10 April 2021

Model Student Centered Learning dalam Pembinaan Kader HMI Pasca LK1

Oleh: Moh. Khorofi 
(Pengurus BPL KORDA JATIM)

HMI merupakan organisasi mahasiswa tertua yang ada di Indonesia. Didirikan di Yogyakarta pada tanggal 05 Februari 1947. Bisa dikatakan bahwa HMI berdiri dua tahun pasca diumumkannya proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno yang berarti dalam perkembangannya HMI turut andil dalam berjuang mempertahankan kemerkdekaan Indonesia.
Dalam perjuangannya, HMI memiliki tujuan “Terbinanya insan akademi, pencipta,pengabdi, bernafaskan islam, dan betanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT”. HMI memiliki tujuan yang sangat besar, bahkan dapat dikatakan bahwa tujuan tersebut melingkup segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Untuk mencapai tujuan yang telah dicita-citakan oleh para pendiri HMI, dibutuhkan sumber daya manusia yang unggul, dalam hal ini adalah kualitas kader HMI yang paripurna dan dapat mencapai tujuan tersebut. Maka disusunlah pedoman perkaderan HMI yang mengatur alur terlaksananya pembinaan terhadap setiap kader, mulai dari perkaderan formal hingga perkaderan informal.
Dalam setiap pembinaan yang diberikan oleh HMI kepada segenap kadernya, baik melalui perkderan formal maupun informal, tidak akan lepas dari model dan metode yang digunakan oleh para pengkader. Kecakapan para pengkader dalam mengkader setiap kadernya menempati posisi yang sangat strategis dalam alur pembinaan kader. Karena pedoman perkaderan hanyalah sebatas pedoman, realisasi pedoman tersebut bergantung pada orang-orang yang menjalankannya. Out putyang diharapkan dari perkaderan HMI adalah mencetak kader yang dapat mewujudkan tujuan HMI dalam misi keummatan dan kebangsaan yang endingnya adalah terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.
Kader HMI yang notabene adalah Mahasiswa harus  mempunyai bekal, tidak hanya kecakapan pengetahuan dan keterampilan saja (Hard Skills) tetapi harus mempunyai kecakapan lunak seperti mampu memecahkan masalah, selalu berfikir kritis, dapat bekerja sama, mempunyai kepekaan, berjiwa kepemimpinan, cermat dalam mengambil keputusan, dll, yang dikenal dengan Soft Skills. Dengan bekal kecakapan yang berimbang antara Hard Skills dan Soft Skills, kader HMI setelah lulus diharapkan mampu berperan maksimal baik dalam lingkup kerjanya maupun di masyarakat luas. Oleh karena itu HMI harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang berkembang di masyarakat termasuk diantaranya adalah membekali Hard Skills dan Soft Skills yang berimbang dari para kader HMI.
Di era digital ini, secara konseptual pedoman perkaderan HMI memenuhi kualifikasi dalam memenuhi kebutuhan dasar para kader dalam menghadapi perkembangan zaman, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan implementasi yang sering dilaksanakan. Tidak jarang kita temui bahwa implementasi pedoman perkaderan HMI hanya dititik beratkan pada aspek penguatan Hard Skill, lebih dari itu penguatan Soft Skills kurang diperhatikan.
SCL merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan kader sebagai peserta  didik (subjek)  aktif dan mandiri, dengan kondisi psikologis sebagai Adult Learner, dan bertanggung   jawab sepenuhnya atas  pembelajaran, serta mampu belajar   Beyond   The   Classroom.   Dari scl tersebut, kader-kader HMI memiliki dan menghayati    karakteristik    Life-Long Learning  yang menguasai  hard  skills dan soft skills yang saling mendukung. Dalam hal ini, para  pengkader  beralih  fungsi,  dari pengajar menjadi   mitra   pembelajaran maupun  sebagai  fasilitator  (From  Mentor In   The   Center   To Guide On The Side).   Oleh   karena   itu, Trend perkaderan ke depan harus dapat melatih aspek hard skills dan soft skills secara bersamaan. Sehingga, SCL memiliki potensi untuk mendorong kader belajar lebih aktif, mandiri, sesuai dengan irama belajarnya masing-masing, sesuai dengan perkembangan yang berjalan. Irama kader tersebut perlu dipandu agar terus dinamis dan mempunyai tingkat kompetensi yang tinggi.
