22 Oktober 2021

Pandemi Covid-19 dan Konspirasi

Penulis; Halimah (Ketum Kohati Cabang Medan)

Pandemi Covid 19 dan Konspirasi
Setahun pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, banyak sekali teori konspirasi yang ikut mewarnai sumber-sumber informasi terkait pandemi ini di tanah air.

Teori konspirasi yang banyak beredar luas di media massa, justru membuat sebagian besar masyarakat mempercayai teori tersebut dan mengabaikan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang memang benar-benar ada.

Ironisnya, kepercayaan terhadap adanya ragam teori konspirasi ini, telah berdampak pada sebagian orang dan bahkan harus meregang nyawa. Berikut beberapa teori konspirasi virus corona yang hadir selama setahun pandemi Covid-19 di Indonesia.

1. Kebocoran laboratorium biologi
Pada awal-awal kemunculan pandemi virus corona di China dan menyebar di sejumlah negara di dunia, muncul spekulasi teori bahwa penyebab pandemi ini terjadi bukan dari virus SARS-CoV-2 alami melainkan senjata biologis dari laboratorium di China yang bocor. seperti dilansir dari Live Science, Senin (20/4/2020), juga menyebut virus tersebut dibuat sebagai senjata biologis atau bioweapon. Peneliti di Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr R Fera Ibrahim MSc SpMK(K) PhD, mengatakan virus corona memang sudah ada sejak lama, di antaranya menyebabkan wabah SARS dan MERS beberapa waktu lalu.

Sumber utamanya adalah virus corona dari kelelawar, yang menular melalui hewan perantara masing-masing. Sebuah penelitian tentang pandemi Covid-19 yang diterbitkan di jurnal Nature Medicine pada 17 Maret 2020, menunjukkan bukti spesifik yang menyangkal teori konspirasi yang merebak, jika virus corona, SARS-CoV-2 tidak direkayasa di laboratorium di China.

Analisis data sekuens genom dari virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 menunjukkan virus tersebut adalah produk evolusi alami dan bukan rekayasa genetika di laboratorium. “Dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain virus corona yang diketahui, kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari proses alami,” kata Kristian Andersen, PhD, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research. 2. Teknologi 5G transmisikan virus corona Setahun lalu, di tengah pandemi Covid-19
muncul teori konspirasi tentang teknologi 5G yang dikabarkan membantu menstransmisikan (menularkan) virus corona pada manusia. Baca juga: 342 Tenaga Medis Meninggal karena Covid-19, IDI: Bukan Hoaks dan Konspirasi Lihat Foto Pendiri Microsoft, Bill Gates(reuters.com) Teori konspirasi ini muncul berawal dari viralnya video yang merekam menara ponsel terbakar di Birmingham dan Merseyside, Inggris. Jaringan selular Inggris telah melaporkan sekitar 20 kasus tiang menara ponsel yang menjadi sasaran dalam dugaan serangan pembakaran selama akhir pekan saat Paskah 2020.

Video kebakaran menara ponsel itu lantas tersebar di berbagai situs media sosial Facebook, Instagram dan Youtube. Untuk diketahui, jaringan 5G adalah jaringan ponsel yang di bawa oleh gelombang radio. Namun, teori konspirasi ini menyebutkan bahwa jaringan 5G bertanggung jawab terhadap penyebaran virus corona.

Padahal, para ilmuwan telah mengatakan dengan tegas bahwa hubungan antara Covid-19 dan jaringan 5G secara biologis tidak mungkin terjadi. Baca juga: Benarkah Pandemi Virus Corona adalah Konspirasi? Ini Penjelasan Ahli Teori konspirasi ini telah dicap sebagai berita palsu (hoaks) terburuk oleh Direktur Medis NHS England Stephen Powis.

2. Penanaman Microchip Vaksin
Teori konspirasi berikutnya yang tidak kalah menghebohkan masyarakat Indonesia adalah program vaksinasi yang bertujuan untuk menanamkan microchip rancangan Bill Gates. Mengutip pemberitaan BBC, Jumat (5/6/2020), menurut sebuah studi oleh The New York Times dan Zignal Labs, teori-teori yang menghubungkan Bill Gates dengan virus corona disebutkan sebanyak 1,2 juta kali di televisi atau media sosial antara Februari dan April 2020. Baca juga: Studi: 800 Orang Meninggal karena Hoaks dan Teori Konspirasi Corona.

