Menu

Mode Gelap

Opini · 20 Okt 2021 10:29 WIB ·

Nyai Madura Penjaga Tengka


 Nyai Madura Penjaga Tengka Perbesar

Oleh : Ponirin Mika (Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Sosial Research, Juga Pemerhati Pendidikan di Indonesia)

Tulisan ini tidak cukup menggambarkan sosok Nyai di Madura. Sangat banyak kelebihan-kelibihan yang diperankan olehnya. Baik dalam giat keagamaan, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik.

Ulasan saya yang sederhana ini hanya ingin mengungkapkan salah satu peran penting seorang nyai dalam menjaga tengka (bahasa madura).

Salah satu adat istiadat yang telah lama berlaku ditengah-tengah masyarakat, sulit bagi masyarakat madura untuk dihilangkan. Bagi masyarakat madura adat merupakan salah satu tradisi yang harus dilestarikan hingga kapanpun.

Pengawalan tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh orang tokoh agama dari kalangan kaum laki-laki, tapi tokoh agama perempuan pun ikut menjaga dan merawat tradisi yang sedang berlangsung ditengah-tengah masyarakat madura.

Masyarakat madura sangat menghormati tokoh agama yang disebut dengan kiai atau nyai. Perannya sangat urgen lebih-lebih dalam masalah agama dan prilaku manusia dalam kesehariannya. Di pulau madura tidak hanya seorang kiai yang memiliki otoritas menjaga kegiatan keagamaan, melainkan sosok nyai memiliki tugas yang sangat penting menjadi pengawal dan penjaga tradisi.

Tidak sama dengan nyai pada umumnya, di madura nyai mempunyai tugas yang sama dengan kiai. Tidak sedikit nyai-nyai pesantren yang memberi ceramah pada pengajian, memimpin majelis ta’lim dan juga memimpin jama’ah thariqoh. Bahkan bisa jadi peran nyai mengalahkan peran kiai dalam kegiatan keagamaan, kemasyarakatan, pendidikan dan politik.

Sebutan nyai di madura tidak diberikan kepada sembarang orang perempuan. Nyai adalah ungkapan bagi orang yang memiliki kemampuan ilmu agama, dan juga memiliki spritualitas yang tinggi serta mempunyai jamaah.

Orang perempuan yang tidak kompeten di dalam menguasai ilmu agama, bagi masyarakat madura kurang layak disebut dengan nyai. Kualifikasi penyebuatan kata nyai bagi orang perempuan tidak dilihat dari usianya. Tapi gelar tersebut diberikan sebagai ungkapan untuk menghormati orang perempuan keturanan darah biru, disamping memiliki kemampuan ilmu agama. Nyai di madura rata-rata menguasai baca kitab kuning. Sehingga saat memberikan ceramah di depan orang banyak selalu mengutip keterangan-keterangan yang ada dalam kitab-kitab klasik.

Disamping itu, nyai berperan menjaga tengka (bahasa madura). Bagi masyarakat madura seorang perempuan tidak bebas bergaul dengan orang laki-laki apalagi yang bukan mahromnya. Perempuan-perempuan madura lebih tertutup pergaulannya dengan kaum laki-laki. Prilaku seperti itu bukan hanya karena ada perintah dalam agama, namun sosok nyai terus hadir untuk memberikan pemahaman-pemahaman dan batas-batas keakraban yang dibangun oleh orang laki-laki dan perempuan.

Di madura orang perempuan yang melewati batas bergaul dengan kaum laki-laki, maka akan mendapatkan sanksi sosial atau akan dirasanin (bahasa madura) oleh masyarakat yang lain. Tradisi bengibe (bahasa madura) yang memilki arti menyumbangkan rezekinya untuk orang lain yang sedang memiliki hajat, itu selalu dilakukan. Orang yang diberi sumbangan bukanlah orang miskin, secara harta benda mungkin ia lebih banyak memiliki ketimbang orang yang menyumbang. Tapi itu mengenai tengka terus terwujud, terjaga dan terpelihara.

Dalam hal itu, nyai selalu memberikan edukasi akan pentingnya prilaku tersebut untuk terus diberlangsungkan. Kemajuan zaman tidak boleh menghilangkan tradisi memelihara tengka. Dan seringkali kita temui nyai madura lebih keras mengawal tradisi dan terkadang tidak sungkan-sungkan menegur kalangan kaum laki-laki yang menyalai tradisi yang telah lama mengakar ditengah-tengah masyarakat.

Meskipun nyai di madura saat ini lebih melebarkan tugasnya kepentas yang lebih lebar. Akan tetapi meski demikian menjaga tengka merupakan hal yang paling penting, hingga tak pernah luput dari amatannya.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tuhan Maafkan, Saya Belum berislam

18 Januari 2022 - 06:52 WIB

Gus Yahya dan Harapan Masa Depan NU

10 Januari 2022 - 05:00 WIB

Tahun Baru; Proyeksi HMI Untuk Masa Depan Indonesia

2 Januari 2022 - 16:21 WIB

Inilah Pemenang Lomba Menulis Melestarikan Budaya Merawat NKRI

30 Desember 2021 - 16:14 WIB

Ada Aboge di Kangean

28 Desember 2021 - 09:29 WIB

Gus Yahya dan NU

26 Desember 2021 - 13:53 WIB

Trending di Opini