10 April 2021

Perempuan Penenun Kisah (Part-III)

Karya : Survia Eva Putriani (Kohati Cabang Pekanbaru Komisariat Super)
Editor : Hasiyah

Teman sekelas, beberapa sahabat Khadijah sudah mengetahui bahwa Khadijah hendak dilamar oleh abang tingkatnya sendiri. Bahkan berita telah menjadi asumsi publik di jurusan angkatan Khadijah.

Teman sekelasnya sering mencandai, kapan undangan akan menyebar. Untuk menutupi semua sandungan yang Khadijah lalui, ia hanya mampu mengatakan “diwaktu yang tepat, segera akan menyebar. Lihat takdir Tuhan kedepannya” ditutup dengan senyum yang meyakinkan.

Setiap harus berkecimpung di kegiatan organisasi,Khadijah tampak tegar dengan gamis yang panjang dan cadar penutup wajahnya. Padahal jauh di lubuk hati terdalam ada yang sedang diporak-porandakan. Karena panji itu mengingatkan Khadijah, bagaimana ia bertemu dan berkisah dengan kisah yang tidak pernah diharapkan.

Hanya saja, pribadi Khadijah yang menuntut ia harus menjadi muslimah yang tegar, meskipun senyum yang diukir tidak sama dengan nasib yang terukir. Tetap menjadi muslimah yang menginspirasi, seterjal apapun takdir hidup Khadijah tetap harus mengukir prestasi.

Bahkan tentang perasaan Khadijah yang dipendamnya pun tidak di ketahui oleh Rahman, Khadijah hanya ingin menjaga bahwa dia adalah wanita yang tidak mudah memberikan hati kepada yang belum pasti. Tidak ingin terlena dengan rasa yang berkelana.

Rahman sempat mengirim pesan ke Khadijah, sebelum keberangkatannya tidak mau kah Khadijah bertemu dengan dia?. Tentu tawaran itu langsung di tolak Khadijah, karena dia tidak ingin merawat luka yang terlalu lama.

Tapi, satu minggu sebelum keberangkatan Rahman, Khadijah terpaksa pergi ke acara wisudanya. Karena Khadijah di minta hadir oleh ketua komisariat di acara wisuda kabid. Dengan berat hati, Khadijah memenuhi undangan ketua komisariat.

Itu adalah pertemuan pertama setelah Khadijah mengambil keputusan yang berat. Rahman melihat kedatangan seorang gadis dengan khimar panjang dan gamis yang terjulur semakin menambahkan kesan keanggunan.
“Masyaallah, dinda datang ke wisuda kanda. Dari tadi kanda menunggu, yang lain sudah pada pulang. Kenapa dinda lambat datangnya”
“Iya, baru pulang ngampus”
“Bagaimana dengan keadaan dinda? setelah hari itu kita putus komunikasi, kita hanya sebatas penonton story”
“Alhamdulillah, seperti yang kanda lihat. Khadijah baik-baik saja. Ini janji Khadijah hari lalu. Hari ini sudah Khadijah tunaikan” sambil menyerahkan sebuah bingkisan ke Rahman.
“Terimakasih dinda, di depan itu keluarga kanda semua. Dinda nggak mau menghampiri mereka”
“Lain waktu saja. Khadijah pamit undur diri”
“Dinda mau pulang ? cepat sekali”
“Ada yang hendak di urus. Khadijah pamit, Assalamualaikum”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” Rahman mengantar kepergian Khadijah dengan pandangan.

Dia tau, gadis itu masih menyimpan kecewa dihatinya. Karena sedikit banyak Rahman sudah mengetahui perangai Khadijah.