17 Mei 2021

Merdeka Belajar Nadiem dan Pendidikan Sebagai Metode Pembebasan Freire

Penulis: Rini Asriani (Pengurus BPL HMI Cabang Gowa Raya)

Selamat hari buruh kawan, selamat hari pendidikan. Turut berduka cita atas segala pilu dan sengsara yang diwariskan.

Mengenai pendidikan, Freire mendifinisikannya sebagai sebuah metode pembebasan.

“Pendidikan adalah metode dialogis-kritis yang mengikutsertakan kaum tertindas dalam upaya penyadaran realitas diri dan dunia untuk mencapai tujuan mulia, yaitu pembebasan dan memanusiakan manusia.” -Paulo Freire

Fikirku, gagasan pendidikan sebagai alat pembebasan memiliki makana yang sama dengan “Merdeka Belajar” dari meteri pendidikan dan kebudayan Republik Indonesia, Nadiem Makarim.

“Merdeka Belajar” dengan konsep menciptakan susana belajar yang nyaman serta mendorong esensi kemerdekaan berfikir adalah sebuah formulasi pendidikan yang cerdas dan sangat perlu diwujudkan. Dengan terwujudnya “Merdeka Belajar”, maka pendidikan formal, angka yang tinggi, dan gelar-ijazah bukanlah menjadi sebuah indikator keberhasilan pendidikan.

Fokus pendidikan kita di Indonesia terlalu kaku. Akses program pendidikan hanya mampu dijangkau oleh kalangan yang tercatat berada dan menempuh pendidikan di institusi negara.

Pendidikan yang belum merata menjadi momok ketertinggalannya pendidikan di Indonesia.

Akses pendidikan yang sulit mengebiri konstitusi dan menorehkan luka di hati bangsa.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa….”. (Alinea pertama)

“Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,…”. (Alinea keempat)

Pembukaan UUD 1945 membicarakan tentang bangsa . Kelompok masyarakat yang memiliki asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarah yang sama, serta berpemerintahan sendiri itulah kemudian yang disebut sebagai bangsa.

Olehnya, tugas negara semakin jelas. Siapapun yang beridentitas sebagai bangsa Indonesia, maka ia memiliki hak atas pencerdasan.

Untuk mencapai indikator keberhasilan, “Merdeka Belajar” harus keluar dari zona nyamannya. Zona nyaman yang dimaksud adalah ruang formal pendidikan dan terbatas pada administratif yang didesain sedemikian rupa oleh negara.

Kereta “Merdeka Belajar” harus menyusuri semua lorong-lorong kecil Indonesia. Sudah seberapa jalan kah?

Tulisan masih butuh pengembangan.
*) Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Yakusa.id