3 Agustus 2021

Perempuan penenun kisah (part-I)

Oleh : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)
Editor : Hasiyah

Bintang-gemintang bertaburan di setiap sudut langit yang kosong, purnama dengan gagahnya bertengger di bawah kolong-kolong langit, semilir angin berhembus, membuat malam terasa lebih menyentuh pori-pori kulit. Suara hewan malam bernyanyi saling bersahutan, mata memandang terhampar sawah nan luas membentang.

Tampaknya malam cukup bersahabat, tetapi berbeda dengan suasana hati Khadijah Asyifa. Dibawah temaram lampu teras rumahnya bertemankan dengan sejuta tanda tanya tampak Khadijah termenung jauh meratap. Tanda tanya kapan dirinya akan menerima kenyataan dengan seutuhnya. Masih merasa sesak diantara kesunyian.

Meskipun suatu saat dia ikhlas menjalani tetapi di lain waktu keiklasannya melebur. Jam sudah semakin meninggi, kedua orang tuanya mungkin sudah jauh bersauh terlelap.

Dengan kesepian malam Khadijah memutar kisah lalu yang terlalu kusut, hingga sampai detik ia termanggu, belum mampu bertemu dengan jalan penyelesaian penuh keikhlasan. Ya, perjalanan hidup yang penuh kerikil dan sandungan. Jika ingatan selalu menyeretnya ke hari lalu, hal itu membuka lara yang lukanya masih menganga.

Sepertinya setiap malam akan selalu membasuh luka dengan air mata. Semua berawal dari Khadijah menjadi seorang mahasiswi sampai menjadi aktivis di organisasi. Tiga bulan yang lalu, disaat Khadijah baru bertamu dalam sebuah panji, kedatangannya disambut dengan suka cita. Semua tahu, untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam bangunan rumah yang besar dan cukup megah terpandang, tidak semudah yang dibayang.

Setiap perjalanan banyak rintangan, pengorbanan dan penuh perjuangan. Saling berpacu untuk menampilkan yang terbaik dari peserta yang terdaftar dan mengikuti pelatihan pengkaderan berjumlah 149 orang. Khadijah mampu menyingkir 99 orang untuk meletakkan namanya dalam keanggotaan.

Hari itu Khadijah mulai memperkenalkan diri kepada komisariat sebagai ranah dan payung untuk memberikan abdi kepada organisasi. Dalam pelatihan pengkaderan, Khadijah mengambil pelatihan di komisariat lain, karena melihat jadwal pelatihannya banyak bertepatan dengan hari libur.

Pelatihan itu sendiri berlangsung selama satu pekan. Karena khadijah ikut pelatihan di komisariat yang berbeda dan setelah di bai’at ia harus kembali ke komisariat fakultas, maka Khadijah menjadi tamu yang benar-benar baru. Dimana kanda yundanya merupakan orang yang sama sekali belum pernah dijumpai.

Tentunya Khadijah harus beradaptasi lagi, tetapi untung saja ada kanda Zaky. Ia sudah lama berproses, Khadijah cukup mengenal kanda Zaky karena mereka satu paguyuban. Bahkan Zaky lah yang memperkenalkan organisasi ini kepada Khadijah. Bahkan saat menghadiri acara rutinan komisariat Zaky yang membawa Khadijah, mereka pergi bersama.

Sehingga saat mengetuk pintu untuk masuk ke halaqah semua pandangan jatuh kepada Khadijah. Ya,… Khadijah seorang dinda yang baru hendak berproses. Gadis yang memiliki impian menjadi muslimah akademis, intelektual, aktivis, motivator dan inspirasi muda, berjiwa energik.

Dengan mendudukan diri di halaqah, selang beberapa menit kajianpun dimulai. Setelah kajian selesai, Zaky langsung memperkenalkan Khadijah kepada kanda yunda lainnya.

“Assalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh kanda yunda, izin memperkenalkan dinda kita. Dia hendak berproses di bawah panji yang sama”

Lantas seorang kabid mengangkat suara “Oh, ada dinda baru rupanya. Memang belum pernah keliatan, dan bahkan waktu pelatihan juga nggak liat”
“Kasihlah dinda kita memperkenalkan diri dulu Rahman. Jangan main gass aja, langsung ngerocos nanya”
“Hehehe, siap kanda Fauzil. Silahkan dinda memperkenalkan diri”
“Baik, terimakasih kanda.. Sebelumnya Khadijah buka dengan salam terlebih dahulu. Assalamu’alaikum, izin memperkenalkan diri kanda yunda. Nama Khadijah Asyifa, asal Riau”
“Masyaallah, jadi merantau di Jogja lah ya dinda” sambung pak kabid yang bernama lengkap Faturrahman.

Bincang-bincang kecil terus berlanjut hingga waktu menunjukkan pukul 21.00. Karena Khadijah dan Zaky hendak menghadiri pelantikan pengurus paguyuban di salah satu hotel di Jogja, mereka undur diri untuk pulang terlebih dahulu. Khadijah dan Zaky meneruskan rute ke titik acara. Setelah 30 menit dalam perjalanan, akhirnya tempat yang dituju sudah terlihat.

Khadijah dan Zaky memasuki bangunan yang megah,lantas mencari aula pertemuan. Dan memilih kursi yang telah disediakan. Acara baru saja dimulai, beberapa kata sambutan telah terlewatkan.

Tiba-tiba suara handphone Khadijah berdering. Melihat ada pesan masuk dari pak kabid di group organisasi. Dia Rahman, seorang mahasiswa semester akhir sedang menghitung waktu wisuda akan digelarkan.

“Terimakasih kepada kanda, yunda, telah meluangkan waktu untuk hadir di acara rutin perbulan kita. Dan selamat datang untung dinda-dinda yang hendak berproses”

Khadijah memberanikan diri untuk nimbrung dalam percakapan.
“Terimakasih kembali untuk kanda yunda karena sudah menerima kami, semoga bisa berproses dengan baik dan bisa mengabdi untuk panji ini”
“Selamat berproses dinda”
“Siap kanda”

Setelah group sepi, tiba-tiba ada pesan masuk. Pesan chat personal.
“Assalamu’alaikum dinda. Maaf nama kepanjangan dinda tadi siapa ya? kanda lupa, mau dimasukkan keadminitrasi keanggotaan komisariat kita”
“Khadijah Asyifa kanda”
“Baik dinda, selamat berproses”
“Siap kanda, Terimakasih”

Chatingan terus berlanjut, kanda Rahman terus bertanya seputar prinsip-prinsip hidup Khadijah, cit-cita Khadijah. Khadijah fikir itu adalah hal yang lumrah mengingat dia seorang kabid pemberdayaan anggota. Hingga tiga hari kemudian, dikamar kos Khadijah, Khadijah kembali mendapat pesan.

Pesan yang cukup menggoncangkan hati dan membebani pikiran Khadijah. Rahman ingin bertamu ke rumah Khadijah. Khadijah memang sudah siap untuk menikah saat duduk di bangku perkuliahan. Tetapi yang membuat pilihan menjadi berat disaat Khadijah harus memastikan siapa yang hendak bertamu.

Karena Khadijah sendiri tidak ingin kedua orangtuanya kecewa sebab laki-laki yang tidak bertanggung jawab telah melukai perasaan putri satu-satunya. Awalnya Khadijah berusaha mencari alasan dengan mengatakan bahwa ia belum pernah membincangkan hal ini dengan orangtuanya.

Tetapi Rahman terus mencari kepercayaan Khadijah, ia mengatakan bahwa ia lah yang akan langsung berbicara dengan kedua orangtua Khadijah. Berusaha mencari jalan keluar Khadijah meminta waktu untuk berfikir selama 2 minggu. Dan selama dua minggu itu pula mereka harus sama-sama istikharah.