14 Juni 2021

Makhluk yang Tertindas itu adalah Laki-laki

Penulis: Qurratul Aini (KOHATI Cabang Sumenep)

Kebetulan sekarang lagi bulan maret, pada tahu kan bulannya perempuan. Kalau tidak percaya kalian bisa cek HP terus buka sosial media pasti banyak tagar-tagar berserakan beserta sederet gambar dan postingan lainya soal perempuan. Yaaa… pada intinya sama mereka sedang merayakan moment dimana mereka merasa diberi ruang untuk berekspresi, berkreasi semacam pensi untuk menunjukkan eksistensi mereka. Dan semuanya sama berisi tuntutan, harapan bahkan kadang cacian.

Berbicara tentang perempuan, tidak hanya bulan maret, ada lagi bulan yang khusus untuk perempuan yaitu bulan Desember (Hari Ibu Sedunia), yaaa kalau mau jujur sedikit Februari juga bisa disebut hari perempuan juga sih, kenapa? Kamu tahu coklat, boneka, dan segala pretelan berwarna lembut nan romantis itu untuk siapa?? Perempuan (titik).

Entah karena perempuan ini memang makhluk istimewa atau memang dia oleh semesta dari dulu sudah disiapkan untuk menjadi seorang ratu. Iya benar ratu. Saya pribadi tidak percaya sama sekali dengan yang namanya feminisme, atau apalah yang membuat perempuan berfikir dan merasa dia terdzolimi dengan adanya budaya yang memihak pada laki-laki atau mereka menjadi second class dari kelas sosial berdasarkan jenis kelamin. Kalau dipikir-pikir kadang pandangan feminisme itu mengada ada, misal “perempuan itu terdiskriminasi oleh budaya patriarkhi, mereka ditempatkan pada posisi yg tidak menguntungkan, seperti di pekejaan-pekerjaan domestik, sedangkan laki-laki mereka ditempatkan pada post public sehingga mereka sejak awal disiapkan untuk menjadi superior dalam kelas gender, karena dalam post public mereka bisa eksis, mengembangkan diri mereka , secara finansial (itu pasti) dan otomatis secara psikologis (mereka berkuasa)” begitu .

Intinya mereka beranggapan budaya patriarkhi itu memang ancaman dan halangan bagi perempuan untuk mengembangkan diri, ditambah disegala lini bahkan diperparah dengan statement agama juga menyudutkan perempuan. Jadi mereka tidak akan hanya “mengkambing hitamkan” budaya, tapi juga agama, bahkan lembaga hukum yang menurut mereka semua dikuasai oleh laki-laki. Jadi pandangan misioginis terhadap perempuan itu karena semua aspek baik sosial, budaya, hukum dan agama di kuasai oleh kaum pria jadi pasti segala kepentingan merujuk pada pria (bias gender) dan itu berimbas pada kemudhorotan yang didapatkan oleh perempuan. Intinya itu karena laki-laki.

Baiklah, Mari kita pikirkan kembali yaa ibu-ibu, adik-adik, mbak-mbak dan perempuan-perempuan di selurus jagat raya social media (yang kebetulan baca maksudnya) kita telaah sedikit tentang kesetaraan yang kalian tuntut, atau apalah itu istilahnya intinya kalian merasa ingin dimanusiakan diperlakukan sebagai manusia bukan obyek (krena kalian merasa tidak dimanusiakan oleh laki-laki).

Hmm… Mengenai kesetaraan, manusia memang sudah setara , benar! Sederajat tidak ada yang tidak sama atau sengaja tuhan ciptakan untuk direndahkan dari manusia lainya. Tuhan menciptakan manusia dengan posisi yang sama di dunia. Jadi kenapa kita harus mempermasalahkan sesuatu yang sudah jelas sama?.

Kedua, diskriminasi mengenai post public dan domestik. Kalian menganggap itu adalah bentuk diskriminasi budaya karena menempatkan perempuan pada post domestik bukan publik. Tapi tahukah kalian keadilan tidak di ciptakan untuk sama secara identik, dan kesempurnaan serta keseimbangan diciptakan dari dua unsur berbeda yang saling melengkapi. Post domestik dan publik tidak ada yang boleh kosong, sebab hal itu akan merusak tatanan kehidupan manusia baik secara budaya, sosial dan agama.

Post public, diberikan kepada laki-laki mereka dituntut untuk bekerja, perempuan pada post domestik menjaga dan merawat anak-anak yang kelak akan menjadi generasi emas dimasa yang akan datang. Itu tugas mulia.

Sebenarnya perempuan dari dulu sudah diistimewakan, sampai ada hari khusus untuk perempuan, sebut saja ada hari perempuan sedunia, ada hari ibu sedunia, dan ada komisi perlindungan anak dan perempuan. Dalam UU perang dunia dari jaman onta perempuan adalah salah satu prioritas untuk dilindungi.