Hal itu dilatarbelakangi oleh sebuah pidatonya pada 2015 silam yang memperingatkan adanya virus di masa depan. “Jika ada yang membunuh lebih dari 10 juta orang selama beberapa dekade ke depan, itu kemungkinan merupakan virus yang sangat menular daripada perang,” kata dia kepada audiens.

Dari pidato itu, muncul tudingan teori konspirasi. Beberapa menuduhnya sebagai pemimpin kelas elit global, sementara yang lain percaya bahwa dia memimpin upaya untuk mengurangi populasi dunia.

Selain itu, teori ini dikaitkan dengan fakta bahwa Yayasan Bill dan Melinda Gates mendanai studi yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) tahun 2019 dan melihat kemungkinan menyimpan riwayat vaksinasi pasien dalam pola warna, pandemi virus corona, pandemi Covid-19 (Shutterstock/Kentoh) Bill Gates pun mengaku terkejut ketika tahu bahwa dirinya telah dituding menjadi tokoh dari teori-teori semacam itu. “Sangat merepotkan bahwa ada begitu banyak kegilaan. Ketika kami mengembangkan vaksin, kami menginginkan 80 persen dari populasi untuk mendapatkannya,” kata Bill.

Masih melansir BBC, ilmuwan politik di University of Miami dan penulis buku tentang teori konspirasi, Profesor Joseph Uscinski percaya bahwa semua itu karena Bill adalah orang kaya dan terkenal. “Teori konspirasi adalah tentang menuduh orang-orang kuat melakukan hal-hal buruk. Teori-teori itu pada dasarnya sama, hanya namanya saja yang berubah,” kata Joseph.

“Sebelum Bill Gates, ada George Soros dan keluarga Koch bersaudara, keluarga Rothchild, dan Rockefeller yang bernasib sama,” lanjut dia. Baca juga: Bill Gates Bicara Soal Bagaimana Kita Seharusnya Merespons Covid-19 Menurut Joseph, tuduhan orang kaya dan perusahaan besar yang bersekongkol untuk membuat sebuah bencana atau petaka seharusnya tidak mengejutkan. Pasalnya, hal itu telah menjadi amunisi teori konspirasi sejak lama.

3. Teori konspirasi dari pemerintah
Kendati demikian, teori konspirasi yang bermunculan juga memberikan banyak peluang bagi pemerintah di sejumlah negara. Seperti dilansir dari New York Times, mengantisipasi serangan politik dengan memanfaatkan kondisi pandemi virus corona ini, tidak sedikit pemerintah yang memperdagangkan klaim palsu mereka sendiri. Baca juga: Dari Senjata Biologis hingga 5G,
Ini Teori Konspirasi Sesat tentang Corona Seorang pejabat senior China mendorong klaim virus itu diperkenalkan ke negara ini oleh anggota Angkatan Darat Amerika Serikat.

Lebih buruknya, tuduhan itu diizinkan berkembang di media sosial China yang dikontrol ketat. Di Venezuela,
Presiden Nicolás Maduro menyarankan virus itu sebagai bioweapon Amerika yang ditujukan untuk China. Sedangkan di Iran, para pejabat menyebut wabah virus corona sebagai rencana untuk menekan pemungutan suara di sana. Bahkan gerai-gerai yang mendukung pemerintah Rusia, termasuk cabang-cabang di Eropa Barat, telah mempromosikan klaim bahwa Amerika Serikat merekayasa virus untuk merusak ekonomi China.

Klaim sesat juga merebak di Italia, sebagai negara dengan angka kasus virus corona tertinggi di Eropa. Matteo Salvini, pemimpin Partai Liga anti-migran Italia, menulis di Twitter bahwa China telah merancang ‘supervirus paru-paru’ dari ‘kelelawar dan tikus’. Baca juga: 342 Tenaga Medis Meninggal karena Covid-19, IDI

Bukan Hoaks dan Konspirasi Lihat Foto Demonstran memprotes Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan penanganannya terhadap pandemi virus corona di Brasilia, pada Minggu (31/1/2021). Covid-19 telah menewaskan sedikitnya 2.219.793 orang di seluruh dunia, termasuk 223.945 di Brasil, sejak wabah itu muncul di China pada Desember 2019, menurut penghitungan dari sumber resmi yang dikumpulkan oleh AFP.(AFP/SERGIO LIMA) Presiden Jair Bolsonaro dari Brasil telah berulang kali mempromosikan pengobatan virus corona yang tidak terbukti, dan menyiratkan virus itu kurang berbahaya daripada yang dikatakan para ahli. Facebook, Twitter dan YouTube semuanya mengambil langkah luar biasa untuk menghapus unggahan tentang klaim sesat terkait virus corona tersebut.

