Beranda Profil Lafran Pane dan Himpunan

Lafran Pane dan Himpunan

0

Oleh: Ahmad Syarifuddin (Kader HMI Cabang Sumenep)

Sudjoko Prasodjo dalam majalahnya sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul dalam sebuah artikelnya menuliskan mengenai hubungan HMI dan Lafran pane ; “sesungguhnya tahun tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran pane sendiri” karna ialah yang punya Andil terbanyak pada mula kelahiran HMI, kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya”

Melihat masa : Kegelapan hingga pencerahan batin Lafran

Jenjang pendidikan formal yang ditempuh Lafran pane memang di kenal tidak menunjukkan garis yang linier sehingga menyebabkan perjalanan hidupnya pernah mengalami kekacauan yang luar biasa. Di tanah Deli, kehidupannya kian merosot, belum tamat dari taman siswa ia sudah di keluarkan, saat meninggalkan rumah kakak kandungnya nyonya dr. Trip, Lafran kemudian menjadi petualang di sepanjang jalan Kesawan di kota Medan, tidur tidak menentu, kadang menggeletak di tempat kaki lima, emperan toko. Pada kesempatan lain ia bekerja menjadi penjual karcis bioskop, main kartu, menjual es lilin sebagai penyambung hidup.

Pada 1937, Lafran pindah ke Batavia, atas permintaan Abang kandungnya, Armin Pane dan Sanusi pane. Ia memulai sekolah kelas 7 His Muhammadiyah, menyambung ke MULO Muhammadiyah, ke AMS Muhammadiyah, kemudian ke taman dewasa raya Jakarta.

Di semua sekolah itu, gurunya mengakui Lafran pane adalah sosok murid yang cerdas, Walaupun nakalnya luar biasa. Kebiasaan buruknya di Medan diulang lagi di Batavia, ia ikut kelompok geng bende yang bernama zwarte bende, sebuah geng gerakan bawah tanah yang di samakan dengan tentara Jepang, ia diberikan pistol dan diperbolehkan menembak atau membunuh orang sesukanya. Karna kelakuannya ia kerap kali berhadapan dengan meja hijau.

Pada 8 Maret 1942 Jepang mulai masuk ke Indonesia, Lafran pane pulang ke Padang Sidempuan sebagai pokrol, tetapi lantas Lafran pane di fitnah, dituduh memberontak kepada Jepang, Lafran di tuntut hukuman mati. Beruntung pengaruh ayahnya Sutan pangurabaan pane cukup kuat. Namun dengan fitnah itu Lafran pane meninggalkan sumatera.

Sejak pemberangkatannya untuk pengembaraan itu, Lafran mengalami proses kejiwaan radikal, karakter insan Kamil nya mulai tergugah, lalu mencari apa sebenarnya hakikat hidup ini, ia merindukan sifat sifat mulia yang dihafalnya saat masa kecil, dan menanyakan apa sesungguhnya landasan dari segala sesuatu itu. Ia menyadari betapa pentingnya kembali ke dayar keyakinannya. Ia sungguh merasakan tentang kepulangan si anak hilang.

Sejak saat itu, ia sering merenung, tafakur, muhasabah, berkat pendidikan agama yang ia peroleh dari guru ngajinya Malim mahasan di sipirok dan juga asuhan orang tuanya serta keadaan masyarakat sipirok yang taat beragama. Setelah mengalami proses yang dalam, barulah Lafran pane menjadi pemeluk teguh Agama Allah dengan sesungguhnya, sehingga takwa melandasi hidupnya. Hingga sampai pada masa ia mampu menghadirkan gagasan tentang himpunan

Tekad mendirikan HMI

Himpunan Mahasiswa Islam lahir dari sebuah pemikiran sosok insan kamil muda yang kala itu berstatus mahasiswa dan masih semester 3, yakni bernama Lafran Pane. Berangkat dari kegelisahan akan masa yang tidak pernah menjadi harapan sebagian besar rakyat Indonesia.

