11 April 2021

Media Sosial dan Penanaman Paham Moderasi Beragama

Oleh: Muh Bakti Setia Gusti (Direktur CDIS HMI Korkom Walisongo Cabang Semarang 2019-2020 dan Kabid PPPA HMI Komisariat Iqbal 2018-2019)

Media Sosial Dan Pengaruhnya
Evolusi bidang teknologi dan inovasi internet, tidak hanya menjadikan munculnya media baru saja, melainkan banyak macam aspek kehidupan manusia yang dipengaruhinya. Misalnya yang terjadi pada perubahan interaksi dan komunikasi yang sebelumnya tidak terduga. Sehingga jangkauannya begitu luas. Bukan hanya lokal, bahkan mancanegara pun bisa dengan mudah terjalin komunikasi.

Hadirnya media sosial dapat mempengaruhi kehidupan sosial di masyarakat. Terlebih masyarakat modern yang begitu dinamis dalam kehidupannya. Ini disinyalir bahwa manusia sekarang sudah menjadi bagian dari global village atau perkampungan sejagat. Artinya manusia dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang ada di belahan dunia hanya dengan bantuan teknologi telekomunikasi berupa handphone atau komputer yang memiliki akses internet.

Tercatat di tahun 2020 dari data yang dipaparkan Hootsuite, pengguna media sosial di dunia sampai 3,800 milyar yang aktif. Sedangkan di Indonesia pengguna media sosial yang aktif 160 juta. Di indonesia rata-rata setiap harinya menggunakan internet melalui perangkat apapun kisaran 7 jam, 59 menit dan media sosial rata-rata setiap hari 3 jam, 26 menit setiap harinya. Ini menjadi bukti bahwa media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Dari data statista tahun 2020 mengungkapkan, pengguna media sosial di Indonesia terbilang yang paling banyak mendominasi pertama pada usia 25-34 tahun dengan persentase laki-laki 20,6% dan perempuan 14,8%. Kedua usia 18-24 tahun dengan persentase laki-laki 16,1% dan perempuan 14,2%.

Pemaparan data di atas menunjukkan remaja atau masa adolescence menduduki urutan nomer dua terbanyak menggunakan media sosial. Artinya remaja ikut meramaikan media sosial, yang di dalamnya begitu banyak muatan informasi baik positif maupun negatif. Ini mengkhawatirkan jika tidak adanya kontrol dalam diri, maka yang terjadi akan terbawanya oleh arus informasi yang tak terbendungkan.

Masa remaja ialah masa pencarian identitas, keinginan untuk bebas dan mulai berpikir secara logis. Apalagi dalam diri manusia ada yang dinamakan proses modeling (peniruan). Karena menurut Albert Bandura seorang tokoh psikologi, bahwa manusia memiliki cara belajar dengan proses mengamati, menyimpan informasi didalam ingatannya, meniru suatu perilaku yang dirasa baginya baik, dan motivasi untuk mengikuti apa yang di idolakan.

Dengan begitu, proses pencarian jati diri akan dibenturkan oleh faktor eksternal di media sosial sebagaimana manusia yang memiliki proses pembelajaran (modelling) yang didapatkan dari memperhatikan sekitarnya, menjadi penting untuk kita dalam menyebarkan informasi-informasi yang positif di media sosial agar mampu menyeimbangi informasi negatif yang marak ada. Dan bisa dijadikan role model bagi para remaja.

Moderasi Beragama di Media Sosial
Moderat merupakan sikap yang cenderung mengambil jalan tengah atau menghindar dari perilaku yang ekstrem. Sikap dan perilaku ini bukan hanya ada pada kehidupan nyata, namun paham konservatif sudah merambah pada tataran media sosial, yang saat ini di gandrungi oleh masyarakat modern yang tak mengenal usia. Dimanifestasikan dalam bentuk konten-konten yang intoleran terhadap perbedaan dan merasa paling benar.

Meskipun pada awalnya sebagai hiburan dan tempat berekspresi diri, namun media sosial bisa menjadi bumerang bagi kita ketika tidak dapat mengendalikannya dengan baik. Pasalnya, ketika apa yang diucapkan maupun di share dalam media terdapat kekeliruan, bisa menyebabkan permasalahan baru. Keterbatasan pengetahuan itu yang akan menjadikan bertambah keruhnya masalah.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta merilis, bahwa paham moderat lebih cenderung diam di media sosial, sementara paham konservatif lebih banyak aktif bersuara di media sosial. Dan indentifikasi itu bagi penulis bisa terlihat dari konten-konten yang bersifat intoleran, merasa benar sendiri dan berbau provokasi sudah tampak bermunculan di media sosial.

Media sosial yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern, sudah selayaknya difungsikan untuk hal-hal positif, terlebih dalam menjaga keutuhan dan keberagaman yang ada di Indonesia. Mengingat Indonesia begitu kaya dengan kebudayaan dan bahasa yang diwariskan oleh leluhurnya, menjadi sebuah anugerah dari Allah SWT yang panut kita syukuri.

Menyebarkan paham moderasi beragama di media sosial, bisa dilakukan dengan cara aktif dalam merespons informasi yang konservatif, informasi yang bersifat adu domba antar golongan atau ras dan isu keagamaan dengan paham-paham keberagaman melalui vidio kreatif dan bisa aktif dalam media sosial sebagai konten kreator dengan membuat vidio keagaman yang bertajuk kedamaian, membuat qoute-qoute ajakan kebaikan dan kasih sayang antar sesama manusia, bisa menjadi solusi ditengah gempuran infomasi yang ada.

Dan yang terpenting, mulai lah dari diri sendiri dan terus mengajak yang lainnya dalam membangun suatu gerakan kolektifitas jalinan kedamaian, hingga Islam Rahmatan Lil A’lamin dapat kita wujudkan bersama-sama.

*)Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulis, tidak termasuk tanggung jawab redaksi Yakusa.Id