11 April 2021

Penyamar Itu Kapten Pierre Andries Tendean

Karya : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)
Editor : Taufik

Darah Perancis masih mengalir dalam nadimu
Tapi bukan alasan untuk menciutkan kegigihan untuk mengabdi pada pertiwi
Keputusan hidupmu banyak mengundang tanya
Seorang pemuda bergelimang harta, kenapa masih ingin terjun di medan laga?
Pemuda yang tidak asli berdarahkan Indonesia, kenapa masih ingin membela?

Tanggapanmu cukup membuat banyak mulut membungkam
Pertiwi sudah terlalu banyak memberi, lantas apa yang telah aku beri?
Lalu kau katakan lagi, jangan menvonis terlalu miris
Adakah jaminan di antara cintamu lebih besar dari pada cintaku untuk pertiwi?

Dan gelar pahlawan revolusi adalah bukti
Kau tidak pernah mendustai,kesetiaanmu sebagai ajudan telah teruji

Tidak ada lagi sentuhan pada senapanmu
Tidak ada lagi tawamu mengisi ruang kosong menghibur putri seorang Jenderal
Tidak ada lagi genggaman yang meninggalkan jejak di panji yang telah berkibar
Cerita memaksa usai dengan usia yang belumlah sempat menua
Kisah berakhir di sebuah lubang maut yang penuh penghianatan
Fajar itu saksi terakhir melihat keberanian menjadi tameng atas bukti kesetiaan

Kau tidak pulang
Begitukah akhir ceritamu wahai Kapten?
Di rumah, bunda menunggumu dengan mengelus dada
Kesatria tidak pernah pulang ke istana hingga bunda bertambah usia
Sampai angin semilir berkabar
Hingga terdengar dari kejauhan sayup “gugur bunga” mengalun pilu

Wahai Kapten, samaranmu mampu menorehkan sejarah
Meskipun sejarah yang berdarah
Cintamu untuk negara tidak pernah berpura-pura
Kami ingin bercermin, memiliki hati seperti hatimu
Satrianya sesatria dirimu wahai Kapten.
Meski terkadang waktu menyayat pilu saat mengintip sejarah hidup sang abdi negeri
Menyisakan pedih di tinggal pahlawan di medan bakti

Wahai Kapten Pierre Andries Tendean
Namamu akan tetap terpatri
Tidak akan hilang sampai terkikis mati