Atribut Soft Skills Dan Hard Skill Dalam Perkaderan HMI
Sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi memerlukan kompetensi yang lebih dalam melanjutkan karirnya pasca kuliah Strata 1 (S1), karena jumlah lapangan pekerjaan yang sesuai dengan beberapa bidang study tidak sebanyak lulusan yang dikeluarkan oleh Perguruan Tinggi se Indonesia. Hal ini mengharuskan mahasiswa tersebut memiliki kompetensi yang lebih, tidak hanya sebatas pada kompetensi yang dia miliki semasa mengenyam pendidikan di Kampus, tapi juga kompetensi yang ada di luar institusi Perguruan Tinggi.
HMI salah satu organisasi mahasiswa yang menyiapkan para kadernya agar siap dihadapkan pada kondisi terburuk dalam realitas sosial, hal ini tidak lepas dari pola pembinaan kader yang telah dirumuskan oleh HMI dalam pedoman perkaderannya, dalam hal ini mencakup pada kurikulum perkaderan.
Kurikulum secara bahasa berasal dari kata Curir (pelari) dan Curere (tempat berpacu), dan kata ini pada awalnya hanya digunakan pada dunia olahraga. Pada masa lalu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start hingga finish untuk memperoleh medali/ penghargaan. Pendefinisian tersebut kemudian melebar pada target atau capaian yang harus dicapai dalam pelaksanaan pendidikan.
Menurut Hilda Taba, pengertian kurikulum lebih kepada A Plant Of Learning, yaitu sesuatu yang dirancang untuk dipelajari oleh siswa yang mana dalam hal ini ada target yang harus dicapai dalam kurun waktu yang ditentukan. Kurikulum perkaderan HMI, tidak jauh berbeda dari kurikulum pada umumnya, di dalamnya terdapat target, perencanaan, proses, dan evaluasi dari proses yang dilaksanakan.
Dalam pedoman perkaderan HMI, ada tiga hal yang harus diseimbangkan, yaitu: afektif, kognitif, dan psikomotorik. Keseimbangan tiga hal tersebut berupakan sebuah keharusan dalam pengembangan potensi kader, karena tiga hal tersebut melingkup pada semua aspek hard skill dan Soft Skillsyang harus dimiliki oleh kader HMI.
Hard skills menggambarkan perilaku dan keterampilan yang dapat dilihat mata (eksplisit). Hardskills adalah skills yang dapat menghasilkan sesuatu yang sifatnya visible dan immediate. Menurut Fachrunnisa Hard skills adalah semua hal yang berhubungan dengan pengayaan teori yang menjadi dasar pijakan analisis atau sebuah keputusan. Dalam hal ini, pengembangan hard skills dalam pedoman perkaderan HMI sama dengan pengebangan kualitas kognitif kader dalam setiap jenjang perkaderan HMI. Sehingga sudah barang tentu dalam setiap aktivitas pembinaan kader pasca LK1, pengembangan hard skill kader telah diperhatikan.
Sedangkan Soft Skills, menurut Berthal adalah Personal and interpersonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making,   initiative).   Soft   skills   do   not include technical skills, such asfinancial, computer  or   assembly   skills“. Soft Skills didefinisikan sebagai perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja humanis. Dalam perkaderan HMI, pengembangan Soft Skills, dikonotasikan pada pengembangan kullitas afektif dan psikomotorik seorang kader. Sehingga membutuhkan waktu dan pendekatan yang lebih khusus karena berkenaan dengan karakter atau personality kader.
