10 April 2021

Pentingnya Memiliki Konsep Dalam Berkeluarga

Gambar Ilustrasi (Republika.co.id)

Oleh : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)
Editor : Taufik

Yang dimaksud dengan konsep adalah penyusunan utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat dalam pemikiran manusia. Atau juga bisa disimpulkan konsep adalah suatu ide atau gagasan yang bermakna dan sempurna yang memiliki fungsi agar tercapainya suatu tujuan. Sehingga dalam pencapaian tersebut lebih testruktur dan sebagai acuan.

Dalam rumah tangga, konsep berkeluargapun hendaknya menjadi hal yang penting sebelum terucapkannya akad. Berkeluarga yang sesungguhnya adalah membangun rumah tangga sesuai dengan yang telah diatur oleh syariat islam. Salah satunya terdapat dalam hadist bukhori yang sering diucapkan oleh orang-orang yang menghadiri pernikahan lalu mendoakan pasangan dengan berdoa agar rumah tangga mereka sakinah mawaddah warahmah. Dalam rumah tangga yang sesungguhnya suami dan istri saling melengkapi dan mewujudkan visi misi pernikahan dimana dari proses menuju pernikahan hingga membangun rumah tangga yang selalu mencari ridho Allah dalam setiap impian. Rumah tangga yang dibangun tidak sekedar sebatas rumah tangga dunia tetapi tetap membangun rumah tangga di akhirat sehingga tidak hanya seatap di dunia tetapi juga seatap di akhirat.

Rumah tangga yang dibangun dari proses di tahap awal selalu memperhatikan setiap langkah agar tidak keluar dari koridor syariat yang telah di tentukan. Keluarga yang dibangun setiap hari semakin menjadikan keluarga lebih dekat dengan Allah, terdidiknya anak-anak yang selalu menomorsatukan agama, berbakti dengan orangtuanya, isi rumah dan penghuninya menggambarkan akhlakul karimah dan berjiwa alquran. Keluarga yang bukan hanya sekedar bermanfaat diruang lingkup rumah saja tetapi selalu menebarkan kebaikan untuk lingkungan, sosial, bangsa dan agama. Dan keluarga yang berpegang teguh dengan prinsip, visi misi keluarga yang semua itu bermuara kepada Allah. Keluarga yang tujuan pernikahannya jelas contoh : mendapatkan dan melangsungkan keturunan. Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan, menumbuhkan kesungguhan dalam mengemban tanggungjawab dan memenuhi kewajiban serta mendapatkan hak, bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah yang halal. Sebagai sarana untuk beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Menjadi ketenangan kecintaan dalam jiwa suami dan istri.

Salah satu ciri keluarga yang memiliki konsep yakni suami istri dalam setiap tindakan atau kebijakan yang akan diambil untuk kebaikan rumah tangga yang dibangun selalu berdiskusi. Sehingga diskusi menjadi salah satu adat keluarga. Dan setiap pasangan suami istri pasti memiliki tujuan atau konsep keluarga yang hendak di wujudkan. Jadi keluarga yang dibangunpun selalu memiliki list atau daftar-daftar rencana. Dengan adanya rencana masa depan ini tentu akan lebih mudah mengarahkan rumah tangga seperti apa yang hendak di bangun. Misi pernikahan lebih terencana dan terkonsep. Dalam perencanaan ini antara suami dan istri saling terbuka dalam menyampaikan aspirasinya kemudian di pertimbangkan setiap opsi yang di ajukan. Pertimbangan jangka panjang maupun jangka pendek sehingga di akhirnya mendapatkan sebuah keputusan dan bisa mengambil kebijakan untuk kebaikan rumah tangga. Contoh lain rumah tangga yang memiliki konsep yang terencana adalah apakah ingin membangun rumah tangga yang mandiri artinya pasangan ini jika memiliki keinginan untuk berumah tangga secara mandiri maka ia akan diam di rumah sendiri atau tidak lagi tinggal bersama orangtua baik itu dari pihak suami maupun istri. Bagaimana sikap istri untuk mensuport suami dalam berbakti kepada ibunya? Kemudian perencanaan tentang program anak, selama dalam kandungan bagaimana cara mendidik cabang bayI? bagaimana konsep mendidik anak? apakah lulus SD langsung di pondokkan? berapa jumlah keturunan? apakah di batasi atau berapa lama jarak usia antara anak pertama dan kedua dan selanjutnya. Sampai dimana rumah tangga yang hendak di bangun? sebatas dunia atau dunia akhirat bersama. Menyusun target jangka pendek dan jangka panjang serta cara dalam mewujudkan setiap butir target. Misal target lima tahun pernikahan sudah mampu mendirikan taman baca alquran di komplek perumahan.

