22 Oktober 2021

Kritik HMI, Antara Optimisme Dan Pesimisme

Oleh: Habiburrahman (Kabid PTKP HMI Cabang Labuhanbatu Raya)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi kader mahasiswa Islam tertua di Indonesia, secara kualitas dan kuantitas kadernya sudah tidak bisa dibantah.

HMI sangat berperan aktif melahirkan kader-kadernya dalam setiap warsa, wulan, bahkan pekan lewat berbagai training formalnya. HMI menjadi satu-satunya wadah mahasiswa kader nondeskripsi partai secara adminstratif dan legalitatif, bahkan pada organisasi Korps Alumni HMI (KAHMI) tidak bisa dikaitkan hubungan adminstratifnya dengan HMI. Independensi HMI adalah menifestasi historistik yang selalu dijaga dan dirawat kader-kadernya.

Pengantar diatas sebagai pengetahuan dasar bagi kader-kader yang baru berhimpun didalamnya, juga bahan basic introduction yang tekun dilakukan untuk merekrut cikal bakal kader untuk berhimpun didalam HMI. Berbeda dengan kader-kader yang sudah lama atau sedang berproses, teori-teori dasar itu menuai berbagai kritik dan apreasi pada realitas kekinian, bahkan puluhan tahun lalu.

Beberapa analisis, kritik, saran, dan masukan mengenai HMI datang dari berbagai stakeholder, mulai dari HMI sendiri (internal) sampai pada diluar HMI (eksternal). Agus Salim Sitompul dalam 44 Indikator Kemunduran HMI, seharusnya menjadi evaluasi bersama dan motivasi perbaikan, menanggapi 44 indikator tersebut secara pesimistif adalah kesalahan seorang kader sejati.

Dinamika dalam bentuk tulisan maupun lisan terhadap HMI sebenarnya menunjukkan bahwa HMI memiliki banyak investasi sumber daya manusia (SDM) yang memumpuni, sehingga membentuk kesadaran kritis dan kesadaran untuk saling menjaga dan merawat himpunan. HMI berhasil melahirkan budaya untuk berliterasi, bertoleransi, dan berevaluasi dalam beragam cara selagi itu masih dalam bingkai tujuan HMI.

Kritik HMI :

Kekinian, internal HMI terhegemoni dengan berbagai kompetesi kekuasaan insubstansial dalam kacamata kepentingan ummat dan bangsa. Kongres HMI ke-31 di Surabaya memperlihatkan dan mengajarkan betapa kekosongan ide keislaman dan keindonesiaan didalamnya. Dari sekian banyak konsep dan gagasan kandidat Ketua Umum PB HMI Periode 2021-2023, tidak pernah terdengar cabang membahas serius secara ilmiah terkait bagaimana konsep dan gagasan tersebut selaras dengan dinamika berbangsa dan bernegara dimasa depan.

Berangkat dari forum tertinggi HMI tersebut, keraguan dan kepesimisan merangsang kesadaran untuk berorganisasi pada cabang-cabang senusantara. Menjadi hal yang wajar jika peserta Kongres sepulangnya dari arena tidak membawa apa-apa, termasuk konsep dan gagasan besar dalam membangun negeri.

Kader HMI disetiap cabang tidak membutuhkan oleh-oleh cindremata dari Kongres (baju kaos, kalung, topi, mainan kunci, dll), kader senusantara membutuhkan pembaharuan konsep dan gagasan dalam menjawab dinamika serta persoalan diberbagai Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda, yang semakin hari jauh dari nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

HMI berfungsi sebagai organisasi kader dan berperan sebagai organisasi perjuangan, menjadi tuntutan moral kepada setiap diri kader untuk menjaga identitas organisatorisnya. Konflik didalam internal HMI menjadi perbincangan pada setiap pertemuan ke-HMI-an antar kader-kadernya. Pertemuan-pertemuan tidak lagi membahas terkait dengan bagaimana kondisi bangsa dan solusinya, namun lebih kepada konflik antar gerbong, hegemoni kekuasaan (PB HMI, BADKO, Cabang, dan Komisariat), project politik (Pilkada, Pileg, dan Pilpres), dan flayer eksistensi insubstansial.

Kondisi HMI kekinian dapat dianalogikan berupa monitor hemodinamik dan saturasi yang bertujuan megidentifikasikan gelombang denyut jantung, tekanan darah, dan oksigen pada tubuh seorang manusia. Alat medis tersebut mempresentasekan bahwa jika seseorang masih dalam keadaan hidup, maka monitor menampilkan gelombang berbentuk zik-zak, sebalik jika seorang manusia telah mati (tidak bernyawa) maka monitor menampilkan garis datar (tidak bergelombang).

Eksistensi kebenaran atas keberadaan HMI sama halnya dengan gelombang yang di-interpretasikan monitor hemodinamik dan saturasi tersebut, jika bergelombang zik-zak berarti masih hidup (ada) dan jika datar (tidak bergelombang) berarti telah mati. Benar, ruang diskusi internal HMI beberapa tahun terakhir terjebak pada doktriner “dinamika”, tanpa mengetahui susbtansi “dinamika” itu sendiri. Dan akhirnya, HMI terjebak pada budaya baru disorientasi.
Semangat berorganisasi yang dimiliki kader-kader HMI harus diakui keberadaannya, namun semangatpun haruslah benar, yaitu semangat dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai identitas kader HMI yang pernah melekat. Optimisme dan pesimisme menjadi semangat yang tidak dapat terelakkan kehadirannya, filterisasi berupa kajian dan analisis terhadap problematika kekinian di internal HMI harus diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman.

HMI harus terperbaharui kembali melalui forum-forum intelektualnya HMI yang evaluatif dan proyektif seperti Kongres, Musyawarah Daerah (Musda), Konferensi Cabang (Konfercab), dan Rapat Anggota Komisariat (RAK), hindari hegemoni dan dominasi kekuasaan yang cendrung menindas kemerdekaan individu secara moral dan struktural yang berlindung dibalik proyeksi regenerasi.

Kembalikan hak atas forum-forum intelektualnya HMI dipenuhi dengan ide, gagasan, dan gerakan yang substansial, sehingga kejayaan HMI kembali diraih secara universal. Sudah saatnya HMI menentang kemunafikan berpikir yang pelan-pelan terbudaya dalam tubuhnya, tujuan organisasi kekinian wajib hukumnya diwujudkan, namun jangan lupakan tujuan awal didirikannya HMI yaitu mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.

Tetap optimis, Yakin Usaha Sampai