4. Klaim Aliansi Dokter Dunia

Video berdurasi 30 menit, tujuh dokter yang mewakili Jerman, Belanda, Swedia, Irlandia, dan Inggris itu mengklaim bahwa virus corona SARS-CoV-2 adalah virus flu biasa dan tidak ada pandemi Covid-19.

Mereka pun mengatakan, lockdown di seluruh dunia yang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus corona harus diakhiri. Di situs web mereka, aliansi tersebut dideskripsikan sebagai kelompok profesional kesehatan nirlaba independen yang bersatu untuk mengakhiri lockdown. Ahli Peringatkan Teori Konspirasi Medis Bisa Perburuk Pandemi Corona. “Saya ingin menyatakan bahwa tidak ada pandemi atau epidemi medis,” kata Elke de Klerk yang mengidentifikasi dirinya sebagai dokter umum dari Belanda dalam video tersebut. Video ini telah dihapus dari YouTube dan sebagian dari videonya beredar di Facebook dan platform sosial media lain seperti Instagram.

Selain itu, pernyataan dari Aliansi Dokter Dunia ini dibantah oleh banyak ilmuwan dan peneliti dunia lainnya. Dengan tegas para ilmuwan mengatakan bahwa penyebab pandemi Covid-19 saat ini adalah virus corona baru SARS-CoV-2, dan ini bukan jenis virus influenza. Baca juga: [Hoaks] Klaim Aliansi Dokter Dunia soal Covid-19, Begini Faktanya Banyak ahli medis juga mengkritisi pernyataan De Klerk dalam video tersebut mengenai 89 hingga 94 persen hasil tes PCR adalah positif palsu, dan tidak menguji Covid-19. Michael Joseph Mina, seorang dokter dan profesor epidemiologi di sekolah kesehatan masyarakat Harvard, mengatakan tidak benar bahwa sebagian besar tes PCR virus korona adalah positif palsu dan tidak menguji virus.
“Banyak yang bisa menjadi positif terlambat yang berarti RNA masih ada, tetapi virus yang layak telah dibersihkan,” katanya melalui e-mail kepada AP News, Jumat (23/10/2020). “Jadi orang-orang ini mungkin sudah tidak menular lagi, tetapi hasilnya akurat. PCR dapat menemukan RNA SARS-CoV-2,” Mina menambahkan, dibutuhkan lebih banyak pengujian, bukan lebih sedikit. Lihat Foto Judy Mikovits di Institut Whittemore Peterson untuk Penyakit Neuro-Kekebalan pada tahun 2011, tahun ia dipecat di sana.(David Calvert / Associated Press) 6. Plandemic; Judy Mikovits Teori konspirasi corona juga datang dari seorang ilmuwan bernama dr Judy Mikovits. Nama Judy Mikovits ramai diperbincangkan setelah dia mengunggah video bernuansa film dokumenter berjudul Plandemic di YouTube, awal Mei lalu. Dalam video berdurasi 26 menit, wanita itu menegaskan bahwa pandemi corona merupakan sesuatu yang dibuat perusahaan farmasi besar.

Ada beberapa poin yang dikeluarkan Judy Mikovits dalam video tersebut yaitu. Bill Gates dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dituduh sebagai dalang penyebaran Covid-19 Masker dapat membuat orang lebih sakit dan membahayakan Kepala Gugus Tugas Covid-19 AS dan ketua Institut Nasionasl untuk Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS, dr Anthony Faucy disebutkannya telah menghentikan penelitian vaksin corona Baca juga: Siapa Judy Mikovits, Sosok Teori Konspirasi Corona yang Resahkan Ilmuwan?

Tak cuma menyampaikan argumen lewat YouTube, Mikovits juga meluncurkan buku berjudul Plague of Corruption pada April 2020. Beruntung, Facebook dan YouTube telah menghapus konten ‘Plandemic’ karena video di dalamnya menyebarkan informasi bohong atau hoaks dan tidak akurat terkait pandemi Covid-19 yang justru bisa membahayakan masyarakat.
Di mata para ilmuwan, kredibilitas Mikovits tak lagi bisa dipercaya. “Para ahli teori konspirasi menyusun pseudosain (pengetahuan atau keyakinan yang diklaim sebagai ilmiah, tetapi tidak mengikuti metode ilmiah) yang dideskritkan sebagai tandingan keilmuan nyata,” kata Renee DiResta, seorang peneliti disinformasi di Stanford Internet Observatory.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.