24 Juni 2021

Perempuan penenun kisah part-II

Karya : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)
Editor : Hasiyah

Hari demi hari berlalu, keputusan harus dijatuhkan. Dengan mengucap bismillah dan kemantapan hati Khadijah menerima ta’aruf yang datang dari Rahman. Rahman dikenal Khadijah sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, cerdas, mandiri, senang membantu orang lain.

Dan selama proses ta’aruf, Khadijah senang dengan setiap jawaban yang dilontarkan Rahman. Karena Khadijah merasa mereka seprinsip, banyak visi misi yang memiliki tujuan sama.

Dan yang paling Khadijah senangi, Rahman tidak akan membatasi kegiatannya sebagai aktivis selama Khadijah ingat akan kewajibannya yang paling utama yakni sebagai istri dan mahasiswi. Selama proses itu, hati Khadijah steril dari perasaan yang mengikat. Ia menerima sebab mengikuti ketenangan hati tanpa ada rasa suka sedikitpun.

Dengan segala pertimbangan dan ikhtiar, Khadijah dalam mencari siapa sebenarnya sosok Rahman dalam waktu dua minggu tersebut, Khadijah memantapkan hati untuk menetapkan pilihan. Kedua orang tuanya telah mengetahui bahwa akan ada laki-laki yang hendak bertamu.

Orang tua Khadijah sudah siap menunggu, dan Khadijah pun sedang menanti kabar dari Rahman, kapan hendak menemui orang tua Khadijah secara langsung. Di hati Khadijah sudah mulai tumbuh benih-benih cinta. Sudah mulai terenyuh dan menaruh harap yang terlalu berlebih.

Tanpa pernah berfikir lembah kecewa sedang dia garap. Hingga kabar datang memporak-porandakan hati Khadijah. Rahman mengirim kabar bahwa ia akan melanjutkan pendidikan ke gurun pasir bagian Timur. Yakni di Al-Azhar, Mesir.

Sementara Rahman tidak bisa menghalalkan Khadijah dalam waktu dekat, mengingat status Khadijah seorang mahasiswi. Dan Rahman sendiri hendak pergi ke luar negeri, bagaimana dengan nasib rumah tangga yang hendak dibangun. Tetapi Rahman ingin prosesnya tetap berjalan.

Air terjun cukup deras mengalir dari lembayung mata Khadijah. Hari lalu tidak ada keputusan dari Rahman bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri. Khadijah tidak siap untuk menunggu, takut mereka sama-sama tergelincir ke hal-hal yang mendekati zina, tetapi juga tidak mungkin akan memaksakan keadaan.

Berita itu, tamparan untuk Khadijah karena telah meletakkan harapan kepada ciptaan Allah. Lama pesan itu tidak terbalas, dengan segenap raga mengumpulkan serpihan tenaga, menjilid kepingan hati untuk angkat bicara.

Khadijah sudah siap melayangkan pesan singkat itu.
“Baiklah, hati-hati di rantauan. Sesuai dengan prinsip Khadijah, Khadijah tidak ingin proses yang terlalu lama. Jika belum bisa menghalalkan maka senja ini menjadi saksi saya meninggalkan antum. Memberhentikan semua proses, dan mulai detik ini juga saya telah mengganggap antum adalah kakanda saya di organisasi. Dan anggaplah saya juga dinda kanda di organisasi. Karena kita berada dibawah payungan panji yang sama”

Kalimat yang seolah-olah semua baik-baik saja, kalimat yang menggambarkan bahwa Khadijah adalah perempuan yang tegar. Tetapi tidak pada kenyataannya. Allah telah menyaksikan dan dinding kamar menjadi saksi bisu, bagaimana meremuknya hati dan harapan gadis itu, bagaimana melayunya impian yang telah dipupuk terlalu lama.

Selama Khadijah menghirup udara di Bumi, senja itulah yang paling menikam. Bukan merana karena ditinggalkan kekasih, tetapi karena hancurnya harapan Khadijah untuk mengumpulkan bekal menuju negeri akhirat, serta menghancurkan hati kedua orang tua Khadijah karena mereka pasti tau gadis kecilnya sedang merawat luka.