16 Oktober 2021

Pembodohan yang Bahagia

Oleh: Nur Fadillah (Kader HMI Cabang Gowa Raya Komisariat Syariah dan Hukum)

Kaum perempuan yang amnesia akan berfikir, mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka untuk mempercantik diri merupakan salah satu bentuk kesengsaraan perempuan, mereka cantik untuk siapa? Pastinya untuk laki-laki. Lantas kaum perempuan dapat apa? Pujian? Pujian bukan berarti tolak ukur kecantikan. Selain memenuhi kantong mata lelaki dengan polesan cantik diwajahmu, ini juga memperkaya dan mengsukseskan produk kapitalis. Kebutuhan perempuan untuk kaum kapitalis, begitu lah yang terjadi di era 4.0 ini. Kelemahan kaum perempuan ada pada telinganya, apabila mereka dituntun dengan retorika cinta, mereka pasti merasakan kebahagiaan diatas segalanya. Selalu saja perempuan dikatakan lemah, cengeng dan cepat baper, serta paling parah lagi perempuan dianggap dialah penyebab dari reproduksi anak tanpa ikatan suci itu yang menyebabkan kodrat dalam rekontruksi masyarakat perempuan itu dianggap sampah, katakan saja bahwa perempuan itu penyebabnya, kira-kira seperti itu yahh.

Ini suatu pembodohan yang sangat dihinakan, perempuan merasa bahagia jika dilirik kaum laki-laki tanpa mereka sadari laki-laki melirik kalian karena produk kecantikan yang kalian pakai, buat apa cantik kalau nyatanya laki-laki tidak puas dengan 1 wanita, buat apa cantik kalau nyatanya laki-laki pembohong, laki-laki yang sejujurnya yang tidak pernah membohongimu adalah ayahmu. Berhenti bahagia jika itu mengsensarakan kalian. Betapa teraniayanya kaum perempuan ini, lain lagi jika mereka sudah berumah tangga, mereka hanya didomestikkan pada sumur, dapur dan kasur bahkan juga kadang mereka dianggap sebagai pemenuhan seksualitas bahkan istripun bisa menjadi budak. Sifat bodoh jangan dipelihara, seharusnya prinsip ini ditanamkan seorang perempuan. Kebanyakan perempuan hancur karena perasaan, jangan kau gadaikan mutiaramu dengan senjata busuk yang dibungkus dengan kata-kata cinta

Pembodohan namun terasa bahagia. Perempuan yang bodoh adalah ketika dalam keadaan bahagia namun kita tidak tahu bahwa kita di bodohi oleh kecantikan dan lupa akan derajat perempuan. Itulah yang bisa saya defenisikan tentang kebodohan perempuan untuk mempercantik diri namun lupa akan nalar kritisnya. Ingat bahwa tuhan menciptakan khalifah dan di berikan akal untuk menalar. Jangan kotori akal mu dengan kebodohan formalitas kecantikan kapitalis. Jika warna putih di lambangkan dengan kesucian, dan perempuan di lambangkan dengan perasaan, maka saya mengatakan bahwa kita adalah khalifah yang bisa lebih kuat di banding laki-laki dan bisa lebih haram daripada minuman khamar.

Cinta harus berbanding lurus dengan nalar kritis, melawan juga harus menawan. Jangan selalu mau dihinakan dengan perasaan yang mewakili.Bolehkah perempuan bertindak sebagaimana novel yang berjudul AKU LUPA BAHWA AKU PEREMPUAN?, novel ini lepas dari kata pembodohan.

*)Opini ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi Yakusa.Id