Setidaknya dapat digambarkan dengan tiga aspek pandangan Lafran Pane mengenai kondisi bangsa Indonesia saat itu. Pertama, kondisi keumatan yang mulai abai terhadap pendidikan keislaman yang disebabkan pengaruh sekuler, kedua, kondisi kedaulatan bangsa yang mana pada saat Indonesia sudah merdeka, rezim kolonial Belanda masih berupaya ingin menguasai kembali bangsa Indonesia, ketiga, kondisi mahasiswa yang menurutnya jauh dari cita-cita ideal, ditinjau dari segi peran yang seharusnya dijalankan mahasiswa pada saat itu yang sudah cenderung mulai terjebak dalam lingkaran hedonisme.

M. Iqbal Assegaf menggambarkan kondisi psikologis Lafran pane saat mendirikan HMI sebagai perwujudan dari komitmen keislaman yang selama ini menjadi ekpektasi besarnya, mengutip pidato pendiri Student Islam Studie Club (SIS – 1934) Jusuf Wibisono, Iqbal menjelaskan bahwa keadaan batin seseorang merupakan sumber dari dan landasan bagian tingkah lakunya. semakin kokoh landasan batin tersebut, semakin mampu ia menghadapi tantangan hidup. Semakin murni jiwa seseorang, semakin ia akan memancarkan Budi luhur dan karya karya besar darinya, untuk mencapai keadaan batin yang dimikian, maka disitulah dibutuhkan agama.

Komitmen keyakinan sosok Lafran Pane juga didukung oleh keadaannya yang sedang ter-ilhami oleh hasrat intelektual Muslim generasi terdahulu yang telah mendirikan organisasi-organisasi seperti Jong Islamieten Bond (JIB) pada tahun 1925 dan Studenten Islam Studieclub (SIS) pada tahun 1934. Lafran Pane bercita-cita akan membentuk sebuah jaringan intelegensia Muslim muda yang baru sekaligus HMI dapat menjadi lahan persemaian bagi para pemimpin masa depan yang menjadi alternatif problem solver pada setiap persoalan umat dan bangsa.

Keberanian tekadnya yang membara dalam mendirikan wadah bagi mahasiswa Islam tidak bisa dibendung dengan alasan apapun. Secara bijaksana pada saat detik-detik pendirian HMI pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah bertepatan dengan tanggal 05 Februari 1947 Masehi, secara tegas ia pun dengan lantang mengawali prakatanya “hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Islam, karena semua persiapan sudah beres. Siapapun yang mau menerima berdirinya organisasi mahasiswa Islam ini, itu sajalah yang diajak dan yang tidak setuju biarkanlah mereka terus menentang”.

Sesaat setelah mendirikan HMI Lafran Pane menegaskan kembali “Keputusan mendirikan HMI, kami tegaskan karena kebutuhan yang sangat mendesak bagi para cendikiawan Muslim muda untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Selanjutnya HMI juga diharapkan mampu melestarikan dan mengamankan ajaran Islam”. Gagasan Nasional dan Islam inilah yang kemudian menjadi relevan dengan apa yang menjadi tujuan awal berdirinya HMI yaitu pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan dan Mengembangkan Ajaran Agama Islam.

Kesadaran berjamaah, berorganisasi dan mendirikan HMI inilah yang berpijak pada sintesa antara kesantrian (Muslim) dan ajaran mencintai bangsa (Nasionalisme) yang keduanya dikonstruksikan secara ideologis dalam wadah HMI. Sederhananya kader HMI diharapkan menjadi Muslim yang Intelek dan Intelek yang Muslim. Gagasan inilah yang melandasi pemikiran Lafran Pane yang selanjutnya di diformulasikan sebagai landasan keindonesiaan dan keislaman sebagai sintesa yang tidak bisa dipisahkan dalam Himpunan Mahasiswa Islam.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan