11 April 2021

Nikah Muda Vs Nikah Dini serta Upaya Memahami Peran

Ilustrasi (foto/bipol.co)

Oleh : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)

Dari data Badan Pusat Statistik data pernikahan dini tahun 2018 mencapai 15,66% dan angka perceraian dengan 408,202 kasus dengan penyebab terbesar perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus dengan 183.085 kasus. Factor ekonomi menempati posisi kedua sebanyak 110.909 kasus, sementara masalah lain adalah suami / istri pergi (17,55%) KDRT (2,15%) dan mabuk (0,85%).

Dari data diatas kasus terbanyak terjadinya perceraian karena pertengkaran yang terus menerus. Dan angka pernikahan dini di Indonesia cukup menjadi problem pemerintah. Faktor terjadinya pernikahan dini banyak yang melatarbelakangi seperti perekonomian yang semakin menghimpit masyarakat, sehingga banyak anak yang putus sekolah dan mengambil jalan pintas untuk menikah dini tanpa memikirkan resiko jangka panjang. Banyak terjadi salah pemahaman antara nikah muda dan nikah dini. Nikah dini lebih cenderung dengan usia yang belum masuk dalam salah satu persyaratan menikah UUD 79 pasal 1 laki-laki minimal berusia 19 tahun dan perempuan minimal berusia 16 tahun. Kemudian nikah dini menjadi ajang pelampiasan dari keterpurukan perekonomian keluarga serta keputusan yang diambil tidak dalam perhitungan yang kurang matang.

Pernikahan dini bisa memicu pertengkaran yang terus menerus karena secara emosional dan kemantapan berfikir belumlah matang, sehinggga belum bisa mengontrol emosi dan bijak dalam mengambil keputusan. Dari kasus perceraian pertengkaran terus menerus lah yang berada di posisi pertama sebagai penyebabnya. Pernikahan bisa diselamatkan salah satu caranya dengan memahami peran masing-masing dalam keluarga. Sebelum masuk ke payung atau kehidupan baru yakni kehidupan berumah-tangga tentunya setiap pemeran keputusan telah mengetahui kewajiban baru yang akan melekat pada diri mereka masing-masing. Dengan bergantinya status mengakibatkan timbullah hukum atau kewajiban di setiap pihak. Dalam hal ini penulis akan mengulas kembali kewajiban dari setiap komponen keluarga.

Tugas suami meliputi menjamin keamanan keluarga, memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal. Nafkah pangan meliputi pemenuhah segala kebutuhan rumah tangga, istri dan anak. Membimbing keluarga atau sebagai pemimpin dalam keluarga. Membiayai pendidikan anak. Menegakkan rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah yang menjadi sendi dasar dalam susunan masyarakat. Menjaga kehormatan keluarga.

Tugas istri meliputi meliputi taat dan patuh kepada suami, mengatur rumah dengan baik, menghormati keluarga suami, bersifat sopan penuh senyum kepada suami, tidak mempersulit suami dan selalu mendorong suami untuk maju, ridha dan syukur terhadap setiap pemberian suami, pandai mengatur kebendaharaan rumah, selalu berhias dan bersolek untuk suami atau dihadapan suami, jangan cemburu buta, memenuhi kebutuhan psikis dan biologis suami, melayani segala kebutuhan suami, menjaga kehormatan keluarga.

Selain dari tugas atau kewajiban dari setiap anggota keluarga, ada yang namanya fungsi pemeliharaan dalam rumah tangga, dimana setiap anggota keluarga mengambil alih dalam setiap fungsi tersebut. Contoh memelihara agar tidak sakit, setiap anggota keluarga memiliki kewajiban untuk menjaga kesehatannya masing-masing, seperti menjaga pola hidup sehat. Dari pola makan sampai pola tidur. Dan setiap anggota keluarga juga saling menjaga agar salah satu anggota keluarganya tidak ada yang sakit. Contoh istri menjaga pola makan keluarganya dengan memasak atau memenuhi standar makanan 4 sehat 5 sempurna. Suami menjaga agar keluarganya tidak sakit dengan cara semakin giat bekerja untuk menafkahi keluarga agar kebutuhan keluarganya tercukupi. Anak menjaga kondisi ayah dan ibunya agar tidak terlalu kelelahan yang bisa mengundang penyakit, ikhtiar anak dengan cara berbakti dengan orangtua, sering membantu pekerjaan orangtua, menyenangkan hati orangtua sehingga dalam psikis orangtua juga tertangani melalui sikap anak tadi. Jadi dapat disimpulkan dalam memelihara agar tidak sakit selain memelihara diri sendiri juga saling memelihara antara satu dengan yang lainnya. Menumbuhkan sikap saling memiliki bukan saling menuntut tuk di miliki. Kata memiliki disini tidak keluar dari konteks titipan ilahi.

Menjaga jika ada yang sakit, yang bertugas memelihara jika salah satunya sakit adalah istri. Karena dalam ilmu neorosains istri memiliki kekuataan yang telah Allah berikan kepada seorang istri untuk mampu menjaga keluarganya apabila ada yang sakit. Meskipun istri dalam keadaan sakit, ia tetap bisa menjaga suami atau anaknya yang sedang sakit secara bersamaan. Tetapi berbeda dengan suami, karena suami tidak bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu maka suami jika sakit ia hanya terfocus pada sakitnya tanpa bisa menjaga keluarganya yang lain. Tetapi istri bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu, sehingga ia mampu melayani suami, menjaga anak meskipun ia dalam keadaan sakit. Tetapi jika suami dalam keadaan sehat, suami juga harus menjaga anggota keluarga agar sakitnya tidak menular dengan anggota keluarga yang lain serta mencarikan obat. Tetapi tugas suami tidak sebesar tugas istri dalam menjaga keluarga yang sakit, karena dari segi yang berada lebih banyak dirumah adalah istri dibandingkan suami.

Menjaga dari bahaya lingkungan. Suami atau setiap laki-laki tanpa disadari alam bawah sadarnya selalu mengajarkan untuk memberikan pelindungan kepada istri, saudarinya, ibunya. Jadi tugas menjaga dari bahaya lingkungan lebih dibebankan kepada suami, dia harus menjaga anggota keluarganya tetap aman dari bahaya lingkungan. Contohnya saja jika suami menyetir mobil, lalu tiba-tiba ada mobil yang menyalib sehingga membuat suami kaget dan mengerem mendadak, suami akan spontan memarahi mobil yang menyalib tadi. Ucapan spontan itu adalah reaksi dari alam bawah sadarnya. Itu salah satu bentuk bahwa seorang suami atau laki-laki telah Allah konsep pikirannya untuk memberikan pengayoman. Jadi seorang suami lebih besar tanggungjawabnya untuk memberikan pengayoman terhadap keluarganya.

Kemudian salah satu tujuan pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan. Tetapi sebelum mewujudkan salah satu visi pernikahan hendaknya jangan sekonyong-konyong mengandalkan pengalaman dari orangtua tanpa di upgrade dan ilmu yang matang. Salah satunya sebelum memiliki anak haruslah mempersiapkan diri atau berikhtiar terlebih dalam hal mental, emosional, fisik dan ilmu. Dimana seorang calon bapak dan ibu harus memiliki mental yang kuat jika anak yang dilahirkan tidak sesuai dengan keinginan baik itu jenis kelaminnya, atau anak yang dilahirkan mengalami perbedaan dengan bayi lain pada umumnya. Siap menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan bayi. Yang kedua mempersiapkan emosional, bijak dalam memberikan contoh figur teladan, bijak dalam mengelola emosi setiap proses pertumbuhan anak. Ketiga mempersiapkan fisik, fisik sebagai seorang ibu saat hendak melahirkan anak. Fisik yang kuat untuk bapak saat berikhtiar mencari rezeki dalam menafkahi keluarga yang jumlah tanggungannya semakin bertambah. Kemudian ilmu, memiliki ilmu parenting yang baik, bagaimana cara mendidik anak sesuai dengan usia pertumbuhannya, mendidik sesuai dengan tabiat bawaan anak, berilmu dalam memerankan tugas sebagai seorang ibu dan seorang bapak. Selanjutnya mempersiapkan didikkan cabang bayi sejak dalam kandungan, misalnya menginginkan seorang anak yang hatinya selalu tertaut dengan alquran maka sejak dalam kandungan selalu mendengarkan murotal atau sang ibu sendiri yang mengaji setiap saat. jika menginginkan seorang anak yang mencintai rasulullah, maka sang ibu selalu bersholawat, berzikir. Mempersiapkan didikan anak sejak dia menjadi cabang bayi. Dan mempersiapkan gambaran akhlak anak sejak memilih pasangan. Seperti dalam pepatah buah tidak jatuh jauh dari batang.

Setelah mengetahui kewajiban, tugas, fungsi, konsep keluarga di masa depan dan telah mempersiapkan diri baik secara lahiriah dan batiniah (iman, emosi, kematangan berfikir, psikis) maka pernikahan muda tidak meninggalkan sejarah kelam dalam kasus perceraian. Yang sering memicu adalah pernikahan dini, dimana secara lahiriah dan batiah belum tersiapkan dengan matang. Dan nikah muda jika telah memenuhi persyaratan baik secara hukum konvensional (Hukum Negara) dan hukum syariah (Hukum Agama) bisa menekan tingkat pelecehan terhadap wanita, tingkat aborsi, tingkat hamil di luar pernikahan. Yang semua menjurus kepada anak muda jika iman dan kematangan berfikirnya lemah. Yang perlu di perbaiki dalam pemikiran adalah nikah muda bukan nikah dini, serta bedah terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan nikah muda. Dan menilik ke diri sendiri apakah sudah siap untuk menikah muda.