Bagaimana dengan laki-laki? Tidak ada hari ayah, tidak ada hari laki-laki sedunia, tidak ada UU yg mengatur secara khusus untuk laki-laki, pun tidak ada UU yang mengatur bahwa laki-laki harus dilindungi saat situasi negaranya sedang berperang. Kenapa? apa laki-laki memang sekuat itu atau setegar itu sehingga mereka “tidak layak” untuk diperlakukan khusus sebagaimana perempuan??.

Perempuan selalu merasa mereka tidak diuntungkan oleh budaya bahkan agama. Tapi tahukah kalian yang sama sekali tidak diuntungkan bahkan tidak diperlakukan sebagaimana selayaknya manusia adalah Laki-laki. Kalau perempuan berhak dilindungi keselamatanya kenapa laki-laki tidak? Bukankah jika mengatasnamakan kemanusiaan semua manusia berhak untuk hidup? Tapi laki-laki tidak.

Ketika perempuan merasa tidak memiliki hak atas hidup mereka. Justru laki-laki sama sekali tidak memiliki hak atas tubuh mereka sendiri. Perempuan selalu memiliki pilihan atas hidup mereka. Contoh: perempuan bebas memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, wanita karir, atau dua-duanya sekalipun. Bagaimana dengan laki-laki? Pilihan mereka hanya satu, bekerja. Bagaimana jika laki-laki memilih untuk di rumah dan menyerahkan pekerjaan publik pada perempuan, tentu respon masyarakat akan sangat berbeda dari pandangan mereka terhadap perempuan. Paling-paling di sebut suami yang tidak bertanggungjawab, pemalas, dan cemohan lainya.

Perempuan berhak memilih ketika situasi negaranya menuntut untuk rakyatnya mempertaruhkan harga diri bangsa dan negara ketika dijajah dengan mempertaruhkan antara hidup dan mati, perempuan bebas memilih antara ikut berperang atau memilih dirumah menyelamatkan hidup mereka. Ketika perempuan memilih untuk berperang (yaaa segelintir) nama mereka diagungkan menjadi sosok pahlawan. Tapi bagaimana dg laki-laki? Ada jutaan laki-laki yang meninggal di medan perang tapi tak satupun nama mereka dikenang. Yaaa paling yang mudah di ingat (baca:panglima). Ketika seorang laki-laki memilih untuk di rumah dan tidak pergi ke medan perang masyarakat akan menilai bahkan mencemoh dia dengan sebutan pengecut, atau laki-laki banci tidak tahu malu dan sebagainya. Sedangkan perempuan? Mereka bebas memilih untuk hidup mereka. Laki-laki berperang mempertahankan negara artinya ia mempertaruhkan hidup dan matinya demi bangsa dan negara, di dalamnya terdapat properti. Dan perempuan hidup di atas properti. Suami yang meninggal di medan perang demi mempertahankan “properti”sama saja artinya perempuan hidup di atas kuburan suaminya.

Jadi, manusia malang yg sesungguhnya adalah kaum laki-laki. Mereka yang tidak memiliki hak sama sekali atas tubuh mereka sendiri, mereka yang hanya memiliki 1 pilihan dalam hidup. Sejak kecil mereka sudah dilatih untuk memiliki 1 sikap yaitu kesatria (baca: bertanggungjawab atas kebahagiaan orang lain bukan untuk kebahagiaan sendiri) . Saat kecil mereka dituntut untuk tegar, tidak boleh cengeng karena itu sikap pengecut!. Setelah dewasa mereka bertanggungjawab atas hidup semua orang, dalam rumah tangga pilihan mereka hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Membuat hidup perempuan nyaman dan bahagia. Laki-laki juga harus siap dibunuh, demi membela negara krena di sana kehidupan dan kenyamanan perempuan dipertaruhkan (istri dan anak).

Benar, laki-laki berkuasa atas perempuan itu mitos belaka. Faktanya laki-laki hanya menjadi “kacung” yang dikemas sebagai sosok “berkuasa”. Laki-laki disiapkan sejak awal untuk menjadi kuat dan tangguh hanya untuk menjadi “alat” bagi kenyamanan, kebahagiaan dan kemapanan orang lain.

Jadi, perempuan-perempuan di luar sana yang masih suka mengatakan budaya patriarkhi tidak menguntungkan baginya atau terdiskriminasi itu karena sifat mereka yang tamak, dan gerakan feminisme mereka adalah gerakan tradisional. Buat apa menuntut toh mereka sejak awal sudah mendaptkannya bahkan lebih. Seharusnya dr dulu ada gerakan maskulinisme!

 

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.