22 Oktober 2021

Musda HMI Badko Jatim Belum Selesai?

Oleh: Dani Kesuma

Di tengah ketidakpastian Musda HMI Badko Jawa Timur 2021, mari kita berhenti sejenak dan berpikir: Bagaimana sebenarnya keruwetan ini muncul?.

Kericuhan demi kericuhan mewarnai setiap pelaksanaan sidang yang digelar di Kabupaten Jember. Terhitung sejak digelar pertama kali pada 18 September 2021 di Hotel Rembangan kericuhan sudah terjadi. Akibatnya, forum dipindah di Graha Yabina pada 21 September 2021 dan kembali berakhir ricuh. Terakhir, forum dipindah ke Gedung Badan Latihan Kerja BKN Jember pada 23-24 September 2021 dan kembali ricuh. Seminggu berforum dan belum menemui hasil selain kericuhan demi kericuhan.

Apa memang HMI ingin dikenal sebagai organisasi mahasiswa yang langganan ricuh tiap kali musda dan kongres? Coba cek di google dan lihat berapa berita yang terkait frasa HMI dan Ricuh. Sebagai kader, kita perlu mengurai benang kusut ini, mengurainya satu persatu, dan membentangkannya bersama-sama demi himpunan tercinta.

Putusan SC Musda, sah dan mengikat. Mari kita bicara sejenak tentang proses penetapan calon-calon kandidat ketua. Poin ini sebenarnya tidak perlu jika semu pihak sadar dan percaya dengan proses yang berlangsung di internal SC Musda. Tapi sayangnya, ada saja yang mempermasalahkan hal ini, dan kita akan bahas kenapa ini tidak relevan.

SC Musda Jatim menetapkan sejumlah kandidat pada 29 Agustus 2021. Enam kader dari berbagai cabang di Jatim ditetapkan sebagai kandidat. Surat ketetapan ini ditandatangani oleh Abdus Salam Koordinator SC dan Ahmad Ridlo Hanifudin Sekretaris SC.

Penetapan ini sudah melalui verifikasi serius dan inheren di internal SC. Sejak ditetapkan dan diedarkan, maka ketetapan ini sudah memiliki ketetapan legal tetap. Jika ada yang tidak sepakat, boleh menggugat dan bahkan cabang (jika ada) bersangkutan boleh saja memilih tidak menghadiri forum sebagai bentuk sikap tegas mereka. Nyatanya, semuanya datang dan berforum.

Jika ada sejumlah oknum yang mempermasalahkannya di tengah forum yang berlangsung, tentu saja boleh tidak digubris. Dan tentu saja perlu dipertanyakan motivasi dan latar belakang keberpihakan politiknya dalam hal ini.

Maka, perlu dipertegas, jika memainkan isu penetapan calon kandidat adalah isu usang yang tidak relevan.

Panitia harus lebih mempersiapkan teknis pelaksanaan Musda agar berjalan tertib dan lancar. Panitia musda harusnya sudah memikirkan adanya potensi ricuh dalam pelaksanaan sidang di Jember yang seharusnya itu semua adalah tanggung jawab Yogi Pratama selaku Ketua umum Badko Jatim pada saat itu. Tapi kita bisa melihat bahwa persiapan pengamanan forum sidang tidak begitu baik.

Pertama, tidak ada alokasi khusus pengamanan terhadap SC dan pimpinan sidang saat forum berlangsung. Padahal poin ini penting untuk menjaga dua pihak krusial ini tetap netral dan bekerja tanpa tekanan dari berbagai pihak.

Pemilihan tempat dan pengamanan lokasi juga tidak mendapat perhatian serius dari panitia. Bagaimana bisa para oknum bisa membuat ricuh sampai tiga kali di tiga tempat berbeda tanpa ada upaya preventif maupun represif pada mereka? Tentu kita tidak hal serupa terjadi kan?

Sebelum memulai lagi forum, seharusnya poin pengamanan ini menjadi hal penting yang dipikirkan oleh panitia. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, panitia perlu mencari tempat yang lebih netral, aman, dan kondusif untuk menggelar forum lanjutan.

Keputusan SC Musda pada 24 September tentang pelaksanaan Musda Jatim 2021 tentu layak mendapat apresiasi sebagai upaya perbaikan pelaksanaan Musda yang terlanjur ruwet. Jika ada oknum yang merasa keputusan SC Musda sebagai bentuk ketakutan salah satu kandidat untuk kalah, sebenarnya dia sedang menuduh bahwa SC tidak netral dan tentu saja ini tuduhan berat dan serius. Dalam opini yang beredar, tuduhan ini bahkan tidak menjelaskan secara runtut dan logis dasar tuduhannya.

Musda itu milik kader himpunan yang sedang berproses oragneisasi. Sangat disayangan apabila tercederai oleh tindakan “oknum” yang justru menjauhkan dari independensi organisasi. Kita semua sepakat Musda adalah perhelatan politik milik kader aktif HMI Badko Jatim. Jika ada senior yang ikut terlihat secara berlebihan atau melakukan intervensi dan infiltrasi tentu perlu ditolak dan dilawan.

Kader HMI perlu belajar dan berani melawan hal-hal semacam ini jika tidak ingin dianggap organisasi yang suka membebek ke senior. Dalam pelaksanaan sidang di Jember, indikasi ini dipertontonkan secara telanjang dan memalukan.

Oknum Koordinator Presidium Majelis Daerah Kahmi Jember Abdil Furqon, SH mengintervensi forum dengan berada di depan forum mengawasi sidang. Tak hanya itu, oknum ini juga menyuruh mengunci pintu forum saat skorsing peserta sidang akan melakukan sholat subuh.

Bukan hanya itu, intervensi juga diberikan oleh Oknum Presidium Majelis Wilayah Kahmi Jatim. Oknum ini bahkan menekan para kandidat dan mengarahkan kandidat ketua umum badko HMI Jatim untuk bertemu bersama dan mengarahkan arah koalisi bersama kandidat tertentu, itu semua dilakukan di cafe senja jember sebut saja mereka adalah MW Kahmi Jatim Drs. Bawon Adi Yitoni, dan Haruna Soemitro.

Dari sekian poin yang dijelaskan di atas, kita jadi paham bahwa kita perlu berhenti sejenak, meletakkan semua ego pribadi, kepentingan golongan, dan ambisi-ambisi merusak untuk kepentingan yang lebih besar yaitu terselesaikannya sidang Musda Jatim yang damai dan berakhir baik.

Kita tahu bahwa langkah SC untuk menunda sejenak forum adalah pilihan tepat untuk mempersiapkan forum lanjutan yang lebih baik dan aman. Kita boleh curiga, boleh berasumsi, boleh berburuk sangka pada SC, tapi selama kita tahu bahwa tanpa perbaikan kesiapan panitia, kita sama saja dengan menumpuk kayu bakar di tengah api yang sedang berkobar. Tentu kita tidak ingin menjadi abu lahab yang menhancurkan himpunan ini.

Terakhir, selamat menjalani semua proses yang berlangsung dalam musda Jatim kali ini. Jauh di balik semua ambisi yang ada, kita sama-sama sadar bahwa tujuan baik apapun tidak akan pernah berakhir baik jika cara yang dipakai juga buruk.