Berkenaan dengan pengembangan Soft Skills dalam pembinaan kader, tidak sedikit para ahli yang melakukan penelitian untuk menentukan point-point atau atribut-atribut Soft Skills dalam pembinaan kader. Diantaranya adalah Theresa Kane yang menentukan point-pont Soft Skills dalam pembinaan kualitas sdm, yaitu: kecakapan   sosial,  kecakapan   menjalin hubungan  antar pribadi,  kesadaran diri, dan kecakapan pengendalian emosi. Sedangkan Barbara  Dwyer  memberikan gambaran  10 atribut dalam pengembangan soft skills, yaitu: Communications Skills, Decision Making Skills, Computer/ Technical Skills, Flexibility/ Adaptability/ Managing Multiple Priorities, Interpersonal/ Employee Relations Skills, Leadership/ Management Skills, Multicultural Sensitivity/ Awareness, Planning/ Organizing Skills, Creativity Skills, Teamwork Skills.
Seorang kader HMI harus memiliki Soft Skills yang mumpuni, karena sebagai mana dijelaskan oleh Goleman bahwa hard skill hanya berpengaruh sebesar 20% dalam kesuksesan seseorang, selebihnya dipengaruhi oleh kualitas Soft Skillsmasing-masing. Dengan Soft Skills yang baik, setiap kader HMI akan siap berpartisipasi aktif dalam menciptakan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Konsep Kecerdasan Individu
Secara teoritis, Soft Skills tidak dapat dipisahkan dari konsep kecerdasan individu. Dalam hal ini, kerangka berfikir tentang pengembangan Soft Skills saling terhubung satu sama lain dengan student centered learning, yang mana SCL ini juga mengacu pada konsep kecerdasan tersebut.
Di era milenial ini, berkembang konsep kecerdasan majemuk atau sering kita kenal dengan multiple inteligence. Dalampandangan multiple intelligence, Intelligene Quotien (IQ) bukan satusatunya hal yang Menentukan (penentu) keberhasilan seseorang, karena iq harus topang oleh pengembangan Spiritual Quotien (SQ) dan Emosional Quotien (EQ). Menurut Howard Gamer seperti dikutip oleh Zainuddin dkk, kecerdasan dibagi menjadi tujuh, yaitu meliputi:
a.      logical mathematical intelligence
b.      linguistic intelligence
c.       musical intelligence
d.      spatial intelligence
e.       bodilyikinesthetic intelligence
f.       interpersonalintelligence
g.      intropersonalintelligence
Berdasarkan konsep tersebut, kemudian dapat diambil sebuh kesimpulan bahwa ada berbagai macam kecerdasan, diantaranya adalah kecerdasan emosi, kecerdasan menghadapi kesulitan, kecerdasan moral, kecerdasan spiritual, dan lain sebagainya. Tiga konsep yang digunakan sebagai dasar pengembangn Soft Skills yang berhubungan dengan Student Centered Learning adalah kecerdasan emosional, kecerdasan menghadapi kesulitan, dan kecerdasan moral.
Menurut Goleman kecerdasan intelektual hanya menyumbangkan 20% bagi kesuksesan hidup individu, sedangkan selebihnya adalah sumbangan dari kecerdasan emosinya. Kecerdasan emosi atau Emotional Quotion (EQ) menggambarkan kemampuan seorang individu untuk mampu mengelola dorongan-dorongan dalam dirinya terutama dorongan emosinya. Kecerdasan emosi menurut Goleman sangat penting karena mempengaruhi prestasi, mempengaruhi keterampilan perilaku, dan mempengaruhi penyesuaian sosial. Sementara itu kecerdasan intelektual hanya mengacu pada kemampuan belajar yang dicapai oleh individu.

Implementasi SCL dalam pembinaan kader
SCL merupakan sebuah proses belajar yang mengoptimalkan kemandirian kader sebagai manusia dewasa (andragogy) dengan menyeimbangkan kemampuan kognisi dan emosi. SCL sangat sesuai diterapkan dalam implementasi perkaderan HMI, karena rata-rata kader HMI merupakan kader-kader yang telah dewasa sehingga pendekatan yang digunakan dalam melakukan pembinaan bukan lagi Pedagogic, melainkan Andragogik.
