16 Oktober 2021

Kuatkan Mutu Kaderisasi dan Berperan Aktif dalam Menjaga Kemerdekan serta Kedaulatan NKRI

Oleh: Pramuhita Aditya Mubdi (Kandidat Calon Ketua Umum PB HMI Periode 2021 – 2023)

Kaderisasi adalah pencetakan manusia sehingga proses pencetakanya juga harus menekankan nilai-nilai kemanusiaan. Manusia adalah mahluk yang memikiki sisi istimewa yang tidak dimiliki oleh mahluk lain, sisi manusia yang istimewa ini adalah suatu potensi. Aristoteles mengatakan bahwa manusia itu adalah ‘animal rasional’ (artinya hewan yang berfikir). Dari sisi ini bisa dilihat bahwa manusia yang tidak menggunakan cara berfikirnya maka manusia itu adalah hewan.

Begitupun dengan Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia itu insan. Insan yang artinya mahluk bisa menggunakan potensi akalnya untuk berkembang dan berfikir positif untuk menuju suatu kemajuan. Dari sisi ini insan bersifat dinamis (posiif) yang berbeda dengan iblis yang berfikir statis (negatif).

Maka dari itu dalam hal kaderisasi harus ada tolak ukur dengan mengukur seberapa jauh perilaku kader-kader HMI yang akan dicetak, karena tentu dalam melakukan kaderisasi tujuan dasarnya bukanlah mencari kader-kader HMI untuk di masukan LK I, LK II dan LK III. Tapi yang menjadi poin pentingnya dalam melakukan kaderisasi adalah suatu nilai-nilai yang dipormulasikan dalam perkaderan untuk diserap dan diterima oleh kader-kader muda HMI.

Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi yang memiliki standart perkaderan seperti yang dijelaskan dalam kurikulum pedoman perkaderan, mulai dari landasan teologis, ideologis, sosio historis dan konstitusional. Tetapi sangat disayangkan standart kurikulum di HMi hanyalah menjadi sesuatu formal yang hanya dijadikan landasan dalam melaksanakan pentrainingan (LK I, LK II dan LK III). Namun jauh dari itu, seharusnya pedoman perkaderan menjadi instrumen aturan konstitusi yang menjadi jiwa kader-kader HMI dalam melaksanakan tujuan-tujuan HMI, bukan hanya secara formal saja. Disisi lain pedoman perkaderan himpunan ini belum tersosialisasikan secara merata di tiap-tiap cabang HMI se Indonesia,.

Yang menjadi catatan penting dalam perkaderan HMI, selain menekankan nilai-nilai keHMIan juga harus secepatnya mensosialisasikan pedoman perkaderan ke seluruh cabang HMI di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan dalam pedoman perkaderan di HMI ada perubahan dan ada yang harus dirubah.

Selanjutnya, perkaderan di HMI harus terintegrasikan mulai dari tingkatan cabang sampai PB, bahwasanya perkaderan harus optimal. Mengingat dalam priode ini terjadi dinamika dalam tubuh HMI yang menghabiskan energi dan berdampak kepada perkaderan yang seharusnnya optimal.

Jika pun saya boleh bersaran dalam perkaderan HMI, ketika di era milenium ini kita menghadapi arus percepatan, baik percepatan Industri, tekhnologi dan pembangunan. Maka pola perkaderan di HMI harus bisa merespon tantangan zaman yang sedang dihadapi ini. Adapun pola perkaderan yang ditawarkan adalah pola teoritis dan implementatif. Pola teoritis sebagai ciri kader (insan) intelektual dan ilmiah, sedangkan implementatif bagian dari pada penerapanya.

Jika pola ini terlaksanakan dengan masif di tiap-tiap cabang dan di kembangkan serta disesuaikan dengan pedoman perkaderan dan kultur cabang HMI se-Indonesia maka Insyaallah proses kaderisasi akan menemukan intinya, yaitu perjuangan yang dilakukan semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Dengan implementasi kaderisasi yang harus dibatasi dalam lingkup nasional, artinya tujuan kaderisasi yang dilakukan dengan pola teoritis dan implementatif bertujuan untuk mengambil peran dalam mewujudkan ”Kedaulatan dan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia” menuju masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Akhirnya bisa kita simpulkan secara bersama-sama, bahwa catatan ini mengajak kita kembali memahami konsep keIslaman dan keIndonesiaan kita yang hari ini mulai hilang dalam implementasi kader-kader HMI.

Semoga dikongres Surabaya ini menjadi solusi terhadap permasalahan dan tantangan HMI.