11 April 2021

Lepas Gengsi untuk jadi Perempuan Berbeda

Penulis: Nurlaili Nopianti (Ketum HMI Komisariat UGR Cabang Selong)

Beberapa tahun silam Ketika masih duduk di bangku SMA, entah karna apa, pada sat itu saya mulai berpikir bahwa apa yang orang miliki harus saya miliki.

Dalam arti bahwa, saya harus memiliki semangat yang sama untuk berbuat dan melakukan apapun yang orang lakukan.

Saya menyadari, tidak ada jalan yang sempurna, begitupun dengan kehidupan yang pernah saya jalani, banyak hambatan dan kerikil kerikil kecil yang hampir membuat terpeleset dan jatuh.

Karna sampai hari ini masih jelas terlintas seorang anak yang pada saat itu sangat membutuhkan rengkuhan kasih sayang malah menyaksikan panorama yang saya yakini, tidak ada seorang anakpun yang berharap ada pada moment seperti itu.

Iya ketika umur 10 tahun ibu dan ayah memutuskan pisah, mengahiri ikatan karna satu hal yang pada saat itu tak bisa ku pahami, sehingga dari sanalah kehidupan baru dimulai, banyak tantangan, banyak masalah yang mengharuskan untuk tumbuh seperti pohon, hidup dan berdiri sendiri.

Dan sejak itulah langkah dan pikiran saya ubah dengan prestasi, prestasi yang bukan selalu berbicara pringkat dan angka , namun prestasi tentang bagaimana berusaha tampil hebat dengan cara yang berbeda.

Sejak saat itu, saya mulai berjualan di sekolah, membawa geripik lobak tujuh puluh bungkus setiap hari dengan omset penjualan sampai tujuh puluh ribu, untuk sekelas siswa, itu sudah lumayan besar dan cukup menjadi alasan menanggalkan baju mewah yang saya beri nama gengsi, karna Bagi saya gengsi hanya berlaku untuk orang kaya dan orang yang memiliki orang tua.

Tahun 2018 saya masuk disalah satu universitas swasta di Lombok timur yang menjunjung tinggi kebebasan berfikir, tentu semakin tinggi pohon akan semakin besar angin yang menerpa, pikiran mulai berkecamuk, saya mau jadi apa dan akan jadi seperti apa? Pertanyaan it terus terulang, bahkan ketika bosan dengan pikiran sendiri sempat berpikir mengakhiri jalan panjang ini dengan menikah.

Tapi Tuhan berkata lain dan ternyata selalu ada jalan untuk orang yang mau berusaha dan mewujudkan mimpi mimpinya, mungkin Karena Tuhan melihat saya kuat dan saya mampu untuk itu sehingga sebagai solusi saya memutuskan untuk bekerja sambil kuliah, hal itu terus saya lakoni sampai enam bulan sebelum dead line pendaftaran menjadi mahasiswa di tutup.

Cerita tidak berhenti sampai disana, setelah beberap bulan kuliah, saya beranggapan, berjualan online adalah bagian dari usaha, namun untuk menunjang pengetahuan ternyata tidak cukup di dalam ruangan saja, melihat teman teman persentasi dengan poenjelasan dosen dengan waktu yang sudah di tentukan.

Sehingga memutuskan masuk organisasi, Dari sana saya mengenal kehidupan bukan hanya tentang bernafas dan berjalan, namun banyak hal yang tersembunyi, dengan banyak orang yang saya temui dan banyak diskusi yang saya ikuti , secara tidak langsung mengisyaratkan, bahwa sukses mebutuhkan jalan panjang dan bekal yang cukup.

Bahkan saya mulai berfikir menjadi orang sukses bukan hanya dengan bisnis tapi juga menjadi orang sukses dengan memiliki ilmu pengetahuan.

Namun tidak semuanya mulus bukan, banyak cercaan, banyak hinaan, banyak yang tidak percaya saya mampu menjadi berbeda dan satu satunya, namun semua itu tidak kemudian membuat saya lemah, saya, mental yang saya bangun mendongkrak semuanya dan berubah menjadi semangat yang tidak terbendung.

Buktinya, sekarang saya masih dalam jalan juang mendidik diri,menjadi perempuan yang bukan hanya ahli dalam satu bidang, namun menjadi perempuan multi talenta yang bermimpi mengubah dunia.

Saya percaya dan itu nyata…!!!

 

*Tulisan ini telah terbit di kanal insightanjani.com