Pembelajaran yang inovatif dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada kader memiliki keragaman model pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dari kader yaitu:
     Berbagi Informasi  (information sharing) dengan cara: curah pendapat (brainstorming), kooperatif, kolaboratif, diskusi kelompok (group discussion), diskusi panel (panel discussion), simposium, dan seminar. Hal ini dapat kita temukan dalam setiap aktifitas organisasi, mulai dari perkaderan formal, hingga perkaderan informal.
2      Belajar dari pengalaman (experience based) dengan cara: simulasi, bermain peran (roleplay).
3     Pembelajaran      melalui     pemecahan masalah (problem  solving based) dengan cara: studi kasus, tutorial, dan lokakarya.
Secara konseptual, SCL adalah sebuah proses belajar yang menyeimbangkan kemampuan kognisi, motorik, dan emosi, dalam ke-HMI-an keseimbangan tersebut adalah keseimbangan antara afektif, kognitif, dan psikomotorik. Oleh sebab itu, prinsiputama dari SCL meliputi: Tanggung jawab, Peranserta, Keadilan, Mandiri, Berfikir kritis dan kreatif, Komunikatif,  Kerjasama, dan Integritas.
Dengan prinsipprinsip tersebut dapat  diketahui  bahwa hampir semua atributatribut Soft Skills dapat mendukung penerapan student centered learning dalam pembinaan kader HMI pasca mengikuti LK1. Namun tidak semua atribut soft skills tersebut dapat diintegrasikan dalam pembinaan kader. Perlu dipilah dan dipilih terlebih dahulu atribut mana yang paling memungkinkan untuk diterapkan dalam pembinaan kader sesuai dengan batas keanggotaan yang tertera dalam konstitusi HMI.Dalam hal ini, penulis dapat menetapkan beberapa atribut soft skills yang dapat dikemas menjadi atribut student centered learning dalam pembinaan kader HMI, yaitu sebagai berikut berikut:

No.
Atribut SCL
Atribut Soft Skills
Penekanan
1.
Kerja kelompok
Penyesuaian diri, hubungan sosial, komunikasilisan, kerjasama, motivasi berprestasi, orientasi belajar, manajemen diri, etika, etos kerja, berfikirkritis dan analitis, integritas, manajemen waktu, organisasi, kepemimpinan.
Kerjasama
2.
Diskusi
Kepercayaan diri, penyesuaian diri, hubungan sosial, komunikasi lisan, kerjasama, motivasi berprestasi, orientasi belajar, manajemen diri, etika, etos kerja, berfikir kritis dan analitis, integritas, manajemen waktu, ketangguhan diri, organisasi, kepemimpinan.
Manajemen diri
3.
Menulis
Kepercayaan diri, komunikasi tulis, motivasi berprestasi, orientasi belajar, manajemen diri, etika, etos kerja, berfikir kritis dan analitis, integritas, manajemen waktu, ketangguhan diri.
Komunikasi tulis
4.
Presentasi
Kepercayaan diri, penyesuaian diri, komunikasi lisan, motivasi berprestasi, orientasi belajar, manajemen diri, etika, etos kerja,berfikir kritis dan analitis, integritas, manajemen waktu, ketangguhan diri.
Komunikasi lisan
5.
Pemecahan
Masalah
Kepercayaan diri, penyesuaian diri, motivasi berprestasi, orientasi belajar, manajemen diri, etika, etos kerja, berfikir kritis dan analitis, integritas, ketangguhan diri.
Berfikir kritis dan analitis
Atributatribut dalam student centered learning yang dapat diintegrasikan kedalam pembinaan kader HMI antara lain:
a.       Kerja Kelompok
Interaksi socialyang positif dapat dibentuk melalui kerja berkelompok. Perasaan senasib sepenanggungan antara sesamateman dalam kelompok dan keunggulan dari belajar dalam teman seangkatan adalah faktor positif yang akan dimanfaatkan. Dalam pembinaan kader HMI, solidaritas antar sesama kader berupakan aset yang sangat berharga, karena dari solidaritas tersebut menunjukkan semangat Ukhwah Islamiyah yang kuat dari kader HMI. Dari semangat Ukwah Islamiyah tersebut kemudian akan melahirkan kesalehan-kesalehan social dalam diri kader.