Jika konsep keluarga bisa direalisasikan setiap keluarga maka itu akan memberikan pertumbuhan yang baik untuk negara dan kejayaan agama. Contoh, jika di satu kabupaten memiliki 100 orang keluarga yang memiliki konsep “ 10 tahun pernikahan harus bisa membuka lapangan pekerjaan atau komunitas ibu-ibu di perumahan untuk menghasilkan karya yang bisa membantu perekonomian keluarganya”. Dan keluarga ini tersebar secara merata di satu kabupaten, tentunya hal ini akan meningkatkan taraf perekonomian daerah menuju lebih baik. Karena banyaknya SDM yang aktif bukan pasif. Dan bisa dibayangkan jika setiap kabupaten di Indonesia memiliki tujuan berkeluarga yang terencana, hal ini tentunya bisa mendongkrak Indonesia dari keterbelakangan pemanfataan sumber daya manusianya.

Dalam hal agama, jika satu daerah memiliki 50 keluarga yang memiliki tujuan untuk mendirikan tahfiz quran, atau taman baca Al-Qur'an. Hal ini juga akan berpengaruh dan terciptalah generasi yang   qurani, generasi yang berakhlakul karimah, generasi yang mempunyai semangat juang tinggi. Sehingga bukan dari segi agama saja yang meningkat tetapi juga berpengaruh pada tatanan masyarakat, hukum, dan pemerintah negara. Bisa memberikan sinyal kemajuan dan kebaikan.

Dengan adanya konsep dalam keluarga maka akan mudah tercapai pula fungsi konsep baik secara kognitif, evaluative, dan operasional tercapai. Dan rumah tangga yang di bangun bukan sekedar menjalankan rutinitas hukum alam, dimana tugas istri di rumah hanya sebatas memberikan pelayanan terhadap suami, mengurus administrasi keluarga, mengurus keluarga dan tugas suami hanya sebatas pergi pagi untuk mencari rezeki penyambung hidup dan pulang sore atau bahkan sampai malam. Kemudian istrihat, bertahun-tahun hanya menjalankan rutinitas tanpa ada mencapai target keluarga yang lebih penting, tanpa membuat rancangan untuk hidup bukan sekedar hidup, rancangan untuk berkeluarga bukan sekedar berkeluarga. Sehingga dalam keluargapun akan terasa hambar, hanya diwarnai dengan pertengkaran biduk rumah tangga, tanpa ada target untuk menjadikan keluarga yang produktif dilingkung, sosial, negara dan agama. Tanpa berniat untuk mencari ridho Allah lebih banyak lagi.

Seperti yang dikatakan Buya Hamka “ Jika hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja ” jadi untuk saudara yang hendak berkeluarga, bangunlah keluarga yang berkonsep. Dan untuk yang sudah terlanjur berkeluarga hanya mungkin saja konsepnya belum tergambar dan terancang dengan jelas, tidak ada kata terlembat untuk membenah. Dalam hidup yang serba singkat ini, mari kita hidupkan hidup sehidup-hidupnya kehidupan agar hidup tidak sekedar hidup.