22 Oktober 2021

Marak Pelecehan Seksual di Aceh, Kohati Cabang Langsa Geram

Langsa, YAKUSA.ID – Kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak di Aceh semakin marak, khususnya di Kota Langsa.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh mencatat sejak Januari hingga Juni 2021, tindak kekerasan pada perempuan dan anak mencapai 202 kasus. Dari jumlah tersebut terdapat tiga bentuk kekerasan dengan jumlah paling tinggi, yaitu pelecehan seksual mencapai 46 kasus, kekerasan psikis 45, dan kekerasan fisik 34 kasus.

Kejadian seperti itu terus menerus didengar masyarakat dan sangat meresahkan kaum perempuan, sehingga membuat KOHATI Cabang Langsa geram dan angkat bicara.

Menanggapai hal itu, Ketua Umum KOHATI Cabang Langsa, Cut Intan Tarwiyah mengatakan, kasus pelecehan seksual yang belum lama ini terjadi diduga oleh dua orang lelaki kepada seorang perempuan di bawah umur menjadikan hati masyarakat geram dan memilukan.

“Memang dalam kejadian tersebut belum dapat dipastikan oleh kepolisian apakah itu pemerkosaan ataupun sudah ada kesepakatan antar kedua lelaki dan perempuannya. Tapi ni bukan kejadian sekali di Aceh, melainkan kejadian yang berulang-ulang kali,” katanya, Senin (11/10/2021).

Ketum KOHATI Cabang Langsa menegaskan bahwa pelecehan seksual terhadap perempuan termasuk dalam dosa besar dan termasuk pada tindakan yang paling keji dalam pandangan syariat islam.

Dengan banyaknya kejadian seperti itu, ia menilai, hal tersebut menggambarkan keteledoran dari orang tua dan pemerintah (POL-PP dan WH) dalam menjalankan syariat yang berlaku di Aceh.

“Dalam Qanun Aceh sudah di jelaskan pada No 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah dengan konsekuensinya adalah pada pasal 47 menjelaskan, setiap orang yang dengan sengaja melakukan jarimah pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 terhadap anak, diancam dengan Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 90 kali atau denda dengan paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan,” tegas Intan.

Lebih lanjut, Intan meminta terhadap masyarakat utama para orang tua untuk lebih menjaga dan mengontrol kegiatan yang dilakukan oleh anaknya, meskipun itu dinilai positif.

“Kepada orang tua untuk lebih menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari dan terus menjadi suri tauladan terhadap anak. Sehingga kedua orang tua menjadi rule model bagi anak-anaknya,” ujarnya.

Ia juga menghimbau kepada seluruh perempuan agar lebih menjaga komunikasi dan jarak kepada orang yang tidak dikenal, teman dan terkhusus lawan jenis.

“Karena kejahatan tidak akan terjadi jika tidak ada kesempatan.” Tandasnya. (*)