11 April 2021

Perempuan dalam Balutan Patriarki

Penulis : Harfina Febrianti Hafid (Kader HMI Cabang Gowa Raya Komisariat Sains dan Teknologi)

Isu yang tidak ada habisnya sampai saat ini diperbincangkan yakni Kesetaraan Gender. Pandangan masyarakat membuat kehadiran perempuan sering teraibakan secara turun-temurun sehingga pembagian peran memihak pada satu jenis kelamin saja, nah ketidakadilan itulah yang membuat perempuan terbatas ruang geraknya, berbeda dengan laki-laki yang produktif tampil dimana saja.

Sejak itu juga feminisme muncul untuk mengetuk hak perempuan disetarakan dengan laki-laki kemudian berkembang pesat. Secara tidak langsung kita mendapatkan hal serupa yakni Emansipasi Wanita, yang dimana perjuangan R.A Kartini terhadap perempuan dan laki-laki harus setara dibidang pendidikan karena perempuan juga bisa bersekolah setinggi mungkin, tidak sekedar didapur apalagi dikasur.

Kesetaraan gender ini mulai masuk ke lingkup keluarga karena keluarga adalah unit sosial terkecil dimna kedudukan perempuan sering dilemahkan. Sudah seharusnya kita menuntut peran setara dengan laki-laki sebab Kodrat dan Gender itu berbeda.

Kodrat perempuan tidak bisa dipertukarkan, seperti mengandung, melahirkan. Contohnya guru yang hamil pergi mengajar disekolah, nah disini kalian sudah paham bahwa perempuan bisa menjalankan kodratnya sekaligus berperan dimasyarakat.

Namun kesetaraan ini masih terhalang di Indonesia yang menganut patriarki. Patriarki ialah menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, dimana laki-laki berada pada tingkat pertama dan perempuan berada pada tingkat kedua. Kemudian laki-laki selalu dipandang istemewa dibanding perempuan karena otoritasnya, nah disini perempuan selalu terjebak menjalankan perannya dalam sistem patriarki.

Melihat peran perempuan melalui rumah tangga ternyata cukup rumit. Setelah menikah ada perempuan yang tidak dibiarkan bekerja, dilarang keluar rumah, tidak sampai disitu saja bahkan ada yang sering mengalami KDRT tetapi ada juga perempuan yang beruntung memiliki keluarga pasangan yang bisa menerima apa adanya.

Dinilai dari ujung kaki hingga ujung rambut serta seberapa banyak bumbu didapur yang kamu tau, tidak peduli bagaimana perasaan perempun jika telah ikut dengan suaminya ia seperti kehilangan haknya. Hingga posisi perempuan dalam rumah tangga sudah cukup tergambar. Deskriminasi gender ini biasanya tidak pernah menguntungkan istri, nah seringkali kalimat yang muncul ialah “istri milik suami” dan “suami milik ibunya” sehingga akhirnya pihak suami yang berkuasa atas hidup perempuan.

Padahal kalimat itu luar biasa apabila suami dan istri berkarir, keduanya pasti mendapat tanggapan yang berbeda. Suami yang bekerja dianggap pekerja keras sedangkan istri yang bekerja akan ditanyakan bagaimana mengurus suami,anak dan rumahnya. Nah pandangan negatif itu yang melupakan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang lebih luas dibanding laki-laki. Dia bekerja mencakup lebih banyak tugas, sehingga bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dan melayani suami, kemudian bersiap ke kantor lalu pulang kerumah menjadi istri sekaligus ibu buat anaknya.

Keseteraan gender sebaiknya disambut hangat pada sisem yang paham patriarki karena belajar masih menyediakan ruang perubahan sampai saat ini, bahkan peran setara tidak menjadikan perempuan lupa peran kodratinya.

Perempuan hanya membutuhkan support di tempat dia berada, termasuk dalam rumah tangga agar bisa terlepas dari perasaan tertindas, sehingga keseimbangan hidup harus terawat karena istri adalah jantung bagi penghuni rumahnya.

*Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh penulis