukan keseriusannya dalam menangani masalah ini. Mengingat sanksi drop out tersebut telah mencabut hak pendidikan bagi MS itu sendiri.

“Yang lebih penting saat ini bukan mengurusi orang-orang yang menghina Palestina. Akan tetapi membebaskan Indonesia dari kebodohan,” tegas penulis buku Menuntaskan Janji itu.

Sebelumnya, MS (19) pelajar kelas II SMA di Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu dikeluarkan dari sekolahnya akibat tindakan ujaran kebencian menghina Palestina di media sosial TikTok-nya yang sempat viral.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Kabupaten Bengkulu Tengah, Adang Parlindungan di Bengkulu mengatakan keputusan yang diambil setelah pihak sekolah mengevaluasi tata tertib sekolah dan pelanggaran MS sehingga hasilnya yang bersangkutan sudah melampaui ketentuan.

“Keputusan itu merupakan jalan keluar yang sudah disepakati bersama antara pihak sekolah, orangtua MS dan sejumlah pihak terkait yang dimediasi kepolisian dan sejumlah tokoh masyarakat,” katanya, Rabu (19/5/2021).

Berdasarkan hasil rapat internal yang telah dilakukan oleh Dinas Cabdin Pendidikan Wilayah VIII Kabupaten Benteng dengan pihak sekolah, pelajar tersebut dikembalikan ke orang tuanya untuk dibina.

Selain itu, MS juga sudah membuat permintaan maaf yang disampaikan secara terbuka dan disebarluaskan lewat media sosial miliknya.

Dari keputusan rapat yang dihadiri oleh Kapolres Benteng, Wakapolres Benteng, Kasat Intel Polres Benteng, Kasat Reskrim Polres Benteng, Kepala Cabdin Pendidikan Wilayah VIII Benteng, kepala sekolah, ketua komite, FKUB, Badan Kesbangpol Benteng, Kemenag Benteng, Komisi I DPRD Benteng tersebut disepakati kasus MS dinyatakan selesai.

 

Reporter: Kholisin Susanto

Editor: Nurus Solihen