11 April 2021

Perempuan Manifestasi Tuhan yang Terindah

Penulis: Fitria Ramadani (Wasekbid internal Kohati Komisariat Pertanian Unja)

Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat dimuliakan dan merupakan manifestasi Tuhan yang paling indah, karena pada dirinya terdapat sifat pengasih dan penyayang sesuai fitrah nya. Bersyukurlah kita yang hidup dimasa sekarang yang memuliakan seorang perempuan.

Kedudukan perempuan masa sekarang jauh berbeda jika kita merefleksikannya pada masa lalu perempuan sama sekali tidak dianggap, diposisikan sebagai manusia paling hina, objek pemuas nafsu laki-laki, tidak berhak untuk mendapatkan pendidikan bahkan dianggap sebagai aib. Namun tidak dengan sekarang. Untuk mencapai titik ini tidak semata-mata tanpa perjuangan dari manusia terdahulu.

Di Indonesia, pada zaman sebelum merdeka tonggak perjuangan perempuan dimulai dengan munculnya tokoh gerakan perempuan pribumi seperti Raden Ajeng Kartini dari Pulau Jawa, Laksamana Malahayati dari Aceh, Cut Nyak Dien dari Aceh, Christina Martha Tiahahu dari Maluku, Nyi Ageng Serang dari Banten, Cut Meutia dari Aceh, Dewi Sartika dari Jawa Barat, dan masih banyak yang lain, ini merupakan sebuah bukti akan suatu realitas bahwa pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia kaum perempuan turut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Inilah yang merupakan cikal bakal gerakan perempuan Indonesia dalam menjawab dominasi patriarki akan realitas kehidupan saat itu dan pada khususnya memperjuangkan hak-hak perempuan sehingga dimasa sekarang perempuan berhak bersuara, mendapatkan pendidikan dan lain-lain. Dan seharusnya melanjutkan perjuangan itu, namun sebelum itu sebagai perempuan hendaklah memahami peranannya agar jelas arah dan tujuan dari pergerakannya.

Peran seorang Perempuan tak terlepas dari 4 hal, yakni : sebagai putri, istri, ibu dan anggota masyarakat. Kemudian jika di persempit lagi ada 2 peran utama yang harus dimainkan perempuan yakni peran domestik dan publik. Mengenai peran domestik itu relevansi nya pada bagaimana seorang perempuan menjadi putri, istri dan ibu yang baik. Sedangkan dalam peran publik relevansi nya yaitu mengenai bagaimana peran Perempuan sebagai anggota masyarakat.

Perempuan memiliki Multiperan. Dan ia dituntut mampu memainkan peran tersebut dengan sebaik-baiknya, yaitu menjadi seorang istri/ibu yang baik untuk keluarga nya dan mampu berperan aktif diranah publik.

Dalam rangka memaknai peran strategis tersebut, maka perempuan diharuskan untuk menguasai ilmu agama, IPTEK serta keterampilan yang tinggi dengan senantiasa menyadari fitrahnya. Untuk memainkan kedua peran tersebut secara seimbang, perempuan harus mengetahui dampak dari menjalankan 2 peran itu secara bersamaan, yakni sebagai ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Perempuan hendaklah memiliki kemampuan intelektual dan manajerial yang baik kemudian mengimplementasikan nya dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan peranan tersebut dapat tercapai.

Namun, sangat disayangkan dimasa sekarang masih ada perempuan yang terbelenggu dalam budaya patriarki dengan paradigma bahwa “percuma perempuan berpendidikan tinggi jika kelak juga akan bertugas di kasur, dapur, dan sumur”. Padahal pada kenyataannya peran perempuan jauh lebih luas dari itu. Oleh karena itu, sebagai perempuan yang selangkah lebih maju dari perempuan diluar sana yang mungkin belum sadar mengenai hakikat peran dan fungsi sebagai perempuan untuk menyampaikan pemahaman mengenai hal itu. Agar eksistensi dan esensi sebagai perempuan yang memiliki intelektual, kemandirian, jiwa kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang baik dapat terealisasikan.

Jadilah perempuan pencerah dunia, yaitu perempuan yang bukan hanya mampu memberdayakan dirinya saja, tapi ia mampu berbuat sesuatu untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain.

*Tulisan ini sudah pernah tayang di kanal jamberita.com