Semangat solidaritas dapat dicapai dengan melakukan kerja kelompok, dalam hal ini adanya system mentoring terhadap kader penting dilakukan. Setidaknya satu pengurus mementori lima kader dalam masa Follow Up dan Up Greeding selama 6 bulan pasca LK1.
b.      Diskusi
Kader akan lebih mudah untuk menyerap dan memahami suatu hal atau fenomena yang dijelaskan oleh temannya dengan gaya bahasa dan pendekatan komunikasi dari kader lain pada usianya. Dengan memperbanyak diskusi tidak hanya keterampilan dialektika yang akan terasah, namun juga kemampuan analisis juga akan terasah.
c.       Menulis
Hasil tulisan baik berupa essay, makalah, atau jurnal merupakan refleksi capaian kemampuan dan pemahaman pada diri kader. Dan dengan membiasakan menulis, akan melatih konstruk berfikir kader agar lebih tertata. Di HMI, menulis merupakan rutinitas kader, bahkan telah menjadi budaya di internal HMI.    


d.      Presentasi
Dalam proses pembinaan kader, presentasi yang baik sangat menunjang penyampaian informasi pengetahuan, baik dari sisi kecepatan maupun bobotnya. Dengan membiasakan kader mempresentasikan hasil karyanya atau hasil bacaannya akan melatih kepercayaan diri kader dalam mempertanggung jawabkan pengetahuannya.
e.       Pemecahan Masalah
Semua atribut SCL tersebut bermuara pada pemecahan masalah. Unsur dasar dari pemecahan masalah adalah proses berfikir kritis (critical thingking). Dengan terbiasa berhadapan dengan masalah, maka akan personality kader akan terbangun, bahkan setelah lulus dari perguruan tinggi, kader akan mudah berpartisipasi aktif dalam menghadapi dinamika social yang ada dilingkungannya.


Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah  diuraikan  di  atas,  dapat disimpulkan berbagai hal sebagai berikut:
1.      Atributatribut SCL yang dapat diintegrasikan kedalam pembinaan kader HMI meliputi: kerja kelompok, diskusi, menulis, presentasi, dan pemecahan masalah.
2.      Model SCL dalam pembinaan kader HMI memaksimalkan mentoring dalam perkaderan formal yang ada dalam pedoman perkaderan. Rasio pembinaan yang dapat direkomendasikan dalam melakukan mentoring yaitu, 1:5. Artinya adalah satu pengurus atau pengkader membina 5 kader dalam jangka waktu 6 bulan, termasuk diantaranya adalah Follow Up dan Up Greeding.
Saran
Berdasarkan   dampak   positif   dari implementasi student centered learning dalam pembinaan kader HMI, pemaksimalan mentoring dalam perkaderan informal HMI sangat penting dilakukan. Hal tersebut juga harus didukung dengan banyaknya aktifitas organisasi baik dalam aktifitas literasi maupun aktifitas social lainnya.
Daftar Pustaka
Utomo, Rujkes, Peningkatandan pengembangan Pendidikan, (Jakarta: Gramedia, 1991).
Made Tirta, 2009, Pembelajaran Terintegrasi. Tersedia pada http://www.Muhlis.file.wordpres.com.
Barbara Dwyer, No Soft Skills No Jobs. Tersedia pada http://www.thejobjourney.org.
Widji Soeratri, Implementasi  Soft skills dalam pembelajaran. Tersedia pada http://www.perbanas.ac.id
Zainuddin. dkk, Melejitkan Soft Skills Mahasiswa, (Surabaya: Airlangga University Press, 2009).
Goleman, Working with Emotional Question,(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1999).
Stoltz, Adversity Quotien, (Jakarta: PT Grasindo, 1977).
Tina Afiatin, 2009, Pembelajaran Berbasis Student Centered Learning. Tersedia pada http://www.inparametric.com.