11 April 2021

Pak Tua di Malam Hari

Oleh: Ongen B Sitorus

Suatu waktu di sebuah Kota. Sebagai pemuda di tanah rantau beradu peruntungan di perantauan. Di tanah rantau, saya di izinkan tinggal bersama abang yang sama-sama berasal dari kampung halaman. Beliau telah kuanggap sudah seperti kakak sedarah, bukan tanpa alasan, karena dirinya yang menanggung kebutuhan hidupku selama di Kota. Beliau begitu baik dan budiman.

Tiada terasa Genap 6 bulan terlalui selama di Kota Metropolitan. Sebagai kesadaran, selama di tanah rantau, saya berinisiasi mengerjakan segala urusan rumah. Sebagai lulusan Sarjana, mengurus kebutuhan rumah adalah predikat unik bagi sebagian orang. Uniknya karena mengapa harus mengurus kebutuhan rumah, akankah sekeras itu hidup hingga Gelar Sarjana tidak berguna ataukah lukisan pena itu tetap berguna namun tak membatasi ruang ekspresi.

Andai diperbolehkan saya berikan perumpamaan, saya teringat dengan ungkapan Tan Malaka, tokoh patriot nasionalis bangsa ini. 
“Bila kaum muda telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar lalu enggan bekerja dengan cangkul, maka lebih baik pendidikan tidak di berikan sama sekali”

Bila Tan Malaka berkata tentang sebuah cangkul, maka saya membincang tentang alat rumah tangga. Sarjana tak menjadikan lupa diri. Sarjana tak berarti memberikan batasan-batasan untuk berbuat sesuatu bahkan jika harus berurusan dengan urusan rumah. Maka sepatutnya pendidikan yang tinggi semakin membuka khazanah pengetahuan agar holistik dalam memandang. Dan Bukan memelihara mindset mengikuti aturan baku. “Inilah maksud kata tak membatasi ruang ekspresi.”

Lanjut cerita, Karena berinisiasi bertanggung jawab mengurus rumah, maka tak jarang urusan belanja ke pasar juga saya lakukan. Tepat suatu malam, saya berkeinginan untuk ke Pasar Tradisional. Sebenarnya sedari lama telah kurencanakan, tetapi hari itu Kota di guyur hujan tiada henti.

Hujan reda, semangat ke pasar tak ikut reda. Segera ku lajukan kendaraan bersama kawan serumah. Dia yang telah berpengalaman melalangbuana lintas perkotaan termasuk kota ini menjadi alasan mengajaknya menemaniku yang belum paham medan perkotaan.

Setiba di pasar, bersama kawanku mulai bertualang dari 1 penjual ke penjual lainnya. Tujuannya satu. Mendapatkan barang yang paling ekonomis dengan sedikit trik tawar-menawar agar mendapatkan harga yang sesuai badget. “Sedikit menggaris bawahi, Hal ini mengingatkanku perbuatan yang sulit terjumpai di pasar modern.”

Setelah beberapa kebutuhan rumah tangga telah terpenuhi, kami hampir lekas pulang melupakan 1 jenis makanan mentah yang menjadi santapan sehari-hari dirumah yakni Tempe. Konon katanya, Makanan tradisional ini telah dikenal sejak berabad-abad lalu, utamanya dalam tatanan budaya jawa. Cukup di situ saja, bukan berarti tak ingin mengulik cikal-bakal tentang tempe, namun kali ini saya urungkan niat itu, jika ada. suatu waktu mungkin saya mencoba menelaahnya.

Setelah mencari pedagang tempe di sekitaran pasar, akhirnya saya bertemu dengan seorang bapak Tua yang berdagang tempe dengan rak kayu persegi ukuran 40 cm x 40 cm dia menjajalkan dagangannya. Bila dipandang sepintas, dia tak akan tampak sebab letaknya berada di keremangan cahaya.

Menghampiri seraya mempertanyakan harga dagangannya, setiap irisan tempenya bernilai Rp. 5,000, saya ambil 4 iris untuk persiapan komsumsi beberapa hari kedepan. setelah memilih beberapa irisan tempenya usai, saya pun bermaksud membayarnya. Tampak dia meraba seakan mencari posisi tanganku yang menyodorkan sehelai kertas untuk ku bayarkan padanya.

Sejenak kutanggap biasa saja, kelamaan saya pun merasa ada yang aneh dengan Pak Tua itu. Mencoba beranggapan, faktor cahaya yang remang mungkin menjadi salah satu alasan mengapa dia berkelakuan seperti itu. Setelah dia meraih tanganku dan mengambil sehelai kertas itu dan meraba kertas itu seakan ingin mencari tahu sesuatu, dia merogoh kantung bajunya. Rupanya mengambil beberapa helai kertas pula.

“Kembaliannya di tunggu ya nak”. “Mendengar ucapannya saya spontan katakan uang yang saya berikan pas pak.”

Penasaran dengan tingkah Pak Tua, saya mencoba bertanya ada apa dengannya, berharap tak menyinggung dirinya. Dengan sedikit kaget atas pertanyaanku, Pak Tua pun menjelaskan bahwa dirinya mengalami gangguan penglihatan dalam hal ini Tuna Netra. Gangguan itu telah dia idap sejak lahir. Karena faktor ekonomi guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, dirinya juga hanya lulusan SD karena keterbatasan yang dia miliki, sehingga tak memiliki pilihan selain berdagang. Dia lanjut bercerita,. Katanya “di Kota seperti ini, orang-orang sepertinya jarang ada yang melirik,” Jika dia tak berusaha sendiri meski dengan keterbatasan fisik, maka dia akan mati.

Setelah membungkus dagangannya yang saya beli, Pak Tua kembali berdiri melayani orang-orang yang ingin membeli tempenya. Dan saya pun pamit padanya dan tak lupa berterima kasih. 
Sepenggal cerita singkat di atas, bukanlah bermaksud menampilkan sisi kekurangan seseorang. Melainkan memberikan suatu gambaran akan kreativitas seorang Tuna Netra melalui gelombang hidup. Dan saya kagum dengannya, walau tampak hidupnya begitu sulit.
Persis yang dikatakan Erich Fromm “Kreativitas membutuhkan Keberanian untuk melepaskan Kepastian.”
“Kepastian atas keterbatasan fisik Pak Tua, tak menjadikannya kehilangan akal melampaui keterbatasannya untuk kreatif.”

Di sisi lain, ada hal yang mencengangkan dan mungkin saja bermuara keprihatinan. Di Kota sebesar ini, seseorang dengan keterbatasan fisik belum mendapatkan perhatian khusus. Yang sepatutnya mendapat perhatian lebih, dengan upaya memberikannya tata kelola khusus bagi penyandang Tuna Netra sehingga dia memiliki harapan hidup yang meningkat dari segi ekonomi. Katakanlah, bantuan modal dan pelatihan-pelatihan berwirausaha atau bisa saja memberikannya jaminan pekerjaan seperti orang-orang dengan fisik normal pada umumnya. Sehingga kemudian hari, harapan orang-orang dengan jenis keterbatasan fisik seperti Pak Tua maupun orang-orang dengan keterbatasan fisik lainnya, mampu bersaing bersama orang-orang yang tak memiliki keterbatasan fisik dengan berpacu pada kemampuan skill. Bahkan bukan hal tak mungkin, orang-orang dengan keterbatasan fisik mampu menciptakan lapangan kerja.

Tutup cerita, “Semoga hal ini tidak terjadi di wilayah lain, khususnya daerah pelosok.”